Densus 88 Terus Bekerja, Masyarakat Diimbau Jangan Takut Teror Bom
Senin, 29 Maret 2021 - 22:27 WIB
loading...
Masyarakat diimbau tak perlu takut merespons teror bom bunuh diri di pintu gerbang Gereja Katedral, Makassar. Polri melalui Densus 88 Antiteror terus bekerja. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Masyarakat diimbau tidak perlu takut merespons teror bom bunuh diri di pintu gerbang Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan. Polri melalui Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror terus bekerja, membongkar sel-sel teroris.
Baca juga: Ini Sikap Tokoh Lintas Agama di Papua Atas Aksi Bom Bunuh Diri di Makassar
"Yang jelas pihak keamanan seperti Densus 88 itu tidak pernah berhenti. Ketika kita tidur, mereka bangun. Ketika kita diam, mereka bergerak," ujar Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi kepada wartawan, Senin (29/3/2021).
Menurut dia, sebagian masyarakat ada yang antipati menyikapi penangkapan terduga teroris. Penyebabnya antara lain karena masyarakat tidak curiga dengan keseharian orang-orang yang ditangkap. "Tapi pihak keamanan lebih tahu, intelijennya lebih bergerak," ujarnya.
Baca juga: Pasca Bom Bunuh Diri di Makassar, Pengamanan Gereja di Gorontalo Diperketat
Islah menjelaskan, tujuan teroris adalah menekan pemerintah dan masyarakat. Teroris ingin pemerintah bertekuk lutut, sehingga mereka bisa menguasai pemerintahan. Ketika semua menyerah, mereka berharap, akan lebih mendapat pengakuan dari masyarakat.
"Apapun tujuan teror mereka itu sebenarnya bukan hanya surga, tapi juga ingin menguasai negara ini, menguasai pemerintahan ini," kata Islah. Baca juga: 5 Bom Aktif Disita dari Terduga Teroris Condet-Bekasi Bisa Dibuat 70 Bom Pipa
Konsep seperti itu, kata Islah, sudah ada sejak awal Islam. Artinya, kata dia, teroris selalu melawan pemerintahan dan akan berhenti sampai mereka berkuasa. Islah menilai sudah tepat Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengimbau agar masyarakat tidak takut menyikapi teror bom.
"Ini bukan hanya soal menciptakan kepanikan dan ketakutan, tapi mereka ingin membuat semua orang bertekuk lutut terhadap mereka," ujar Islah.
Dia membeberkan ada sekitar 400 terduga teroris ditangkap pada 2020. Tahun ini sudah hampir 100. Islah menilai teroris terpukul. Apalagi jalur pendanaan mereka dalam pengawasan PPATK dan Polri. Dia menilai terorisme tidak bisa lepas dari pendanaan.
Ketika transaksi elektronik diendus PPATK, kelompok teroris menggunakan kotak amal untuk mengumpulkan dana. Menurut Islah, teror bom di Makassar merupakan reaksi teroris terhadap penangkapan-penangkapan dan jalur pendanaan mereka yang terus terjepit.
Baca juga: Ini Sikap Tokoh Lintas Agama di Papua Atas Aksi Bom Bunuh Diri di Makassar
"Yang jelas pihak keamanan seperti Densus 88 itu tidak pernah berhenti. Ketika kita tidur, mereka bangun. Ketika kita diam, mereka bergerak," ujar Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi kepada wartawan, Senin (29/3/2021).
Menurut dia, sebagian masyarakat ada yang antipati menyikapi penangkapan terduga teroris. Penyebabnya antara lain karena masyarakat tidak curiga dengan keseharian orang-orang yang ditangkap. "Tapi pihak keamanan lebih tahu, intelijennya lebih bergerak," ujarnya.
Baca juga: Pasca Bom Bunuh Diri di Makassar, Pengamanan Gereja di Gorontalo Diperketat
Islah menjelaskan, tujuan teroris adalah menekan pemerintah dan masyarakat. Teroris ingin pemerintah bertekuk lutut, sehingga mereka bisa menguasai pemerintahan. Ketika semua menyerah, mereka berharap, akan lebih mendapat pengakuan dari masyarakat.
"Apapun tujuan teror mereka itu sebenarnya bukan hanya surga, tapi juga ingin menguasai negara ini, menguasai pemerintahan ini," kata Islah. Baca juga: 5 Bom Aktif Disita dari Terduga Teroris Condet-Bekasi Bisa Dibuat 70 Bom Pipa
Konsep seperti itu, kata Islah, sudah ada sejak awal Islam. Artinya, kata dia, teroris selalu melawan pemerintahan dan akan berhenti sampai mereka berkuasa. Islah menilai sudah tepat Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengimbau agar masyarakat tidak takut menyikapi teror bom.
"Ini bukan hanya soal menciptakan kepanikan dan ketakutan, tapi mereka ingin membuat semua orang bertekuk lutut terhadap mereka," ujar Islah.
Dia membeberkan ada sekitar 400 terduga teroris ditangkap pada 2020. Tahun ini sudah hampir 100. Islah menilai teroris terpukul. Apalagi jalur pendanaan mereka dalam pengawasan PPATK dan Polri. Dia menilai terorisme tidak bisa lepas dari pendanaan.
Ketika transaksi elektronik diendus PPATK, kelompok teroris menggunakan kotak amal untuk mengumpulkan dana. Menurut Islah, teror bom di Makassar merupakan reaksi teroris terhadap penangkapan-penangkapan dan jalur pendanaan mereka yang terus terjepit.
(maf)
Lihat Juga :