Bertemu Hantu Laut, Prajurit Marinir Lolos dari Maut Setelah 3 Hari Terombang-ambing
Senin, 29 Maret 2021 - 07:34 WIB
loading...
A
A
A
Mereka terus berenang dengan harapan untuk selamat semakin besar. Dan berkat kekuatan yang dikurniakan Tuhan Yang Maha Esa, pukul 12.15 tanggal 9 Desember 1975, mereka berhasil mendarat dengan selamat di pantai Peitoko Alor Timur setelah berenang selama tiga hari tiga malam dan menempuh jarak hampir 90 mil. Kebetulan didekat tempat mereka mendarat terdapat mata air yang jernih, disitulah mereka melepas dahaga setelah tiga hari tiga malam tidak makan dan tidak minum. Kemudian mereka mengambil air wudlu dan melakukan sembahyang, syukur atas rahmat Tuhan kepada mereka.
Selesai sembahyang dengan muka hancur terkelupas, tanpa baju dan dengan kaki terpincang-pincang mereka menuju arah kampung yang teletak ± 4 Km di sebelah barat tempat mereka mendarat. Dari tengah laut sebenarnya kampung tersebut sudah tampak, tetapi karena arus kuat ke arah timur, mereka tidak berhasil mendarat tepat di kampung tersebut. Mereka berjalan pelan-pelan di jalanan yang berbatu-batu karang menyebabkan kaki terasa sakit dan ngilu sekali. Tetapi rupanya mereka masih harus mengalami cobaan lagi, yang hampir-hampir menyita nyawanya.
![Bertemu Hantu Laut, Prajurit Marinir Lolos dari Maut Setelah 3 Hari Terombang-ambing]()
Setibanya di kampung yang bernama desa Peitoko bukannya mereka segera dirawat dan diberi makanan lezat tetapi nyaris mereka dibunuh oleh Hansip karena disangka Fretellin. Untung pada saat-saat kritis tersebut datang seorang pedagang yang pernah bermukim di Gresik dan dengan perantaraannya berhasil meyakinkan saudara-saudara kita di Peitoko bahwa mereka betul-betul adalah Tentara Indonesia. Baru setelah mereka yakin bahwa kedua orang itu adalah anggota-anggota Korps Marinir TNI-AL mereka menyambutnya dengan penuh keharuan. Semua penduduk mengerumuninya dan juga kedua anggota Marinir inipun ikut menangis karena terharu.
Malam tersebut (tanggal: 9 Desember 1975) mereka berdua dirawat seorang Mantri Desa, luka-luka terutama dikaki diobatinya. Sedang rekan Soeyono pada malam tersebut mengalami kelumpuhan. Anggota badannya tidak dapat digerakkan. Serka Marinir Nurkamid menangis melihat kenyataan tersebut. Tetapi berkat rawatan penduduk dengan ramuan daun-daunan dan paginya Kopral Soeyono sudah mulai bisa duduk dan 2 hari kemudian sudah dapat berjalan normal. Tanggal 10 Desember 1975 mereka berdua masih dalam rawatan penduduk Peitoko. Sekitar jam 12.00 tengah hari Bapak Kepala Desa datang dari pedalaman yang baru pertama kali bertemu dengan kedua Marinir itu, karena waktu mereka datang di Peitoko beliau beserta para Pamong Desa lainnya sedang melaksanakan Sensus di pedalaman.
Sementara para anggota Hansip secara estafet terus melakukan pencarian sepanjang pantai selatan Alor dimana kemungkinan kedua rekannya mendarat. Tetapi sampai tanggal 12 Desember 1975 saat mereka dijemput Dan Ramil Alor Timur menuju Kota Kecamatan Martain Alor Timur, kedua rekannya belum ada beritanya. Saat-saat yang mengharukan bagi mereka adalah ketika diadakan do’a bersama di mesjid-mesjid dan gereja-gereja yang ditujukan untuk keselamatan tentara yang berjuang di Tim-Tim dan untuk mereka berdua beserta kedua rekan yang belum ketemu. Terima kasih yang sedalam-dalamnya untuk semua pertolongan yang tulus ikhlas dari saudara-saudara di Alor, semoga mendapatkan balasan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Tentang perjalanan mereka berdua selanjutnya tidaklah banyak menjumpai kesulitan karena lewat daratan. Ringkasnya, setelah tiga hari mereka dirawat penduduk di Peitoko, mereka dijemput Dan Ramil Alor Timur, selanjutnya dengan melalui bukit-bukit karang sepanjang pantai Selatan Alor, menuju Martain untuk menghadap Camat Alor Timur. Perjalanan Peitoko-Martain selama 2 hari dimana setiap rombongan melalui kampung mereka selalu disambut dengan tangisan. Berita tentang mereka segera dikirim via SSB ke Bupati dan selanjutnya secana estafet diteruskan ke Gubernur dan ke Hankam. Dua hari mereka di Martain, selanjutnya dijemput perahu motor yang dikirimkan Bupati Alor. Dan pada 15 Desember 1975 mereka minta kepada Camat dan Dan Ramil selanjutnya berangkat menuju Kalabai ibukota Kabupaten Alor.
