Arif Satria Sebut Riset Biodiversitas Indonesia Terlalu Fokus di Jawa
Senin, 25 Mei 2026 - 13:06 WIB
loading...
Kepala BRIN Arif Satria mengakui riset biodiversitasmasih cenderung bias Jawa. Akibatnya eksplorasi kekayaan hayati di luar Jawa belum tergambar secara utuh. Foto/Yuwantoro Winduajie
A
A
A
JAKARTA - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengakui riset biodiversitas di Indonesia selama ini masih cenderung bias Jawa. Kondisi itu membuat eksplorasi kekayaan hayati di wilayah luar Jawa belum tergambar secara utuh.
Arif memaparkan, sejauh ini jenis tanaman yang sudah dieksplorasi di Pulau Jawa mencapai sekitar 12.000 spesies. Sementara di Papua sekitar 8.000 spesies dan di Kalimantan sekitar 11.000 spesies.
Baca juga: Peneliti Indonesia Kembali Temukan Jenis Baru Rafflesia
“Itu menunjukkan bahwa kita memang masih bias Jawa riset-riset yang dilakukan terkait dengan soal biodiversitas,” kata Arif Satria di sela acara pameran dan ekspose spesies flora baru di Kantor BRIN, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).
Arif menjelaskan, bukan berarti biodiversitas di Pulau Jawa lebih tinggi dibanding wilayah lain, melainkan karena upaya penelitian di luar Jawa belum maksimal. Menurut dia, wilayah seperti Papua, Kalimantan, dan Sumatra yang memiliki luasan jauh lebih besar dari Jawa diyakini menyimpan kekayaan biodiversitas yang lebih tinggi.
“Karena kita yakin dengan luasan yang sekian kali lipat lebih dari pada Jawa; Papua, Kalimantan, dan Sumatra, saya yakin kita meyakini bahwa biodiversitasnya akan lebih tinggi,” katanya.
Baca juga: BRIN Perluas Kolaborasi Global melalui Kedutaan Asing
Karena itu, BRIN berkomitmen mengurangi bias riset yang selama ini terpusat di Jawa dengan memperbanyak ekspedisi penelitian ke berbagai wilayah Nusantara.
“Oleh karena itu ini ke depan justru riset yang bias Jawa ini akan kita kurangi dan kita akan banyak ke luar Jawa itu untuk mendapatkan gambaran biodiversitas secara lebih utuh lagi,” ucapnya.
Ia menambahkan, pengenalan spesies baru penting untuk membuka peluang bioprospeksi, termasuk pengembangan obat berbasis sumber daya hayati lokal.
Arif mencontohkan, Indonesia memiliki lebih dari 30.000 spesies flora, dengan sekitar 9.600 spesies berpotensi menjadi obat. Namun, dari jumlah itu baru sekitar 20 jenis yang sudah benar-benar dimanfaatkan sebagai obat.
“Jadi masih banyak PR kita di dalam pengembangan obat-obatan kesehatan agar bisa terus memanfaatkan sumber daya lokal yang kita miliki,” katanya.
Arif memaparkan, sejauh ini jenis tanaman yang sudah dieksplorasi di Pulau Jawa mencapai sekitar 12.000 spesies. Sementara di Papua sekitar 8.000 spesies dan di Kalimantan sekitar 11.000 spesies.
Baca juga: Peneliti Indonesia Kembali Temukan Jenis Baru Rafflesia
“Itu menunjukkan bahwa kita memang masih bias Jawa riset-riset yang dilakukan terkait dengan soal biodiversitas,” kata Arif Satria di sela acara pameran dan ekspose spesies flora baru di Kantor BRIN, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).
Arif menjelaskan, bukan berarti biodiversitas di Pulau Jawa lebih tinggi dibanding wilayah lain, melainkan karena upaya penelitian di luar Jawa belum maksimal. Menurut dia, wilayah seperti Papua, Kalimantan, dan Sumatra yang memiliki luasan jauh lebih besar dari Jawa diyakini menyimpan kekayaan biodiversitas yang lebih tinggi.
“Karena kita yakin dengan luasan yang sekian kali lipat lebih dari pada Jawa; Papua, Kalimantan, dan Sumatra, saya yakin kita meyakini bahwa biodiversitasnya akan lebih tinggi,” katanya.
Baca juga: BRIN Perluas Kolaborasi Global melalui Kedutaan Asing
Karena itu, BRIN berkomitmen mengurangi bias riset yang selama ini terpusat di Jawa dengan memperbanyak ekspedisi penelitian ke berbagai wilayah Nusantara.
“Oleh karena itu ini ke depan justru riset yang bias Jawa ini akan kita kurangi dan kita akan banyak ke luar Jawa itu untuk mendapatkan gambaran biodiversitas secara lebih utuh lagi,” ucapnya.
Ia menambahkan, pengenalan spesies baru penting untuk membuka peluang bioprospeksi, termasuk pengembangan obat berbasis sumber daya hayati lokal.
Arif mencontohkan, Indonesia memiliki lebih dari 30.000 spesies flora, dengan sekitar 9.600 spesies berpotensi menjadi obat. Namun, dari jumlah itu baru sekitar 20 jenis yang sudah benar-benar dimanfaatkan sebagai obat.
“Jadi masih banyak PR kita di dalam pengembangan obat-obatan kesehatan agar bisa terus memanfaatkan sumber daya lokal yang kita miliki,” katanya.
(shf)
Lihat Juga :