IPB University Sebut Pentingnya Sistem Pangan sebagai Kunci Swasembada

Senin, 30 Maret 2026 - 17:10 WIB
loading...
IPB University Sebut...
Sistem pangan nasional yang kuat dan terintegrasi dinilai penting dalam mewujudkan swasembada. Foto/SindoNews
A A A
JAKARTA - Sistem pangan nasional yang kuat dan terintegrasi dinilai penting dalam mewujudkan swasembada. Hal itu agar pasokan pangan tetap terjaga dan masyarakat dapat mengakses pangan dengan harga yang wajar.

Pakar pertanian dari IPB University Bayu Krisnamurthi menilai pembangunan sektor pangan di Indonesia tidak dapat lagi dipandang sebatas produksi komoditas. Menurutnya, pangan harus dipahami sebagai sebuah sistem yang saling terhubung dari hulu hingga hilir agar kebijakan yang diambil mampu menjamin ketersediaan dan kesejahteraan pelaku di dalamnya, khususnya petani.

“Semua faktor dalam sistem pangan saling terkait. Gangguan pada satu faktor akan memengaruhi keseluruhan sistem,” ujarnya, Senin (30/3/2026).

Baca juga: Jaga Harga Usai Lebaran, 100 Ribu Bantuan Pangan Disalurkan

Bayu mencontohkan, kelangkaan benih sayuran unggul berkualitas, masalah transportasi distribusi, hingga harga yang terlalu mahal dapat berdampak langsung pada akses konsumen rumah tangga terhadap pangan. “Kalau salah satu bagian terganggu, konsumen tidak akan mendapat sayur sebagaimana yang diharapkan,” katanya.

Bayu juga menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam mengukur kesejahteraan petani yang memegang peran sentral dalam sistem pangan. Bayu menyambut baik kebijakan pemerintah yang memasukkan Indeks Kesejahteraan Petani (IKP) sebagai salah satu indikator kinerja dalam APBN 2026.

Lihat video: Prabowo Klaim Indonesia Aman Masalah Pangan di Tengah Ancaman Perang


Menurut Bayu, indikator tersebut menjadi penyempurnaan dari instrumen yang selama ini digunakan, seperti Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN). “Indeks Kesejahteraan Petani sudah menangkap sifat multidimensi kesejahteraan petani melalui 21 variabel,” ujarnya.

Bayu menyebut, pada September 2025 Badan Anggaran DPR RI bersama pemerintah menyepakati penambahan tiga indikator kesejahteraan rakyat dalam RAPBN 2026, yakni IKP, penciptaan lapangan kerja formal, dan Gross National Income (GNI) per kapita. Setelah RAPBN disahkan menjadi APBN 2026, ketiga indikator tersebut resmi digunakan untuk mengukur efektivitas pelaksanaan anggaran negara.

Dari perspektif bisnis, Bayu menilai tantangan terbesar dalam membangun sistem pangan berkelanjutan adalah perubahan pola pikir. “Tantangan terbesarnya adalah mengubah cara pikir dari sektoral yang terkotak-kotak menjadi satu kesatuan sistem,” katanya.

Menurut dia, selama ini kebijakan pangan kerap diperlakukan secara parsial, padahal setiap komponen mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi saling memengaruhi. Prof. Bayu menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam membangun sistem pangan nasional. Ia menyebut pendekatan pentahelix melibatkan pemerintah, sektor swasta, akademisi, media, dan organisasi non-pemerintah yang masing-masing memegang peran dan saling melengkapi. “Sistem pangan membutuhkan peran optimal semua pihak,” tegasnya.

Dalam konteks bisnis, ia menilai perusahaan benih memiliki peran strategis. Selain mengembangkan teknologi dan inovasi pertanian, perusahaan benih juga memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan varietas serta pengelolaan hak kekayaan intelektual. “Perusahaan benih memiliki akumulasi pengetahuan dan pengalaman yang sangat penting bagi pengembangan teknologi pertanian,” katanya.

Sejalan dengan pandangan tersebut, industri benih juga menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam penguatan sistem pangan nasional. Perusahaan benih nasional PT East West Seed Indonesia (Ewindo) menyatakan bahwa pengembangan inovasi benih dan solusi pertanian menjadi bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung keberlanjutan sektor pangan.

Corporate Secretary PT East West Seed Indonesia (Ewindo), Faisal Reza menuturkan bahwa perusahaan secara konsisten berinvestasi dalam penelitian, pengembangan varietas unggul, serta peningkatan kapasitas petani melalui berbagai program pendampingan. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan petani memiliki akses terhadap teknologi benih yang adaptif terhadap perubahan iklim, produktif, serta mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.

“Komitmen kami adalah menghadirkan inovasi dan solusi yang relevan bagi petani Indonesia dalam jangka panjang. Melalui pengembangan benih unggul dan dukungan teknis kepada petani, kami ingin menjadi bagian dari penguatan sistem pangan nasional yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” ujar Corporate Secretary PT East West Seed Indonesia (Ewindo), Faisal Reza.

Bayu menilai pemerintah telah memberi ruang bagi perusahaan benih untuk berkembang. Namun, menurutnya, dukungan tersebut masih perlu diperkuat. Ia menekankan bahwa pemerintah dapat berperan sebagai fasilitator dan “enabler” dalam membangun ekosistem perbenihan nasional.

“Pemerintah dapat menjadi fasilitator bagi ekosistem pengembangan perbenihan dengan perusahaan benih sebagai simpul intinya,” ujarnya.

Dengan pendekatan sistem yang terintegrasi dan dukungan kolaborasi multipihak, Prof. Bayu optimistis Indonesia dapat mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan. “Swasembada pangan berkelanjutan hanya bisa dicapai jika sistem pangan berjalan secara komprehensif dan berfungsi dengan baik,” katanya.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Potensi Gula Non-Tebu...
Potensi Gula Non-Tebu yang Dianaktirikan
DPR: Swasembada Migas...
DPR: Swasembada Migas Sama Pentingnya dengan Swasembada Pangan
Komisi IV DPR Sebut...
Komisi IV DPR Sebut PSN Wanam Harus Tetap Jalan untuk Wujudkan Ketahanan Pangan
Momen Prabowo Panen...
Momen Prabowo Panen Raya Jagung di Tuban, Naiki Alat Berat hingga Pakai Topi Koboi
Polri Target Bangun...
Polri Target Bangun 1.500 SPPG di Indonesia pada 2026
Puji Polri, Prabowo:...
Puji Polri, Prabowo: Kalian Sering Dicaci Maki tapi Tak Pantang Menyerah
GKSI Berdayakan Peternak...
GKSI Berdayakan Peternak dan Koperasi Susu untuk Perkuat Program MBG
Mengapa Kunang-Kunang...
Mengapa Kunang-Kunang Semakin Sulit Ditemukan? Pakar IPB Ungkap Penyebabnya
Program Ketahanan Pangan,...
Program Ketahanan Pangan, Puluhan Hektare Sawah di Batang Ditanami Padi Hasil Riset
Rekomendasi
Meriahkan HUT ke-499...
Meriahkan HUT ke-499 Jakarta, 2.000 Anak Ikuti Khitanan Massal Gratis
Perundingan Iran-AS...
Perundingan Iran-AS Hasilkan 4 Kesepakatan Utama, Negosiator Teheran Sempat Walkout
Cerita El Rumi & Syifa...
Cerita El Rumi & Syifa Hadju Bulan Madu di Italia, Romantis hingga Penuh Kejutan
Berita Terkini
Jokowi Minta PSI Dukung...
Jokowi Minta PSI Dukung Prabowo-Gibran 2 Periode, AHY: Pemilu 2029 Masih Lama
Kasus Dugaan Pemerasan...
Kasus Dugaan Pemerasan Izin Tinggal WNA, Dirjen Imigrasi Minta Buka Akses Seluas-luasnya untuk KPK
AHY: Oposisi Harus Konstruktif,...
AHY: Oposisi Harus Konstruktif, Tidak Boleh Memecah Belah Bangsa
Gugat Penetapan Capres...
Gugat Penetapan Capres 2014 dan 2019, Bonatua Bawa Novum Baru ke PTUN
Polisi Sebut Pelimpahan...
Polisi Sebut Pelimpahan Roy Suryo dan Tifa Sesuai Prosedur KUHAP
BPIP Umumkan 76 Calon...
BPIP Umumkan 76 Calon Paskibraka 2026 Tingkat Pusat, Ini Nama-namanya
Infografis
8 PTS Terbaik Indonesia...
8 PTS Terbaik Indonesia Masuk THE Asia University Rankings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved