Cerita di Balik Nama Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Soebardjo
Senin, 02 Agustus 2021 - 08:59 WIB
loading...
A
A
A
Dikutip dar Wikipedia, nama Karno diambil dari seorang panglima perang dalam kisah Bharata Yudha yakni "Karna". Nama "Karna" menjadi "Karno" karena dalam bahasa Jawa huruf "a" berubah menjadi "o", sedangkan awalan "su" memiliki arti "baik".
Saat menjadi presiden, ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno. Alasannya, nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (Belanda). Namun, Bung Karno tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut tercantum dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah. Selain itu, tidak mudah mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun.
Sama dengan Bung Karno, Bung Hatta juga memiliki nama lahir yang berbeda dengan nama yang kini dikenal publik. Bung Hatta yang lahir 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, pada mulanya diberi nama Mohammad Athar oleh orang tuanya, Muhammad Djamil dan Siti Saleha.
Athar berasal dari bahasa Arab, yang berarti harum. Namun, karena orang-orang tua dan orang di lingkungan tempat tinggalnya sulit menyebutkan nama Athar, sehari-hari pria yang juga wakil presiden pertama RI tersebut dipanggil 'Atta'. Lama-kelamaan, sapaan itu berkembang menjadi 'Hatta', seperti yang kita kenal saat ini.
Perubahan nama juga dialami Achmad Soebardjo Djojoadisurjo. Saat lahir di Telukjambe, Karawang, 23 Maret 1896, anak dari pasangan Teuku Muhammad Yusuf (keturunan bangsawan Aceh)-Wardinah (keturunan Jawa-Bugis) ini diberi nama Teuku Abdul Manaf.
Saat menjadi presiden, ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno. Alasannya, nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (Belanda). Namun, Bung Karno tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut tercantum dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah. Selain itu, tidak mudah mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun.
Sama dengan Bung Karno, Bung Hatta juga memiliki nama lahir yang berbeda dengan nama yang kini dikenal publik. Bung Hatta yang lahir 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, pada mulanya diberi nama Mohammad Athar oleh orang tuanya, Muhammad Djamil dan Siti Saleha.
Athar berasal dari bahasa Arab, yang berarti harum. Namun, karena orang-orang tua dan orang di lingkungan tempat tinggalnya sulit menyebutkan nama Athar, sehari-hari pria yang juga wakil presiden pertama RI tersebut dipanggil 'Atta'. Lama-kelamaan, sapaan itu berkembang menjadi 'Hatta', seperti yang kita kenal saat ini.
Perubahan nama juga dialami Achmad Soebardjo Djojoadisurjo. Saat lahir di Telukjambe, Karawang, 23 Maret 1896, anak dari pasangan Teuku Muhammad Yusuf (keturunan bangsawan Aceh)-Wardinah (keturunan Jawa-Bugis) ini diberi nama Teuku Abdul Manaf.
Lihat Juga :