Selesai sembahyang dengan muka hancur terkelupas, tanpa baju dan dengan kaki terpincang-pincang mereka menuju arah kampung yang teletak ± 4 Km di sebelah barat tempat mereka mendarat. Dari tengah laut sebenarnya kampung tersebut sudah tampak, tetapi karena arus kuat ke arah timur, mereka tidak berhasil mendarat tepat di kampung tersebut. Mereka berjalan pelan-pelan di jalanan yang berbatu-batu karang menyebabkan kaki terasa sakit dan ngilu sekali. Tetapi rupanya mereka masih harus mengalami cobaan lagi, yang hampir-hampir menyita nyawanya.

Setibanya di kampung yang bernama desa Peitoko bukannya mereka segera dirawat dan diberi makanan lezat tetapi nyaris mereka dibunuh oleh Hansip karena disangka Fretellin. Untung pada saat-saat kritis tersebut datang seorang pedagang yang pernah bermukim di Gresik dan dengan perantaraannya berhasil meyakinkan saudara-saudara kita di Peitoko bahwa mereka betul-betul adalah Tentara Indonesia. Baru setelah mereka yakin bahwa kedua orang itu adalah anggota-anggota Korps Marinir TNI-AL mereka menyambutnya dengan penuh keharuan. Semua penduduk mengerumuninya dan juga kedua anggota Marinir inipun ikut menangis karena terharu.
Malam tersebut (tanggal: 9 Desember 1975) mereka berdua dirawat seorang Mantri Desa, luka-luka terutama dikaki diobatinya. Sedang rekan Soeyono pada malam tersebut mengalami kelumpuhan. Anggota badannya tidak dapat digerakkan. Serka Marinir Nurkamid menangis melihat kenyataan tersebut. Tetapi berkat rawatan penduduk dengan ramuan daun-daunan dan paginya Kopral Soeyono sudah mulai bisa duduk dan 2 hari kemudian sudah dapat berjalan normal. Tanggal 10 Desember 1975 mereka berdua masih dalam rawatan penduduk Peitoko. Sekitar jam 12.00 tengah hari Bapak Kepala Desa datang dari pedalaman yang baru pertama kali bertemu dengan kedua Marinir itu, karena waktu mereka datang di Peitoko beliau beserta para Pamong Desa lainnya sedang melaksanakan Sensus di pedalaman.
Sementara para anggota Hansip secara estafet terus melakukan pencarian sepanjang pantai selatan Alor dimana kemungkinan kedua rekannya mendarat. Tetapi sampai tanggal 12 Desember 1975 saat mereka dijemput Dan Ramil Alor Timur menuju Kota Kecamatan Martain Alor Timur, kedua rekannya belum ada beritanya. Saat-saat yang mengharukan bagi mereka adalah ketika diadakan do’a bersama di mesjid-mesjid dan gereja-gereja yang ditujukan untuk keselamatan tentara yang berjuang di Tim-Tim dan untuk mereka berdua beserta kedua rekan yang belum ketemu. Terima kasih yang sedalam-dalamnya untuk semua pertolongan yang tulus ikhlas dari saudara-saudara di Alor, semoga mendapatkan balasan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Tentang perjalanan mereka berdua selanjutnya tidaklah banyak menjumpai kesulitan karena lewat daratan. Ringkasnya, setelah tiga hari mereka dirawat penduduk di Peitoko, mereka dijemput Dan Ramil Alor Timur, selanjutnya dengan melalui bukit-bukit karang sepanjang pantai Selatan Alor, menuju Martain untuk menghadap Camat Alor Timur. Perjalanan Peitoko-Martain selama 2 hari dimana setiap rombongan melalui kampung mereka selalu disambut dengan tangisan. Berita tentang mereka segera dikirim via SSB ke Bupati dan selanjutnya secana estafet diteruskan ke Gubernur dan ke Hankam. Dua hari mereka di Martain, selanjutnya dijemput perahu motor yang dikirimkan Bupati Alor. Dan pada 15 Desember 1975 mereka minta kepada Camat dan Dan Ramil selanjutnya berangkat menuju Kalabai ibukota Kabupaten Alor.
Lihat Juga :