Pemecatan 7 Kader Dinilai Bakal Mempercepat KLB Demokrat
Senin, 01 Maret 2021 - 17:04 WIB
loading...
A
A
A
Ninoy Karundeng mencontohkan, meskipun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dikuasai oleh trah Soekarno, tapi sosok Bung Karno sebagai pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi yang jelas serta sepak terjang Megawati yang membela wong cilik, membuat PDIP tetap menjadi partai besar pascareformasi.
Sementara Demokrat dengan AHY dan pentolan partai, termasuk SBY tidak mampu menarik dukungan publik. Penyebabnya adalah persepsi terhadap SBY di mata publik sebagai sosok yang suka mencampuri urusan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Padahal kinerja SBY tidak semoncer Jokowi di bidang infrastruktur.
Baca juga: Jhoni Allen: SBY Masuk Demokrat Setelah Verifikasi 2004, Cuma Sumbang Rp100 Juta
Ketiadaan raison d'etre karena Demokrat tidak memiliki tokoh yang mumpuni, dan hilangnya elan vital dalam Demokrat membuat survei elektabilitas Demokrat merosot. Bahkan survei salah satu media ternama pada Agustus 2020, Demokrat terperosok dalam kubangan parliamentary threshold 3,6%. Angka elektabilitas yang mencerminkan kepemimpinan AHY.
Penyebabnya, lanjut Ninoy, karena AHY ditarik dari militer dengan pangkat mayor, maka dia sebenarnya belum matang sebagai calon pemimpin. Pencalonan AHY di pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 menjadi contoh kegagalan politik peram mangga, AHY dipaksa matang oleh SBY. Akibatnya AHY hanya berperan sebagai pemecah suara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), terbukti suara kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno 58% adalah akumulasi suara di putaran pertama dengan 17% suara AHY-Sylviana Murni.
Kegagalan kepemimpinan Demokrat di bawah SBY dan AHY makin terbukti di Pileg 2019. Suara Demokrat hanya 7,77 alias 54 kursi DPR. Di pemilu legislatif 2014 PD meraih 61 kursi, sebelumnya di 2009 memiliki 148 kursi di DPR.
Sementara Demokrat dengan AHY dan pentolan partai, termasuk SBY tidak mampu menarik dukungan publik. Penyebabnya adalah persepsi terhadap SBY di mata publik sebagai sosok yang suka mencampuri urusan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Padahal kinerja SBY tidak semoncer Jokowi di bidang infrastruktur.
Baca juga: Jhoni Allen: SBY Masuk Demokrat Setelah Verifikasi 2004, Cuma Sumbang Rp100 Juta
Ketiadaan raison d'etre karena Demokrat tidak memiliki tokoh yang mumpuni, dan hilangnya elan vital dalam Demokrat membuat survei elektabilitas Demokrat merosot. Bahkan survei salah satu media ternama pada Agustus 2020, Demokrat terperosok dalam kubangan parliamentary threshold 3,6%. Angka elektabilitas yang mencerminkan kepemimpinan AHY.
Penyebabnya, lanjut Ninoy, karena AHY ditarik dari militer dengan pangkat mayor, maka dia sebenarnya belum matang sebagai calon pemimpin. Pencalonan AHY di pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 menjadi contoh kegagalan politik peram mangga, AHY dipaksa matang oleh SBY. Akibatnya AHY hanya berperan sebagai pemecah suara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), terbukti suara kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno 58% adalah akumulasi suara di putaran pertama dengan 17% suara AHY-Sylviana Murni.
Kegagalan kepemimpinan Demokrat di bawah SBY dan AHY makin terbukti di Pileg 2019. Suara Demokrat hanya 7,77 alias 54 kursi DPR. Di pemilu legislatif 2014 PD meraih 61 kursi, sebelumnya di 2009 memiliki 148 kursi di DPR.
Lihat Juga :