Pertemuan Istana Elysee, Denny JA: Macron-Prabowo Arsitek Poros Baru Negara Menengah
Jum'at, 29 Mei 2026 - 21:09 WIB
loading...
A
A
A
Di sisi lain, Denny melihat kualitas kepemimpinan geopolitik yang serupa pada Presiden Prabowo Subianto. Belum genap dua tahun memimpin, Prabowo dinilai sukses membangun komunikasi intensif dengan lima negara pemilik hak veto PBB, yaitu AS, China, Rusia, Inggris, dan Prancis, tanpa terjebak dalam blok tertentu.
Kemampuan menjaga keseimbangan ini membuat media Prancis, menjuluki Indonesia sebagai Naga Asia terakhir yang bangkit. Julukan ini lahir dari kombinasi pertumbuhan ekonomi, bonus demografi, serta posisi strategis Indonesia.
"Prabowo memahami bahwa abad ke-21 bukan lagi era negara yang kuat karena kekayaan alam semata. Negara akan kuat jika mampu membangun jaringan, teknologi, investasi, ketahanan pangan, energi, dan pertahanan secara bersamaan," jelas Denny, seraya menambahkan bahwa diplomasi Prabowo adalah diplomasi pembangunan.
Meski kedua pemimpin menghadapi tantangannya masing-masing—Macron dengan dinamika domestik pasca-pembubaran parlemen dan Prabowo dengan tantangan fiskal program unggulannya—sinergi keduanya dinilai memberi sinyal kuat bagi tatanan dunia baru.
Denny JA optimistis di masa depan, negara-negara menengah tidak lagi sekadar menjadi penonton pertarungan para raksasa, melainkan penentu arah permainan. "Di abad yang penuh ketidakpastian ini, yang akan bertahan bukanlah mereka yang paling keras suaranya. Yang akan bertahan adalah mereka yang paling mampu menjembatani dunia yang terbelah," katanya.
Kemampuan menjaga keseimbangan ini membuat media Prancis, menjuluki Indonesia sebagai Naga Asia terakhir yang bangkit. Julukan ini lahir dari kombinasi pertumbuhan ekonomi, bonus demografi, serta posisi strategis Indonesia.
"Prabowo memahami bahwa abad ke-21 bukan lagi era negara yang kuat karena kekayaan alam semata. Negara akan kuat jika mampu membangun jaringan, teknologi, investasi, ketahanan pangan, energi, dan pertahanan secara bersamaan," jelas Denny, seraya menambahkan bahwa diplomasi Prabowo adalah diplomasi pembangunan.
Meski kedua pemimpin menghadapi tantangannya masing-masing—Macron dengan dinamika domestik pasca-pembubaran parlemen dan Prabowo dengan tantangan fiskal program unggulannya—sinergi keduanya dinilai memberi sinyal kuat bagi tatanan dunia baru.
Denny JA optimistis di masa depan, negara-negara menengah tidak lagi sekadar menjadi penonton pertarungan para raksasa, melainkan penentu arah permainan. "Di abad yang penuh ketidakpastian ini, yang akan bertahan bukanlah mereka yang paling keras suaranya. Yang akan bertahan adalah mereka yang paling mampu menjembatani dunia yang terbelah," katanya.
(cip)
Lihat Juga :