GIC: Ziarah Kapolri Bentuk Penghormatan Tulus terhadap Tokoh Bangsa Tanpa Kecuali
Senin, 22 Juni 2026 - 15:36 WIB
loading...
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ziarah ke makam Presiden Presiden RI ke-1 Ir Soekarno (Bung Karno) di Kota Blitar, Jawa Timur, pada Sabtu (20/6/2026). Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Koordinator Gerakan Indonesia Cerah (GIC) Febri wahyuni Sabran merespons positif langkah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan ziarah ke sejumlah makam tokoh-tokoh penting bangsa Indonesia. Ziarah ke makam para mantan Presiden Republik Indonesia ini dilakukan menjelang Hari Bhayangkara ke-80.
Jenderal Sigit ziarah ke makam Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Soekarno, Soeharto, hingga Taman Makam Pahlawan. Febri Wahyuni Sabran secara khusus memberikan penilaian yang konstruktif atas kegiatan peziarahan tersebut.
“Belajar dari sejarah bukan hanya soal mengenal alur sejarah, tetapi bagaimana kita menghormati dan meneladani kebajikan-kebajikan yang mereka wariskan. Dan itulah yang dilakukan Kapolri Listyo Sigit Prabowo,” kata Febri Wahyuni Sabran di Jakarta, Senin (21/6/2026).
Baca juga: Ziarah ke Makam Soekarno di Blitar, Kapolri: Menyerap Nilai Pemimpin Bangsa
Menurut Febri, tindakan Kapolri ini merupakan teladan yang positif bagi para pemimpin di seluruh Indonesia. Ia menekankan bahwa penghormatan terhadap sejarah dan para tokoh bangsa seharusnya menjadi bagian integral dari karakter seorang pemimpin sejati, bukan sekadar formalitas atau pencitraan semata.
Gestur seperti ini dinilai penting untuk memperkuat koneksi emosional dan moral antara pemimpin masa kini dengan nilai-nilai perjuangan para pendahulu. “Dari Presiden Abdurrahman Wahid kita belajar tentang simbol pluralisme, toleransi, dan kepemimpinan yang merakyat,” ujarnya.
Febri mengatakan, Gus Dur dikenang sebagai pemimpin yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dan keberagaman Indonesia. “Dari Presiden Soekarno kita menimba semangat nasionalisme, persatuan, dan visi besar tentang Indonesia yang berdaulat dan bermartabat. Dari Presiden Soeharto kita belajar tentang stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” jelas Febri.
Dari para pahlawan yang gugur membela bangsa, Febri menilai kunjungan ini sebagai sesuatu yang mencerminkan penghormatan kepada seluruh pejuang kemerdekaan tanpa terkecuali.
Jenderal Sigit ziarah ke makam Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Soekarno, Soeharto, hingga Taman Makam Pahlawan. Febri Wahyuni Sabran secara khusus memberikan penilaian yang konstruktif atas kegiatan peziarahan tersebut.
“Belajar dari sejarah bukan hanya soal mengenal alur sejarah, tetapi bagaimana kita menghormati dan meneladani kebajikan-kebajikan yang mereka wariskan. Dan itulah yang dilakukan Kapolri Listyo Sigit Prabowo,” kata Febri Wahyuni Sabran di Jakarta, Senin (21/6/2026).
Baca juga: Ziarah ke Makam Soekarno di Blitar, Kapolri: Menyerap Nilai Pemimpin Bangsa
Menurut Febri, tindakan Kapolri ini merupakan teladan yang positif bagi para pemimpin di seluruh Indonesia. Ia menekankan bahwa penghormatan terhadap sejarah dan para tokoh bangsa seharusnya menjadi bagian integral dari karakter seorang pemimpin sejati, bukan sekadar formalitas atau pencitraan semata.
Gestur seperti ini dinilai penting untuk memperkuat koneksi emosional dan moral antara pemimpin masa kini dengan nilai-nilai perjuangan para pendahulu. “Dari Presiden Abdurrahman Wahid kita belajar tentang simbol pluralisme, toleransi, dan kepemimpinan yang merakyat,” ujarnya.
Febri mengatakan, Gus Dur dikenang sebagai pemimpin yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dan keberagaman Indonesia. “Dari Presiden Soekarno kita menimba semangat nasionalisme, persatuan, dan visi besar tentang Indonesia yang berdaulat dan bermartabat. Dari Presiden Soeharto kita belajar tentang stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” jelas Febri.
Dari para pahlawan yang gugur membela bangsa, Febri menilai kunjungan ini sebagai sesuatu yang mencerminkan penghormatan kepada seluruh pejuang kemerdekaan tanpa terkecuali.
(rca)
Lihat Juga :