Mungkinkah Prabowo-Puan Berduet di 2024? Begini Hitung-hitungannya
Minggu, 06 Desember 2020 - 17:22 WIB
loading...
A
A
A
Prabowo-Puan pernah diwacanakan berpasangan pada Pilpres 2009. Namun, saat itu keinginan Prabowo menggandeng Puan tidak mendapat restu PDIP. Meskipun saat itu, kedua partai tetap berkoalisi, Prabowo batal jadi capres di detik-detik akhir pendaftaran calon.
Prabowo akhirnya harus puas di posisi cawapres mendampingi Megawati yang jadi capres. Duet Mega-Prabowo dan juga Jusuf Kalla-Wiranto akhirnya kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono. Koalisi PDIP dan Gerindra saat itu kalah telak hanya dalam satu putaran.(Baca juga: Mencari Calon Presiden 2024 )
Jika nanti PDIP dan Gerindra kembali berkoalisi mengusung Prabowo-Puan, apakah akan menang? Atau justru akan menderita kekalahan untuk kedua kalinya? Menarik untuk dinantikan.
Namun, kabar baiknya adalah kondisi Pilpres 2009 dengan saat ini jauh berbeda. Statistik hasil pemilu berikut ini layak membuat PDIP dan Gerindra menepuk dada. Saat Mega-Prabowo maju di Pilpres 2009, PDIP saat itu bukan partai pemenang pemilu.
Demokrat dengan SBY terlalu digdaya dengan perolehan suara pemilu legislatif (pileg) sebesar 20,85%. Demokrat menguasai 150 dari 560 kursi DPR. PDIP saat itu hanya nomor tiga perolehan suara pileg (14,03%) dan hanya mendapatkan 95 kursi DPR. Beda cerita dengan kondisi sekarang. PDIP saat ini merajai parlemen dengan 128 kursi dengan perolehan suara Pileg 2019 sebesar 19,33%.
Gerindra pun demikian. Di Pileg 2009 partai ini tergolong medioker, hanya ada di urutan 8 dengan perolehan suara 4,46%. Jumlah kursi di DPR hanya 26 buah. Namun, kekuatan Gerindra kini jauh berbeda. Pada Pileg 2019 partai ini berada di posisi 3 perolehan suara (12,57%) dan meraup 78 kursi parlemen.
Lantas, apakah statistik mentereng kedua partai ini bisa jadi garansi dalam memenangi pertarungan Pilpres 2024?
Prabowo akhirnya harus puas di posisi cawapres mendampingi Megawati yang jadi capres. Duet Mega-Prabowo dan juga Jusuf Kalla-Wiranto akhirnya kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono. Koalisi PDIP dan Gerindra saat itu kalah telak hanya dalam satu putaran.(Baca juga: Mencari Calon Presiden 2024 )
Jika nanti PDIP dan Gerindra kembali berkoalisi mengusung Prabowo-Puan, apakah akan menang? Atau justru akan menderita kekalahan untuk kedua kalinya? Menarik untuk dinantikan.
Namun, kabar baiknya adalah kondisi Pilpres 2009 dengan saat ini jauh berbeda. Statistik hasil pemilu berikut ini layak membuat PDIP dan Gerindra menepuk dada. Saat Mega-Prabowo maju di Pilpres 2009, PDIP saat itu bukan partai pemenang pemilu.
Demokrat dengan SBY terlalu digdaya dengan perolehan suara pemilu legislatif (pileg) sebesar 20,85%. Demokrat menguasai 150 dari 560 kursi DPR. PDIP saat itu hanya nomor tiga perolehan suara pileg (14,03%) dan hanya mendapatkan 95 kursi DPR. Beda cerita dengan kondisi sekarang. PDIP saat ini merajai parlemen dengan 128 kursi dengan perolehan suara Pileg 2019 sebesar 19,33%.
Gerindra pun demikian. Di Pileg 2009 partai ini tergolong medioker, hanya ada di urutan 8 dengan perolehan suara 4,46%. Jumlah kursi di DPR hanya 26 buah. Namun, kekuatan Gerindra kini jauh berbeda. Pada Pileg 2019 partai ini berada di posisi 3 perolehan suara (12,57%) dan meraup 78 kursi parlemen.
Lantas, apakah statistik mentereng kedua partai ini bisa jadi garansi dalam memenangi pertarungan Pilpres 2024?
Lihat Juga :