MBG Perlu Dilanjutkan dengan Evaluasi, Perbaikan Tata Kelola, dan Efisiensi Anggaran
Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:36 WIB
loading...
A
A
A
Menurutnya, daerah memiliki hubungan langsung dengan sumber pangan lokal. Di banyak wilayah, penyediaan MBG dapat bersentuhan langsung dengan petani, peternak, dan pelaku ekonomi setempat. Karena itu, program ini memiliki efek berganda terhadap ekonomi masyarakat bawah.
“Di daerah, rantai pasok MBG bisa langsung melibatkan petani sayur, peternak ayam, peternak ikan, serta pelaku usaha kecil. Jadi dampaknya bukan hanya pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga pada perputaran ekonomi lokal,” jelasnya.
Dia juga menegaskan bahwa evaluasi terhadap MBG merupakan hal yang wajar karena program ini masih terus berkembang. Menurut dia, evaluasi tidak boleh dimaknai sebagai alasan untuk menghentikan program, tetapi sebagai langkah untuk memastikan program berjalan lebih efektif, efisien, sehat, dan tepat sasaran.
Sejalan dengan arahan Menteri Keuangan, kata dia, pelaksanaan MBG perlu tetap memperhatikan efisiensi anggaran. Dikatakannya, pemerintah dapat melakukan penyesuaian terhadap skema pelaksanaan, termasuk jumlah hari penyajian, pola distribusi, serta pengurangan komponen belanja yang tidak langsung berkaitan dengan pemenuhan gizi anak.
Dengan demikian, anggaran negara dapat digunakan secara lebih efektif dan tetap memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. “Efisiensi anggaran bukan berarti mengurangi manfaat bagi masyarakat. Justru efisiensi perlu dilakukan agar anggaran fokus pada hal yang paling penting, yaitu pemenuhan gizi anak-anak Indonesia, terutama anak-anak di daerah,” ujarnya.
Ia menambahkan, komponen-komponen yang tidak mendesak atau berpotensi menimbulkan pemborosan perlu dipangkas. Fokus utama MBG harus diarahkan pada kualitas makanan, kebersihan, keamanan pangan, ketepatan sasaran, dan manfaat langsung bagi penerima.
“Di daerah, rantai pasok MBG bisa langsung melibatkan petani sayur, peternak ayam, peternak ikan, serta pelaku usaha kecil. Jadi dampaknya bukan hanya pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga pada perputaran ekonomi lokal,” jelasnya.
Dia juga menegaskan bahwa evaluasi terhadap MBG merupakan hal yang wajar karena program ini masih terus berkembang. Menurut dia, evaluasi tidak boleh dimaknai sebagai alasan untuk menghentikan program, tetapi sebagai langkah untuk memastikan program berjalan lebih efektif, efisien, sehat, dan tepat sasaran.
Sejalan dengan arahan Menteri Keuangan, kata dia, pelaksanaan MBG perlu tetap memperhatikan efisiensi anggaran. Dikatakannya, pemerintah dapat melakukan penyesuaian terhadap skema pelaksanaan, termasuk jumlah hari penyajian, pola distribusi, serta pengurangan komponen belanja yang tidak langsung berkaitan dengan pemenuhan gizi anak.
Dengan demikian, anggaran negara dapat digunakan secara lebih efektif dan tetap memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. “Efisiensi anggaran bukan berarti mengurangi manfaat bagi masyarakat. Justru efisiensi perlu dilakukan agar anggaran fokus pada hal yang paling penting, yaitu pemenuhan gizi anak-anak Indonesia, terutama anak-anak di daerah,” ujarnya.
Ia menambahkan, komponen-komponen yang tidak mendesak atau berpotensi menimbulkan pemborosan perlu dipangkas. Fokus utama MBG harus diarahkan pada kualitas makanan, kebersihan, keamanan pangan, ketepatan sasaran, dan manfaat langsung bagi penerima.
Lihat Juga :