Pantau dan Bantu Pasien Isolasi Mandiri
Senin, 12 Juli 2021 - 06:31 WIB
loading...
A
A
A
Terkait kelemahan tersebut dia meminta pemerintah mencari jalan keluar dengan membuat cara yang lebih ringkas dan mudah diakses oleh masyarakat secara baik dari sisi biaya dan waktu. "Bisa jadi banyak yang membutuhkan layanan ini namun terbentur tahapan," katanya.
Setelah telemedicine, Netty mendorong pemerintah pusat dan daerah agar menggiatkan pendataan warga yang melakukan isolasi mandiri di rumah dan menyiagakan tenaga kesehatan untuk "jemput bola". "Pemantauan ke rumah penting sekali dilakukan karena kasua warga meninggal dunia saat isoman banyak terjadi," tandasnya.
Ketua Pelaksana Harian Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Mahesa Paranadipa Maikel, memberikan saran kepada pasien yang akan menjalani isolasi mandiri di rumah. Apa sarannya? jika pasien tidak bergejala maka hanya perlu memastikan makan minum yang bergizi dan sehat selama masa isoman. Ruangan dan area aktivitas terpisah antara pasien isoman dan anggota keluarga yang sehat.
"Jika bergejala ringan sampai berat segera konsultasikan dengan dokter karena harus mendapat pengobatan dan perawatan," ujarmya saat dihubungi KORAN SINDO kemarin.
Dalam hal konsumsi obat-obatan, yang dikonsumsi harus sesuai anjuran dan resep dokter. Jangan mengonsumsi sesuatu berdasarkan informasi “katanya”. "Interaksi obat akan memengaruhi reaksi di dalam tubuh. Obat yang diminum tidak sesuai anjuran dan resep dokter dikhawatirkan akan menimbulkan masalah kesehatan lain," katanya mengingatkan.
Terkait mutrisi dan gizi, Mahesa memgatakan makanan dan minuman harus mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh. Jangan berlebihan mengonsumsi makanan minuman karena akan dieksresi atau dikeluarkan oleh tubuh."Sesuaikan dengan aktivitas selama isoman. Jika selama isoman tidak banyak melakukan aktivitas maka asupan tidak perlu berlebihan," imbuhnya.
Selanjutnya , olahraga di dalam rumah juga harus tetap dilakukan. Dia meminta ahar pasien terkena matahari pagi 15-30 menit sehari namun harus mempertimbangkan interaksi dengan orang lain yang sehat.
Mengenai pasien isoman yang mengalami perburukan khususnya sesak, menurut Mahesa harus segera mendapat bantuan oksigen sambil terus dipantau saturasi oksigen melalui alat oksimetri. Jika belum mendapat rumah sakit, pasien bisa melakukan gerakan “Proning” yang tujuannya agar asupan oksigen bisa lebih baik. "Pemberian obat steroid dalam dilakukan namun tetap dalam anjuran dan pengawasan dokter," tandasnya.
Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhillah mengingatkan bahwa ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pasien saat menjalani isoman. Pertama, pasien bersangkutan harus melapor ke RT, RW, dan kelurahan agar datanya masuk ke puskesmas. Setelah didata nanti akan ada pantauan dan kunjungan atau SMS/WhatsApp dari petugas puskesmas.
"Jika sudah melapor ke puskesmas, nanti akan diberikan petunjuk soal lvitamin dan obat apa yqng bisa dikonsumsi," ujarnya saat dihubungi kemarin.
Kedua, pasien isoman perlu menjaga kebugaran diri, salah satu caranya yaitu makan yang cukup. Menurut dia, walau merasakan batuk , pilek dan flu, atau tidak nafsu makan, pasien harus tetap menjaga pola makan. Makan ini penting agar kita punya pertahanan baik terhadap virus.
Selain itu kondisi badan bugar itu bisa dicapai dengan minum air putih yang banyak, mengonsumi gizi yang seimbang, termasuk makan buah-buahan seperti jeruk dan pisang. Untuk mendapatkan vitamin D, kata dia, pasien perlu berjemur 20-30 menit pada jam 10.00 pagi.
"Meski sakit tetap lakukan aktivitas ringan, badan harus bergerak, olahraga, sebab kalau orang tiduran terus virus akan mudah menyerang paru-paru. Orang terserang infeksi pada paru-paru itu karena posisinya tidak berubah, misalnya telentang terus," paparnya.
Ketiga, pasien harus banyak mengeluarkan hormon endorfin, yakni perasaan harus dibuat senang, tidak stres dan tidak negatif thinking. Selanjutnya keempat, pasien isoman harus terpisah dengan keluarga yang tidak positif karena mencegah menulari. Tinggal di kamar terpisah, pisahkan alat-alat makan yang dipakai, kamar mandi juga harus terpisah.
