Cegah Radikalisme, Wapres Berharap MUI Sebarkan Pola Pikir Moderat
Senin, 29 Maret 2021 - 20:00 WIB
loading...
Wakil Presiden (Wapres) Maruf Amin. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Wakil Presiden (Wapres) Maruf Amin mengatakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) merupakan penghubung atau intermediate structure antara organisasi kemasyarakatan keagamaan dengan pemerintah, maupun dengan antar umat beragama.
Baca juga: Bupati Pangkep Minta Warga Tak Terprovokasi Bom Gereja Katedral
Oleh karena itu, Maruf menilai MUI harus menerapkan pola pikir wasathy (moderat) dalam menjalankan tugas sehari-hari. Hal ini agar tidak terjadi paham yang berat sebelah dalam melaksanakan tugasnya.
Baca juga: Pasca Bom Bunuh Diri di Makassar, Polri Tangkap 13 Terduga Teroris
"Intinya pertama tentang cara berpikir MUI ini apa? Kriteria yang kita pakai, kita sudah sepakat menggunakan cara berpikir wasathy. Tidak terlalu lemah, tidak terlalu berlebihan, tapi tengah, wasathy," kata Maruf dalam Rapat Pimpinan Dewan Pertimbangan MUI di Istana Wakil Presiden, Senin (29/3/2021).
Dia mengatakan, dengan pola pikir wasathy ini, MUI dapat mengawal agar tidak berkembang paham radikalisme. Apalagi hal ini tertera dalam kaidah-kaidah MUI. Sehingga ke depan, MUI dapat membantu pemerintah untuk melindungi negara, agama, dan umat.
"Menjaga agama, menjaga negara, menjaga umat. Tiga himayat (perlindungan)," ungkapnya. Baca juga: Bom Makassar hingga Penangkapan Terduga Teroris Bekasi-Condet, Berikut Penjelasan Kapolda Metro Jaya
Selain itu, dia mengatakan jika nanti terjadi perilaku menyimpang di masyarakat, hal tersebut tidak langsung dialamatkan kepada suatu agama atau kepercayaan tertentu.
"Terutama misalnya di dalam rangka kita melaksanakan melawan cara berpikir yang tidak wasathy, yang tidak moderat. Nah ini kita melihat ada gejala-gejala sehingga berkembangnya radikalisme yang sering dialamatkan kepada umat," ujarnya.
"Ini kita harus menjaga betul bahwa setiap tindakan yang menyimpang daripada itu adalah hal-hal yang diluar dan itu tidak ada hubungannya dengan agama, dengan Islam," tutupnya.
Baca juga: Bupati Pangkep Minta Warga Tak Terprovokasi Bom Gereja Katedral
Oleh karena itu, Maruf menilai MUI harus menerapkan pola pikir wasathy (moderat) dalam menjalankan tugas sehari-hari. Hal ini agar tidak terjadi paham yang berat sebelah dalam melaksanakan tugasnya.
Baca juga: Pasca Bom Bunuh Diri di Makassar, Polri Tangkap 13 Terduga Teroris
"Intinya pertama tentang cara berpikir MUI ini apa? Kriteria yang kita pakai, kita sudah sepakat menggunakan cara berpikir wasathy. Tidak terlalu lemah, tidak terlalu berlebihan, tapi tengah, wasathy," kata Maruf dalam Rapat Pimpinan Dewan Pertimbangan MUI di Istana Wakil Presiden, Senin (29/3/2021).
Dia mengatakan, dengan pola pikir wasathy ini, MUI dapat mengawal agar tidak berkembang paham radikalisme. Apalagi hal ini tertera dalam kaidah-kaidah MUI. Sehingga ke depan, MUI dapat membantu pemerintah untuk melindungi negara, agama, dan umat.
"Menjaga agama, menjaga negara, menjaga umat. Tiga himayat (perlindungan)," ungkapnya. Baca juga: Bom Makassar hingga Penangkapan Terduga Teroris Bekasi-Condet, Berikut Penjelasan Kapolda Metro Jaya
Selain itu, dia mengatakan jika nanti terjadi perilaku menyimpang di masyarakat, hal tersebut tidak langsung dialamatkan kepada suatu agama atau kepercayaan tertentu.
"Terutama misalnya di dalam rangka kita melaksanakan melawan cara berpikir yang tidak wasathy, yang tidak moderat. Nah ini kita melihat ada gejala-gejala sehingga berkembangnya radikalisme yang sering dialamatkan kepada umat," ujarnya.
"Ini kita harus menjaga betul bahwa setiap tindakan yang menyimpang daripada itu adalah hal-hal yang diluar dan itu tidak ada hubungannya dengan agama, dengan Islam," tutupnya.
(maf)
Lihat Juga :