Corona Tak Halangi Negara-Negara Adu Kekuatan di Luar Angkasa
Jum'at, 28 Mei 2021 - 05:51 WIB
loading...
A
A
A
Dia berharap dapat meluncurkan wisata antariksa ke orbin pada 2018 nanti. Kemudian, Musk mendirikan SpaceX yang mengirimkan roket Falcon 9 ke orbit dan mengembangkan bisnis kargo NASA ke Stasiun Antariksa Internasional (ISIS). Kini dia mengincar Mars. Musk berjanji akan mengirimkan kapsul tanpa manusia dalam eksperimen ke Planet Mars pada 2025.
Bagaimana dengan Indonesia? Negeri ini sebenarnya sudah lama mengarahkan langkahnya yang ditandai dengan rencana pengiriman Pratiwi Pujilestari Sudarmono ke luar angkasa, yang kemudian gagal akibat insiden meledaknya pesawat ulang-alik Challenger 28 Januari 1986. Indonesia juga sudah memiliki Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Namun, harus diakui perkembangannya secepat negara-negara yang kini telah mencatatkan diri sebagai pemain luar angkasa.
Kepala Lapan Thomas Djamaluddin menyatakan, di tataran internasional sebenarnya Indonesia dianggap sebagai "New Emerging Space Nations" dengan kemampuan membuat satelit sendiri dan mengembangkan teknologi roket. Lapan sebagai space agency Indonesia juga sudah dikenal di dunia internasional dan dijadikan contoh pengembangan badan antariksa di Asia Tenggara. Dia menyebut negara tetangga baru saja membentuk badan antariksa, seperti Malaysian Space Agency (MYSA) dan Philipine Space Agency (PhilSA).
"Teknologi antariksa adalah teknologi yang 'high tech, high risk, dan high cost'. Tidak banyak negara yang sanggup mengembangkannya. Indonesia dengan visi besar Bung Karno, membentuk Lapan sebagai badan antariksa. Namun, kendala anggaran yang minim menyebabkan pengembangan teknologi antariksa di Indonesia berjalan lambat," ungkap Thomas kepada KORAN SINDO, di Jakarta, Rabu (26/5).
Dia membeberkan, sesungguhnya Indonesia sudah memiliki visi besar keantariksaan dengan visi Bung Karno (Presiden RI pertama) mendirikan Lapan pada 1960-an dan visi Soeharto (Presiden RI kedua) memulai sistem komunikasi satelit Palapa pada 1970-an.
Namun, langkah ini tidak berlanjut dengan penyiapan anggaran yang cukup dan berkesinambungan untuk pengembangan teknologi antariksa di dalam negeri. Indonesia baru tahap pemanfaatan teknologinya untuk telekomunikasi dan penginderaan jauh.
"Namun, pengembangan teknologinya sempat mati suri, antara lain sempat dihentikannya program pengembangan pesawat terbang dan roket pada 1980-an. Baru pada 2000-an anggaran pengembangan teknologi penerbangan dan antariksa ditingkatkan secara signifikan, sehingga dimulai program pembuatan satelit mikro, pengembangan teknologi roket, dan pembuatan pesawat N219," ujarnya.
Thomas menuturkan, program keantariksaan biasanya dikaitkan dengan "national pride" yang bisa memotivasi generasi mudanya untuk menguasai teknologi tinggi. Menurut dia, hal itu menjadi salah satu motivasi Uni Emirat Arab (UEA) membuat misi prestisius pengiriman wahana Hope ke Mars. Karenanya bagi Thomas, hal itu juga sebenarnya yang diharapkan terjadi di Indonesia.
Lebih lanjut, kata Thomas, penguasaan teknologi satelit juga sangat penting karena kehidupan manusia modern sangat bergantung pada satelit. Misalnya, telekomunikasi voice dan data antarwarga, siaran TV, komunikasi perbankan, navigasi, dan pendidikan jarak jauh. Indonesia yang sangat luas mutlak bergantung pada teknologi satelit.
"Kita tidak bisa selamanya bergantung pada teknologi asing. Secara global, space economy saat ini menjadi perhatian serius. Teknologi antariksa sangat berperan meningkatkan perekonomian suatu bangsa, misalnya dalam pemanfaatan teknologi telekomunikasi dan penginderaan jauh," tegas Thomas.
Dia membeberkan, Indonesia tentu mengembangkan strategi guna mengejar ketertinggalan dalam program antariksa. Strategi Lapan, ujar Thomas, meski dengan keterbatasan anggaran, Lapan melakukan focussing kegiatan pada tujuh program utama sesuai kegiatan yang diamanatkan UU Keantariksaan.
Tujuh program utama tersebut adalah pertama pengembangan Decission Support System (DSS) cuaca antariksa dan observatorium nasional. Kedua, pengembangan DSS dinamika atmosfer ekuator. Ketiga, pengembangan teknologi roket. Keempat, pengembangan teknologi satelit. Kelima, pengembangan teknologi pesawat transport dan pesawat tanpa awak. Keenam, pengembangan bank data penginderaan jauh nasional. Ketujuh, pengembangan sistem pemantau bumi nasional. "Serta didukung program besar, yaitu reformasi birokrasi," katanya.
Thomas lantas buka suara saat disinggung adanya wacana pemerintah mengajak investor asing SpaceX untuk membangun lokasi peluncuran roket antariksa di Kabupaten Numfor, Papua. Dia menggariskan, untuk pembangunan bandar antariksa yang diamanatkan UU Keantariksaan perlu biaya besar dan pemanfaatan yang efektif dan efisien. Pembangunan tersebut memerlukan investor internasional dan mitra peluncur satelit.
Bagaimana dengan Indonesia? Negeri ini sebenarnya sudah lama mengarahkan langkahnya yang ditandai dengan rencana pengiriman Pratiwi Pujilestari Sudarmono ke luar angkasa, yang kemudian gagal akibat insiden meledaknya pesawat ulang-alik Challenger 28 Januari 1986. Indonesia juga sudah memiliki Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Namun, harus diakui perkembangannya secepat negara-negara yang kini telah mencatatkan diri sebagai pemain luar angkasa.
Kepala Lapan Thomas Djamaluddin menyatakan, di tataran internasional sebenarnya Indonesia dianggap sebagai "New Emerging Space Nations" dengan kemampuan membuat satelit sendiri dan mengembangkan teknologi roket. Lapan sebagai space agency Indonesia juga sudah dikenal di dunia internasional dan dijadikan contoh pengembangan badan antariksa di Asia Tenggara. Dia menyebut negara tetangga baru saja membentuk badan antariksa, seperti Malaysian Space Agency (MYSA) dan Philipine Space Agency (PhilSA).
"Teknologi antariksa adalah teknologi yang 'high tech, high risk, dan high cost'. Tidak banyak negara yang sanggup mengembangkannya. Indonesia dengan visi besar Bung Karno, membentuk Lapan sebagai badan antariksa. Namun, kendala anggaran yang minim menyebabkan pengembangan teknologi antariksa di Indonesia berjalan lambat," ungkap Thomas kepada KORAN SINDO, di Jakarta, Rabu (26/5).
Dia membeberkan, sesungguhnya Indonesia sudah memiliki visi besar keantariksaan dengan visi Bung Karno (Presiden RI pertama) mendirikan Lapan pada 1960-an dan visi Soeharto (Presiden RI kedua) memulai sistem komunikasi satelit Palapa pada 1970-an.
Namun, langkah ini tidak berlanjut dengan penyiapan anggaran yang cukup dan berkesinambungan untuk pengembangan teknologi antariksa di dalam negeri. Indonesia baru tahap pemanfaatan teknologinya untuk telekomunikasi dan penginderaan jauh.
"Namun, pengembangan teknologinya sempat mati suri, antara lain sempat dihentikannya program pengembangan pesawat terbang dan roket pada 1980-an. Baru pada 2000-an anggaran pengembangan teknologi penerbangan dan antariksa ditingkatkan secara signifikan, sehingga dimulai program pembuatan satelit mikro, pengembangan teknologi roket, dan pembuatan pesawat N219," ujarnya.
Thomas menuturkan, program keantariksaan biasanya dikaitkan dengan "national pride" yang bisa memotivasi generasi mudanya untuk menguasai teknologi tinggi. Menurut dia, hal itu menjadi salah satu motivasi Uni Emirat Arab (UEA) membuat misi prestisius pengiriman wahana Hope ke Mars. Karenanya bagi Thomas, hal itu juga sebenarnya yang diharapkan terjadi di Indonesia.
Lebih lanjut, kata Thomas, penguasaan teknologi satelit juga sangat penting karena kehidupan manusia modern sangat bergantung pada satelit. Misalnya, telekomunikasi voice dan data antarwarga, siaran TV, komunikasi perbankan, navigasi, dan pendidikan jarak jauh. Indonesia yang sangat luas mutlak bergantung pada teknologi satelit.
"Kita tidak bisa selamanya bergantung pada teknologi asing. Secara global, space economy saat ini menjadi perhatian serius. Teknologi antariksa sangat berperan meningkatkan perekonomian suatu bangsa, misalnya dalam pemanfaatan teknologi telekomunikasi dan penginderaan jauh," tegas Thomas.
Dia membeberkan, Indonesia tentu mengembangkan strategi guna mengejar ketertinggalan dalam program antariksa. Strategi Lapan, ujar Thomas, meski dengan keterbatasan anggaran, Lapan melakukan focussing kegiatan pada tujuh program utama sesuai kegiatan yang diamanatkan UU Keantariksaan.
Tujuh program utama tersebut adalah pertama pengembangan Decission Support System (DSS) cuaca antariksa dan observatorium nasional. Kedua, pengembangan DSS dinamika atmosfer ekuator. Ketiga, pengembangan teknologi roket. Keempat, pengembangan teknologi satelit. Kelima, pengembangan teknologi pesawat transport dan pesawat tanpa awak. Keenam, pengembangan bank data penginderaan jauh nasional. Ketujuh, pengembangan sistem pemantau bumi nasional. "Serta didukung program besar, yaitu reformasi birokrasi," katanya.
Thomas lantas buka suara saat disinggung adanya wacana pemerintah mengajak investor asing SpaceX untuk membangun lokasi peluncuran roket antariksa di Kabupaten Numfor, Papua. Dia menggariskan, untuk pembangunan bandar antariksa yang diamanatkan UU Keantariksaan perlu biaya besar dan pemanfaatan yang efektif dan efisien. Pembangunan tersebut memerlukan investor internasional dan mitra peluncur satelit.
Lihat Juga :