Bagaimana jika seseorang tinggal di kawasan pada penduduk, dengan rumah yang relatif sempit? Menurutnya, memang itu jadi persoalan. Karena itu dia menyarankan agar isolasinya di tempat yang terpusat.
Setelah telemedicine, Netty mendorong pemerintah pusat dan daerah agar menggiatkan pendataan warga yang melakukan isolasi mandiri di rumah dan menyiagakan tenaga kesehatan untuk "jemput bola". "Pemantauan ke rumah penting sekali dilakukan karena kasua warga meninggal dunia saat isoman banyak terjadi," tandasnya.
Ketua Pelaksana Harian Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Mahesa Paranadipa Maikel, memberikan saran kepada pasien yang akan menjalani isolasi mandiri di rumah. Apa sarannya? jika pasien tidak bergejala maka hanya perlu memastikan makan minum yang bergizi dan sehat selama masa isoman. Ruangan dan area aktivitas terpisah antara pasien isoman dan anggota keluarga yang sehat.
"Jika bergejala ringan sampai berat segera konsultasikan dengan dokter karena harus mendapat pengobatan dan perawatan," ujarmya saat dihubungi KORAN SINDO kemarin.
Dalam hal konsumsi obat-obatan, yang dikonsumsi harus sesuai anjuran dan resep dokter. Jangan mengonsumsi sesuatu berdasarkan informasi “katanya”. "Interaksi obat akan memengaruhi reaksi di dalam tubuh. Obat yang diminum tidak sesuai anjuran dan resep dokter dikhawatirkan akan menimbulkan masalah kesehatan lain," katanya mengingatkan.
Terkait mutrisi dan gizi, Mahesa memgatakan makanan dan minuman harus mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh. Jangan berlebihan mengonsumsi makanan minuman karena akan dieksresi atau dikeluarkan oleh tubuh."Sesuaikan dengan aktivitas selama isoman. Jika selama isoman tidak banyak melakukan aktivitas maka asupan tidak perlu berlebihan," imbuhnya.
Selanjutnya , olahraga di dalam rumah juga harus tetap dilakukan. Dia meminta ahar pasien terkena matahari pagi 15-30 menit sehari namun harus mempertimbangkan interaksi dengan orang lain yang sehat.
Mengenai pasien isoman yang mengalami perburukan khususnya sesak, menurut Mahesa harus segera mendapat bantuan oksigen sambil terus dipantau saturasi oksigen melalui alat oksimetri. Jika belum mendapat rumah sakit, pasien bisa melakukan gerakan “Proning” yang tujuannya agar asupan oksigen bisa lebih baik. "Pemberian obat steroid dalam dilakukan namun tetap dalam anjuran dan pengawasan dokter," tandasnya.
Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhillah mengingatkan bahwa ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pasien saat menjalani isoman. Pertama, pasien bersangkutan harus melapor ke RT, RW, dan kelurahan agar datanya masuk ke puskesmas. Setelah didata nanti akan ada pantauan dan kunjungan atau SMS/WhatsApp dari petugas puskesmas.
"Jika sudah melapor ke puskesmas, nanti akan diberikan petunjuk soal lvitamin dan obat apa yqng bisa dikonsumsi," ujarnya saat dihubungi kemarin.
Kedua, pasien isoman perlu menjaga kebugaran diri, salah satu caranya yaitu makan yang cukup. Menurut dia, walau merasakan batuk , pilek dan flu, atau tidak nafsu makan, pasien harus tetap menjaga pola makan. Makan ini penting agar kita punya pertahanan baik terhadap virus.
Selain itu kondisi badan bugar itu bisa dicapai dengan minum air putih yang banyak, mengonsumi gizi yang seimbang, termasuk makan buah-buahan seperti jeruk dan pisang. Untuk mendapatkan vitamin D, kata dia, pasien perlu berjemur 20-30 menit pada jam 10.00 pagi.
"Meski sakit tetap lakukan aktivitas ringan, badan harus bergerak, olahraga, sebab kalau orang tiduran terus virus akan mudah menyerang paru-paru. Orang terserang infeksi pada paru-paru itu karena posisinya tidak berubah, misalnya telentang terus," paparnya.
Ketiga, pasien harus banyak mengeluarkan hormon endorfin, yakni perasaan harus dibuat senang, tidak stres dan tidak negatif thinking. Selanjutnya keempat, pasien isoman harus terpisah dengan keluarga yang tidak positif karena mencegah menulari. Tinggal di kamar terpisah, pisahkan alat-alat makan yang dipakai, kamar mandi juga harus terpisah.
Bagaimana jika seseorang tinggal di kawasan pada penduduk, dengan rumah yang relatif sempit? Menurutnya, memang itu jadi persoalan. Karena itu dia menyarankan agar isolasinya di tempat yang terpusat.
Lihat Juga :