Wamenag Bicara Peradaban dan Kaidah Islam untuk Atasi Pandemi Corona
Minggu, 17 Mei 2020 - 10:06 WIB
loading...
Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Saadi. Foto/Dok/SINDOnes
A
A
A
JAKARTA - Pandemi Covid-19 atau virus corona sangay merugikan kehidupan masnusia, nilai-nilai agama termasuk yang peroleh ujian besar dari pandemi ini. Terlebih Agama Islam, di mana saat ini tengah berada di bulan suci Ramadhan. Hal itu disampaikan Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Sa'adi dalam diskusi Webinar Ramadhan bersamaIkatan Alumni Fakultas Adab dan Humaniora (IKAFAH) UIN Syarif Hidayatullah, Sabtu 16 Mei 2020.
"Agama seharusnya bisa tetap relevan dalam menghadapi segala tantangan dan ujian. Terutama bila dihadapkan dengan nilai-nilai yang mengancam kemanusiaan seperti Covid-19 ini," tutur Zainut. (Baca juga: Penumpang Membeludak, Penjualan Tiket Pesawat Dibatasi Hanya 50% dari Kapasitas Kursi )
Zainut menuturkan, ribuan teks agama, sejarah, dan juga kesusastraan yang diwariskan para ulama Islam membuat dia meyakini bahwa Islam di masa kini pun dapat memberikan solusi dan sumbangan pemikiran untuk mengatasi pandemi Covid-19 beserta seluruh dampaknya. Karena Islam hadir sebagai rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin) Islam dan universalitas fikih Islam dapat memberikan kemaslahatan termasuk solusi untuk menangani pandemi Covid-19 ini.
Menurutnya, para ulama di hampir semua negara, terutama yang berpenduduk muslim, melakukan kajian ulang (I’adatu an-nadhar) terhadap pandangan keagamaannya agar relevan dengan kondisi pandemi yang ada. Karena pada dasarnya ajaran agama Islam diturunkan oleh Allah tidak untuk menyulitkan kehidupan. Misalnya, dalam menjalankan ibadah ada yang bisa dilakukan dengan tata cara normal (‘azimah) yaitu ketika dilakukan di situasi normal.
"Namun dalam kondisi tidak normal berupa 'masyaqqah' ataupun 'dharurah syar’iyyah' pelaksanaan ibadah bisa dilakukan penyesuaian-penyesuaian. Masyaqqah ataupun dharurah syar’iyyah merupakan alasan adanya keringanan (rukhshah) dalam menjalankan ajaran agama. Sehingga hukum Islam mempunyai fleksibilitas dalam pelaksanaannya (murunatu al-fiqh al-islami) sesuai kondisi yang ada," ujarnya.
"Agama seharusnya bisa tetap relevan dalam menghadapi segala tantangan dan ujian. Terutama bila dihadapkan dengan nilai-nilai yang mengancam kemanusiaan seperti Covid-19 ini," tutur Zainut. (Baca juga: Penumpang Membeludak, Penjualan Tiket Pesawat Dibatasi Hanya 50% dari Kapasitas Kursi )
Zainut menuturkan, ribuan teks agama, sejarah, dan juga kesusastraan yang diwariskan para ulama Islam membuat dia meyakini bahwa Islam di masa kini pun dapat memberikan solusi dan sumbangan pemikiran untuk mengatasi pandemi Covid-19 beserta seluruh dampaknya. Karena Islam hadir sebagai rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin) Islam dan universalitas fikih Islam dapat memberikan kemaslahatan termasuk solusi untuk menangani pandemi Covid-19 ini.
Menurutnya, para ulama di hampir semua negara, terutama yang berpenduduk muslim, melakukan kajian ulang (I’adatu an-nadhar) terhadap pandangan keagamaannya agar relevan dengan kondisi pandemi yang ada. Karena pada dasarnya ajaran agama Islam diturunkan oleh Allah tidak untuk menyulitkan kehidupan. Misalnya, dalam menjalankan ibadah ada yang bisa dilakukan dengan tata cara normal (‘azimah) yaitu ketika dilakukan di situasi normal.
"Namun dalam kondisi tidak normal berupa 'masyaqqah' ataupun 'dharurah syar’iyyah' pelaksanaan ibadah bisa dilakukan penyesuaian-penyesuaian. Masyaqqah ataupun dharurah syar’iyyah merupakan alasan adanya keringanan (rukhshah) dalam menjalankan ajaran agama. Sehingga hukum Islam mempunyai fleksibilitas dalam pelaksanaannya (murunatu al-fiqh al-islami) sesuai kondisi yang ada," ujarnya.
Lihat Juga :