Cucu Soekarno Bicara Demokrasi Seharusnya Mengoreksi, Bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara
Rabu, 08 April 2026 - 06:14 WIB
loading...
Didi Mahardhika Soekarno menyalami Presiden Prabowo Subianto. Foto: Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Suara tentang nasionalisme kembali menemukan relevansinya di tengah tekanan global dan dinamika politik dalam negeri. Menurut cucu Soekarno, Didi Mahardhika Soekarno, tantangan terbesar bangsa saat ini bukan hanya soal ekonomi atau geopolitik, melainkan juga arah demokrasi yang mulai dipraktikkan secara keliru oleh sebagian pihak.
Didi menilai bahwa nasionalisme harus tetap menjadi fondasi dalam setiap praktik bernegara. Akan tetapi, ia menyoroti adanya gejala demokrasi tidak lagi dijalankan sebagai alat koreksi yang sehat, tetapi dijadikan instrumen delegitimasi pemerintahan.
'Demokrasi seharusnya mengoreksi, bukan meruntuhkan legitimasi negara' menjadi garis pemikiran yang ia dorong dalam melihat situasi kekinian. Didi mengatakan, kritik terhadap pemerintah adalah bagian penting dalam sistem demokrasi.
Baca juga: Seskab Teddy Respons Saiful Mujani: Bapak Presiden Ngurusin Hal Besar
“Namun ketika kritik tersebut tidak lagi bertujuan memperbaiki, melainkan melemahkan kepercayaan publik secara sistematis, maka yang terjadi adalah distorsi demokrasi," ujar Didi Mahardika Soekarno, dikutip Rabu (8/4/2026).
Ia menilai praktik seperti ini berbahaya, terutama di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Polarisasi yang dipicu oleh delegitimasi politik justru dapat menggerus persatuan nasional dan melemahkan posisi Indonesia di kancah internasional.
Sebagai putra Rachmawati Soekarnoputri, Didi menegaskan bahwa demokrasi Indonesia harus tetap berpijak pada nilai gotong royong, musyawarah, dan kepentingan bangsa. Ia mengingatkan, kebebasan berpendapat tidak boleh berubah menjadi alat menciptakan ketidakstabilan.
![Cucu Soekarno Bicara Demokrasi Seharusnya Mengoreksi, Bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara]()
Didi melihat, dalam situasi saat ini, Indonesia membutuhkan stabilitas politik yang ditopang kritik konstruktif, bukan serangan yang melemahkan legitimasi negara. Baginya, nasionalisme tidak hanya soal melawan pengaruh luar, tetapi juga menjaga kohesi di dalam negeri.
Sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Didi menempatkan dirinya dalam posisi untuk terus mendorong narasi kebangsaan yang menyejukkan sekaligus tegas. Ia mengingatkan, perjuangan menjaga Indonesia tidak berhenti pada kemerdekaan, tetapi berlanjut dalam menjaga arah demokrasi agar tetap berada di jalur yang memperkuat, bukan melemahkan, bangsa.
Di tengah derasnya arus informasi dan kontestasi politik, pemikiran Didi menjadi pengingat nasionalisme dan demokrasi sejatinya harus berjalan seiring, saling menguatkan demi keutuhan dan masa depan Indonesia.
Didi menilai bahwa nasionalisme harus tetap menjadi fondasi dalam setiap praktik bernegara. Akan tetapi, ia menyoroti adanya gejala demokrasi tidak lagi dijalankan sebagai alat koreksi yang sehat, tetapi dijadikan instrumen delegitimasi pemerintahan.
'Demokrasi seharusnya mengoreksi, bukan meruntuhkan legitimasi negara' menjadi garis pemikiran yang ia dorong dalam melihat situasi kekinian. Didi mengatakan, kritik terhadap pemerintah adalah bagian penting dalam sistem demokrasi.
Baca juga: Seskab Teddy Respons Saiful Mujani: Bapak Presiden Ngurusin Hal Besar
“Namun ketika kritik tersebut tidak lagi bertujuan memperbaiki, melainkan melemahkan kepercayaan publik secara sistematis, maka yang terjadi adalah distorsi demokrasi," ujar Didi Mahardika Soekarno, dikutip Rabu (8/4/2026).
Ia menilai praktik seperti ini berbahaya, terutama di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Polarisasi yang dipicu oleh delegitimasi politik justru dapat menggerus persatuan nasional dan melemahkan posisi Indonesia di kancah internasional.
Sebagai putra Rachmawati Soekarnoputri, Didi menegaskan bahwa demokrasi Indonesia harus tetap berpijak pada nilai gotong royong, musyawarah, dan kepentingan bangsa. Ia mengingatkan, kebebasan berpendapat tidak boleh berubah menjadi alat menciptakan ketidakstabilan.
.jpg)
Didi melihat, dalam situasi saat ini, Indonesia membutuhkan stabilitas politik yang ditopang kritik konstruktif, bukan serangan yang melemahkan legitimasi negara. Baginya, nasionalisme tidak hanya soal melawan pengaruh luar, tetapi juga menjaga kohesi di dalam negeri.
Sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Didi menempatkan dirinya dalam posisi untuk terus mendorong narasi kebangsaan yang menyejukkan sekaligus tegas. Ia mengingatkan, perjuangan menjaga Indonesia tidak berhenti pada kemerdekaan, tetapi berlanjut dalam menjaga arah demokrasi agar tetap berada di jalur yang memperkuat, bukan melemahkan, bangsa.
Di tengah derasnya arus informasi dan kontestasi politik, pemikiran Didi menjadi pengingat nasionalisme dan demokrasi sejatinya harus berjalan seiring, saling menguatkan demi keutuhan dan masa depan Indonesia.
(rca)
Lihat Juga :