Fenomena Komputasi di Negara Demokrasi, Pengamat: Untuk Manipulasi Informasi

Jum'at, 09 April 2021 - 06:13 WIB
loading...
Fenomena Komputasi di...
Kehadiran internet dan media sosial (medsos) dalam satu dekade terakhir telah berkembang begitu pesat. Foto/SINDOnews/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Kehadiran internet dan media sosial (medsos) dalam satu dekade terakhir telah berkembang begitu pesat. Meski memberikan ruang komunikasi yang begitu besar, pemanfaatan internet dan medsos juga memicu dampak negatif. Tak terkecuali bagi tatanan kehidupan negara.

Baca juga: Ada Potensi Manipulasi Data, PPDB Zonasi 2021 Perlu Diperketat

Pengamat komunikasi publik Sony Subrata menyebut penggunaan teknologi internet dan platform media sosial sekarang ini bisa menimbulkan masalah yang sangat serius bagi tatanan demokrasi sebuah negara apabila salah dalam penggunaannya. Namun di sisi lain, juga bisa memiliki dampak positif jika digunakan dengan sebaik-baiknya.

Baca juga: Kecam Macron, Romo Benny: Jangan Manipulasi Kebebasan Berekspresi untuk Hina Agama

Ia pun mengaitkan liku-liku pemanfaatan ruang digital dengan propaganda komputasional dalam kegiatan elektoral yang terjadi di negara seperti Amerika Serikat, Brazil, India, dan Inggris. Hal itu merujuk pada buku Tarung Digital, Propaganda Komputasional di Berbagai Negara karya Agus Sudibyo.

Baca juga: Oknum ASN DLH Bandung Barat Diduga Manipulasi Data TKK

"Propaganda komputasional telah menjadi sebuah fenomena global. Propaganda yang membenarkan muslihat, manipulasi, dan penyebaran kebencian itu telah terjadi di berbagai negara. Oleh karenanya, propaganda komputasional saat ini perlu diwaspadai keberadaannya di Indonesia," ujar Sony dalam rilisnya yang diterima SINDOnews, Kamis (8/4/2021).

Lebih lanjut Sony menilai, saat ini perlu membangun kewaspadaan publik terhadap praktik propaganda komputasional yang lazimnya mengiringi momentum pemilihan umum atau suksesi kepemimpinan.

Dengan demikian kata dia, masyarakat Indonesia bisa lebih berhati-hati terhadap segala rupa informasi yang beredar di ranah digital atau medsos, serta lebih rasional dan penuh perhitungan dalam menentukan pilihan politik.

"Hal yang tak kalah penting, kita juga mesti berusaha menghindarkan pengguna internet dari keadaan-keadaan yang merugikan atau membahayakan kehidupan bersama maupun pribadi. Maka, faktor kuncinya adalah memahami sejauh mana kita dapat melakukan gerakan literasi untuk mendorong publik mengetahui lebih banyak tentang dunia digital," sambungnya.

Ia berharap, pemanfaatan ataupun penyalahgunaan platform medsos seperti Twitter, Facebook, YouTube, Instagram, dan TikTok, perlu menjadi perhatian penting pemerintah. Hal itu ditujukan agar masyarakat Indonesia bisa terhindar dari jeratan hal-hal negatif saat menggunakan medsos.

"Walaupun banyak informasi positif yang bisa disebarkan melalui kanal-kanal media sosial tersebut, informasi yang setengah benar, informasi benar yang dicampur dengan yang tidak benar ataupun informasi yang sama sekali tidak benar, juga dengan mudah dan cepat dapat disebarkan melalui kanal-kanal yang sama, maka pemerintah perlu terjun lewat edukasi, sosialisasi, agar masyarakat Indonesia bisa terhindar dari hal-hal negatif," tandasnya.
(maf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Slopaganda: Propaganda...
Slopaganda: Propaganda Massal di Era AI
Denny JA Soroti Kerusuhan...
Denny JA Soroti Kerusuhan Agustus 2025 dalam Perspektif Kelas Rentan Digital
Dukung Blokir Konten...
Dukung Blokir Konten LGBT di Medsos, DPR: Jika Dibiarkan Menormalisasi Perilaku Menyimpang
Tumbuhkan Asa Jurnalis...
Tumbuhkan Asa Jurnalis Muda di Era Disruspi Digital, IJTI Gelar Konferensi Jurnalis Kampus se-Indonesia
Serangan ke Prabowo...
Serangan ke Prabowo di Medsos Tak Organik, Pengamat Curigai Pola yang Tidak Biasa
Pemerintah Perlu Menetralisir...
Pemerintah Perlu Menetralisir Narasi Negatif di Media Sosial
Tanpa Somasi, Sarwendah...
Tanpa Somasi, Sarwendah Laporkan Akun Media Sosial yang Diduga Cemarkan Nama Baik
Ungkap Kekerasan Obstetri...
Ungkap Kekerasan Obstetri di RS, Dokter Wanita Ini Ditangkap atas Tuduhan Sebar Hoaks
Kisah Mas Rushh Bangun...
Kisah Mas Rushh Bangun Personal Branding lewat Konten Keluarga
Rekomendasi
5 Fakta Menarik Jerman...
5 Fakta Menarik Jerman Tersingkir dari Piala Dunia 2026: Pecah Rekor Adu Penalti
Pendapatan Melonjak...
Pendapatan Melonjak 47,7%, KPIG Raih Laba Bersih Rp724,2 Miliar di 2025
Sensus Ekonomi 2026...
Sensus Ekonomi 2026 Jadi Navigasi Pembangunan Nasional
Berita Terkini
Sampaikan Amanah Prabowo,...
Sampaikan Amanah Prabowo, Wamenhaj Salurkan Bantuan untuk Jemaah Haji asal Aceh yang Terlilit Utang
PKS Targetkan 2 Kali...
PKS Targetkan 2 Kali Lipat Legislator Muda di Senayan pada 2029
Histeria Ojol dan Kerentanan...
Histeria Ojol dan Kerentanan Ekstrem Pekerja 'Gig Economy'
Nadiem Makarim Hadapi...
Nadiem Makarim Hadapi Sidang Putusan Kasus Chromebook Hari Ini
MK Putuskan Pembayaran...
MK Putuskan Pembayaran Dana Pensiun Sukarela Bisa Dilakukan Sekaligus atau Berkala
Program Magang Nasional...
Program Magang Nasional 2026 Dibuka, 150 Ribu Lulusan Ikut Magang Bareng Seskab Teddy
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved