Pidato Ekonomi Presiden: Antara Optimisme dan Realitas Pertumbuhan
Minggu, 24 Mei 2026 - 20:20 WIB
loading...
A
A
A
Persoalan ini juga menyangkut kualitas Pekerja Migran Indonesia (PMI). Jika Indonesia ingin meningkatkan devisa dan kualitas tenaga kerja global, maka pekerja migran Indonesia juga harus diarahkan memasuki sektor-sektor pekerjaan berpenghasilan tinggi seperti yang dilakukan Filipina dan India.
Filipina misalnya telah mampu menjadikan remitansi pekerja migran sebagai salah satu penopang penting ekonomi nasional dengan nilai puluhan miliar dolar setiap tahun. Sementara Indonesia masih relatif tertinggal karena sebagian besar PMI masih terkonsentrasi pada pekerjaan berupah rendah akibat keterbatasan keterampilan, sertifikasi internasional, dan penguasaan bahasa asing.
Karena itu, peningkatan kualitas SDM bukan hanya penting bagi PMI, tetapi menjadi kebutuhan mendesak bagi seluruh tenaga kerja Indonesia jika bangsa ini benar-benar ingin naik kelas menjadi negara industri modern.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah keberanian memberantas korupsi dan membangun kepastian hukum. Investor hanya akan masuk dalam jumlah besar jika negara mampu memberikan rasa aman, regulasi yang jelas, birokrasi yang efisien, dan kepastian hukum yang konsisten. Dalam hal ini, Indonesia harus bersaing dengan Malaysia, Thailand, dan terutama Vietnam yang saat ini berkembang sangat cepat sebagai basis manufaktur global.
Karena itu, pidato ekonomi Presiden sesungguhnya tidak cukup hanya dimaknai sebagai optimisme politik semata. Ia harus diterjemahkan menjadi kerja besar nasional melalui tata kelola pemerintahan yang bersih, industrialisasi yang nyata, hilirisasi yang luas, peningkatan kualitas manusia Indonesia, dan keberanian melakukan reformasi ekonomi secara konsisten.
Optimisme tetap penting. Sebab bangsa yang kehilangan optimisme akan sulit bergerak maju. Tetapi optimisme hanya akan menjadi kenyataan jika bertemu dengan kerja keras, disiplin nasional, dan kesediaan untuk berjuang menghadapi kenyataan yang tentu tidak mudah.
Filipina misalnya telah mampu menjadikan remitansi pekerja migran sebagai salah satu penopang penting ekonomi nasional dengan nilai puluhan miliar dolar setiap tahun. Sementara Indonesia masih relatif tertinggal karena sebagian besar PMI masih terkonsentrasi pada pekerjaan berupah rendah akibat keterbatasan keterampilan, sertifikasi internasional, dan penguasaan bahasa asing.
Karena itu, peningkatan kualitas SDM bukan hanya penting bagi PMI, tetapi menjadi kebutuhan mendesak bagi seluruh tenaga kerja Indonesia jika bangsa ini benar-benar ingin naik kelas menjadi negara industri modern.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah keberanian memberantas korupsi dan membangun kepastian hukum. Investor hanya akan masuk dalam jumlah besar jika negara mampu memberikan rasa aman, regulasi yang jelas, birokrasi yang efisien, dan kepastian hukum yang konsisten. Dalam hal ini, Indonesia harus bersaing dengan Malaysia, Thailand, dan terutama Vietnam yang saat ini berkembang sangat cepat sebagai basis manufaktur global.
Karena itu, pidato ekonomi Presiden sesungguhnya tidak cukup hanya dimaknai sebagai optimisme politik semata. Ia harus diterjemahkan menjadi kerja besar nasional melalui tata kelola pemerintahan yang bersih, industrialisasi yang nyata, hilirisasi yang luas, peningkatan kualitas manusia Indonesia, dan keberanian melakukan reformasi ekonomi secara konsisten.
Optimisme tetap penting. Sebab bangsa yang kehilangan optimisme akan sulit bergerak maju. Tetapi optimisme hanya akan menjadi kenyataan jika bertemu dengan kerja keras, disiplin nasional, dan kesediaan untuk berjuang menghadapi kenyataan yang tentu tidak mudah.
(shf)
Lihat Juga :