Tolak RUU Cipta Kerja, Buruh Kembali Suarakan Aksi Mogok Nasional

Minggu, 04 Oktober 2020 - 17:34 WIB
loading...
Tolak RUU Cipta Kerja,...
Aksi tolak RUU Cipta Kerja. Foto/Dok SINDOnews
A A A
JAKARTA - Disepakatinya Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Cipta Kerja untuk disahkan di dalam Rapat Paripurna DPR membuat sejumlah serikat buruh dan aliansi lainnya yang tergabung dalam Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) tetap berjuang menyuarakan penolakan.

"Karena tanpa perlawanan yang besar, tanpa kekuatan massa yang besar pemerintah kita rezim hari ini terus menutup mata dan menutup kuping mereka apa yang menjadi penderitaan dan kesengsaraan rakyat," kata Ketua Umum Konfederasi Kongres Aliansi Buruh Indonesia (KASBI) Nining Elitos dalam jumpa pers secara virtual, Minggu (4/10/2020).

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) sekaligus perwakilan GEBRAK, Dewi Kartika mengatakan, pihaknya akan menggelar aksi mogok nasional untuk mendesak pemerintah dan DPR membatalkan RUU Cipta Kerja secara menyeluruh.

(Baca juga: Bermanfaat untuk Rakyat, Airlangga: RUU Cipta Kerja Dorong Pemerintahan Lebih Efisien ).

"Pada 6, 7, 8 Oktober 2020 ini Gebrak dan seluruh aliansi dan jaringan di wilayah Indonesia menyerukan aksi nasional pemogokan umum rakyat Indonesia," ujar Dewi

Dewi mengatakan, dalam aksi ini GEBRAK akan mengusung satu tuntutan, yakni meminta DPR dan pemerintah membatalkan omnibus law seluruhnya. Rapat Paripurna DPR diminta untuk tidak mengesahkan dan mengundangkan RUU Cipta Kerja.

(Baca juga: RUU Cipta Kerja Selesai Dibahas, Airlangga Ucapkan Terima Kasih ke DPR ).

Menurut dia, sejak awal omnibus law dicetuskan pemerintah, GEBRAK dan aliansi-aliansi daerah telah menyatakan sikap untuk menolak secara keseluruhan. Namun, hal ini ternyata tak didengar pemangku kepentingan.

RUU Cipta Kerja juga dinilai tidak hanya merugikan kaum buruh, tetapi juga merugikan kaum tani, masyarakat adat, pemuda, pelajar, mahasiswa, miskin kota, nelayan dan mayoritas rakyat kecil lainnya.

"Keberadaan omnibus law dinilai akan memperburuk kondisi kerja di Indonesia, upah murah, memudahkan PHK, dan merusak lingkungan," kata dia.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Davina Karamoy Dicecar...
Davina Karamoy Dicecar 30 Pertanyaan Terkait Kasus Hanania Travel
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
Republik Ceko vs Afrika...
Republik Ceko vs Afrika Selatan 1-1: Peluang Lolos ke Fase Gugur Kian Menipis
Berita Terkini
Pangi Chaniago: Kisruh...
Pangi Chaniago: Kisruh Dialog UGM Cerminan Menumpuknya Kemarahan Publik
Muktamar NU Harus Jadi...
Muktamar NU Harus Jadi Momentum Pemurnian, Bukan Arena Perebutan Kekuasaan
Kejagung Ungkap Peran...
Kejagung Ungkap Peran Glory Harimas Sihombing di Kasus Korupsi MBG: Jual Titik SPPG
Glory Harimas Sihombing...
Glory Harimas Sihombing Jadi Tersangka Baru Korupsi MBG
Sony Sanjaya Beberkan...
Sony Sanjaya Beberkan Ada Pengadaan Fiktif CCTV dan Sidik Jari Rp300 Miliar di Program MBG
Sony Sonjaya Diperiksa...
Sony Sonjaya Diperiksa Kejagung 9 Jam, Daftar Nama terkait Jual Beli Titik SPPG Bertambah Jadi 41 Orang
Infografis
AS Kembali Diguncang...
AS Kembali Diguncang Aksi Penembakan, 4 Tewas termasuk Pelaku
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved