Kuliah Umum di IPDN, Menko AHY Ajak Praja Taklukkan Tantangan Geografis Indonesia
Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:39 WIB
loading...
A
A
A
Karena itu, kata AHY, Indonesia tidak boleh menjadikan geografi sebagai alasan untuk menyerah. AHY menjelaskan Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan negara-negara kontinental seperti Amerika Serikat, Rusia, maupun China. “Geografi adalah tantangan yang harus ditaklukkan, bukan takdir yang harus diterima,” ujarnya.
Dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan. Distribusi barang dan mobilitas manusia tidak dapat hanya mengandalkan jalur darat, tetapi membutuhkan kombinasi transportasi laut, udara, jalan raya, hingga perkeretaapian yang saling terhubung. Kondisi tersebut membuat biaya logistik Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan banyak negara lain dan berpengaruh langsung terhadap harga barang serta pemerataan pembangunan.
Lihat video: Bantu Aceh Tamiang, 1.138 Praja IPDN Diterjunkan Pulihkan Wilayah Pasca-Bencana
Karena itu, menurut AHY, pembangunan nasional harus berorientasi pada konektivitas yang mampu menghubungkan seluruh wilayah Indonesia secara lebih efektif. “Pembangunan Indonesia tidak bisa Jawa-sentris. Pembangunan harus dirasakan secara merata, dari Aceh sampai Papua, dari Sabang sampai Merauke,” paparnya.
AHY menegaskan pembangunan infrastruktur pada akhirnya bukan sekadar membangun jalan, pelabuhan, bandara, bendungan, atau jaringan transportasi lainnya. Lebih dari itu, pembangunan infrastruktur adalah upaya memperpendek jarak ekonomi, membuka akses terhadap pelayanan publik, serta menghadirkan kesempatan yang lebih setara bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Seorang petani di Papua, nelayan di Maluku, pelaku UMKM di Nusa Tenggara, maupun masyarakat di Pulau Jawa harus memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan, layanan kesehatan, pasar, dan peluang ekonomi. “Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang mampu menghadirkan kesempatan yang setara bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan. Distribusi barang dan mobilitas manusia tidak dapat hanya mengandalkan jalur darat, tetapi membutuhkan kombinasi transportasi laut, udara, jalan raya, hingga perkeretaapian yang saling terhubung. Kondisi tersebut membuat biaya logistik Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan banyak negara lain dan berpengaruh langsung terhadap harga barang serta pemerataan pembangunan.
Lihat video: Bantu Aceh Tamiang, 1.138 Praja IPDN Diterjunkan Pulihkan Wilayah Pasca-Bencana
Karena itu, menurut AHY, pembangunan nasional harus berorientasi pada konektivitas yang mampu menghubungkan seluruh wilayah Indonesia secara lebih efektif. “Pembangunan Indonesia tidak bisa Jawa-sentris. Pembangunan harus dirasakan secara merata, dari Aceh sampai Papua, dari Sabang sampai Merauke,” paparnya.
AHY menegaskan pembangunan infrastruktur pada akhirnya bukan sekadar membangun jalan, pelabuhan, bandara, bendungan, atau jaringan transportasi lainnya. Lebih dari itu, pembangunan infrastruktur adalah upaya memperpendek jarak ekonomi, membuka akses terhadap pelayanan publik, serta menghadirkan kesempatan yang lebih setara bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Seorang petani di Papua, nelayan di Maluku, pelaku UMKM di Nusa Tenggara, maupun masyarakat di Pulau Jawa harus memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan, layanan kesehatan, pasar, dan peluang ekonomi. “Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang mampu menghadirkan kesempatan yang setara bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Lihat Juga :