Memanusiakan Jalan Raya: Lebih dari Sekadar Aspal dan Marka
Senin, 13 April 2026 - 11:26 WIB
loading...
A
A
A
Jalanan seolah menjadi panggung ego, di mana setiap jengkal aspal diperebutkan demi sampai lebih cepat beberapa menit di tujuan.
Budaya menyerobot dan mengabaikan hak sesama telah menjadi pemandangan biasa. Trotoar yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki seringkali diinvasi oleh kendaraan bermotor.
Memanusiakan jalan berarti mengembalikan fungsi jalan sebagai ruang publik yang setara. Di jalan raya, keselamatan seorang penyeberang jalan haruslah setara harganya dengan kenyamanan pengendara mobil mewah. Kendaraan yang lebih besar memiliki tanggung jawab moral lebih tinggi untuk melindungi pengguna jalan yang lebih rentan.
Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, perlu dipahami bahwa keselamatan bukan hanya soal keberuntungan, melainkan hasil dari perencanaan yang matang. Dalam disiplin ilmu transportasi, dikenal konsep Forgiving Road atau "Jalan yang Pemaaf".
Konsep ini mengakui bahwa manusia bukanlah makhluk sempurna; manusia bisa lelah, bisa khilaf, dan bisa salah mengambil keputusan dalam sepersekian detik.
Desain jalan yang memanusiakan manusia adalah desain yang mampu memitigasi kesalahan tersebut agar tidak berakibat fatal. Namun, infrastruktur yang baik akan sia-sia tanpa perilaku pengguna yang juga memiliki sifat "pemaaf".
Memanusiakan jalan berarti memberikan ruang bagi kekhilafan orang lain di jalan raya, menahan diri dari emosi yang meledak, dan menyadari bahwa setiap orang memiliki risiko yang sama untuk melakukan kesalahan.
Saat ini dunia sedang menggaungkan Vision Zero—sebuah komitmen global bahwa tidak ada satu pun nyawa yang boleh hilang di jalan raya. Target "nol kecelakaan" mungkin terdengar utopis bagi sebagian orang.
Budaya menyerobot dan mengabaikan hak sesama telah menjadi pemandangan biasa. Trotoar yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki seringkali diinvasi oleh kendaraan bermotor.
Memanusiakan jalan berarti mengembalikan fungsi jalan sebagai ruang publik yang setara. Di jalan raya, keselamatan seorang penyeberang jalan haruslah setara harganya dengan kenyamanan pengendara mobil mewah. Kendaraan yang lebih besar memiliki tanggung jawab moral lebih tinggi untuk melindungi pengguna jalan yang lebih rentan.
Membangun Infrastruktur yang "Pemaaf"
Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, perlu dipahami bahwa keselamatan bukan hanya soal keberuntungan, melainkan hasil dari perencanaan yang matang. Dalam disiplin ilmu transportasi, dikenal konsep Forgiving Road atau "Jalan yang Pemaaf".
Konsep ini mengakui bahwa manusia bukanlah makhluk sempurna; manusia bisa lelah, bisa khilaf, dan bisa salah mengambil keputusan dalam sepersekian detik.
Desain jalan yang memanusiakan manusia adalah desain yang mampu memitigasi kesalahan tersebut agar tidak berakibat fatal. Namun, infrastruktur yang baik akan sia-sia tanpa perilaku pengguna yang juga memiliki sifat "pemaaf".
Memanusiakan jalan berarti memberikan ruang bagi kekhilafan orang lain di jalan raya, menahan diri dari emosi yang meledak, dan menyadari bahwa setiap orang memiliki risiko yang sama untuk melakukan kesalahan.
Visi Nol: Sebuah Komitmen Kemanusiaan Bersama
Saat ini dunia sedang menggaungkan Vision Zero—sebuah komitmen global bahwa tidak ada satu pun nyawa yang boleh hilang di jalan raya. Target "nol kecelakaan" mungkin terdengar utopis bagi sebagian orang.
Lihat Juga :