Soroti Rusuh Capitol Hill, Fahri Hamzah: Elite Jangan Membelah Masyarakat
Jum'at, 08 Januari 2021 - 10:30 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Wakil Ketua Umum Partai Gelora itu, pelajaran penting yang bisa ditarik yaitu kedua peristiwa ini bisa disebut sebagai proses politik yang menciptakan radikalisasi di tingkat rakyat. Kalau pada 1998, radikalisasi terjadi oleh kuatnya pemerintahan dan berkurangnya kebebasan, rakyat yang dipimpin oleh kekuatan mahasiswa mengambil inisiatif untuk melakukan kontrol terhadap gedung parlemen.
(Baca juga : Pengadilan Irak Keluarkan Perintah Penangkapan untuk Donald Trump )
Sementara yang terjadi di AS adalah ketidakpuasan pendukung Donald terhadap hasil pemilu, yang menyebabkan mereka menganggap bahwa kongres itu adalah penghambat bagi proses pemilu dan dianggap curang. "Kongres juga dianggap menjadi oposisi yang terlalu kuat terhadap presiden Donald Trump," imbuhnya.
(Baca juga : Inilah Rahasianya Khabib Nurmagomedov Tidak Terkalahkan di UFC )
Aktivis 98 ini melihat, peristwa 98 merupakan masa transisi dari otoritarianisme ke demokrasi, tetapi dalam pemilu AS, Donald Trump dianggap pemimpin otoriter sementara negaranya demokrasi.
(Baca juga : Pengadilan Irak Keluarkan Perintah Penangkapan untuk Donald Trump )
Sementara yang terjadi di AS adalah ketidakpuasan pendukung Donald terhadap hasil pemilu, yang menyebabkan mereka menganggap bahwa kongres itu adalah penghambat bagi proses pemilu dan dianggap curang. "Kongres juga dianggap menjadi oposisi yang terlalu kuat terhadap presiden Donald Trump," imbuhnya.
(Baca juga : Inilah Rahasianya Khabib Nurmagomedov Tidak Terkalahkan di UFC )
Aktivis 98 ini melihat, peristwa 98 merupakan masa transisi dari otoritarianisme ke demokrasi, tetapi dalam pemilu AS, Donald Trump dianggap pemimpin otoriter sementara negaranya demokrasi.
Lihat Juga :