Hadapi Krisis Geopolitik, Langkah Prabowo Bangun Kedaulatan Energi Dinilai Tepat

Rabu, 11 Maret 2026 - 14:59 WIB
loading...
Hadapi Krisis Geopolitik,...
Langkah Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan pemahaman mendalam terkait dengan proxy war. Foto/istimewa
A A A
JAKARTA - Langkah Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan pemahaman mendalam terkait dengan proxy war. Sebab proxy war saat ini bukan sekadar perebutan wilayah fisik, melainkan penguasaan urat nadi kehidupan, yaitu Energi, Air, dan Jalur Logistik.

Pemerhati Geopolitik dan Geostrategi, Bungas T Fernando Duling menyoroti navigasi geopolitik Indonesia yang kini fokus pada penguatan domestik sebagai benteng pertahanan ekonomi. Fernando menyatakan, langkah Presiden yang tetap berpijak pada Dasasila Bandung di tengah gesekan blok Amerika Serikat dan RRC bukanlah sekadar romantisme sejarah.

Secara literatur, kata Fernando ini merupakan penerapan strategic autonomy. Di era di mana proteksionisme global meningkat, Indonesia mengambil posisi sebagai penyeimbang yang mandiri.

Baca juga: Presiden Prabowo: Dunia Sekarang Penuh Ketidakpastian, Bahkan Bahaya

"Indonesia sadar bahwa menjadi pengikut salah satu blok hanya akan menjadikan sumber daya nasional sebagai bahan bakar bagi kemajuan negara lain. Penguatan domestik adalah jawaban atas ancaman ketergantungan global," katanya, Rabu (11/3/2026).

Sebagai eksportir batu bara termal nomor satu dunia, Indonesia memegang kartu as dalam keamanan energi global. Namun, literatur ekonomi politik baru menekankan pada penguatan Domestic Market Obligation (DMO) sebagai senjata geostrategis.

"Ada paradigma baru. Jika sebelumnya Indonesia bangga menyuplai energi untuk industri China, India, dan Jepang, kini logikanya di balik, batu bara harus menjadi darah bagi industrialisasi dalam negeri," ujarnya.

Lihat video: INDONESIA SIAGA! Prabowo Kumpulkan Mantan Presiden & Wapres Bahas Geopolitik Dunia


Fernando menegaskan visi Listrikisasi 2026 merupakan jantung kemandirian. Langkah tersebut akan mengubah ketergantungan pada BBM impor yang membebani APBN menjadi energi berbasis listrik dari kekayaan bumi sendiri merupakan langkah defensif sekaligus ofensif dalam menghadapi volatilitas harga komoditas global.

Poin krusial dalam transformasi ini adalah peran PT KAI dan KAI Logistik (Kalog). Rencana pembangunan lintas rel Trans-Kalimantan dan wilayah luar Jawa yang fokus pada angkutan Sumber Daya Alam (SDA) menandai pergeseran paradigma dari human-centric atau angkutan penumpang kembali ke fungsinya sebagai Heavy Haul Railway.

"Peran strategis Kailog adalah bertindak sebagai integrator logistik di mulut tambang dan pelabuhan, memastikan supply chain energi domestik terjaga tanpa kebocoran," katanya.

Fernando menegaskan, dalam visi rel komoditas, rel bukan lagi sekadar infrastruktur besi, melainkan alat mobilisasi kekayaan negara agar nilai tambahnya tetap berada di dalam negeri, sejalan dengan konsep hilirisasi nasional.

Di tengah perebutan sumber daya dunia, Indonesia tengah membangun benteng melalui kedaulatan energi. Jika infrastruktur logistik yang dipimpin oleh KAI dan Kailog mampu menciptakan efisiensi sistemik, maka Indonesia tidak hanya sekadar bertahan, tetapi akan memimpin di persimpangan jalan globalisasi.

"Siapa yang menguasai jalur logistik dan mandiri secara energi, dialah yang memegang kunci kedaulatan di abad ke-21," kata Fernando.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo Ucapkan Selamat...
Prabowo Ucapkan Selamat Ulang Tahun Ke-65 untuk Jokowi
Didesak Tegaskan Sikap...
Didesak Tegaskan Sikap ke Pemerintahan Prabowo, PDIP: Memangnya Jazilul Siapa?
Yusril Dialog dengan...
Yusril Dialog dengan BEM SI, Janji Sampaikan 5 Tuntutan ke Presiden
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan...
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan Haji 2026, Beri Catatan Ini untuk Tahun Depan
Timwas Sebut Presiden...
Timwas Sebut Presiden Prabowo Ingin Antrean Haji Dipangkas Lagi
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
Kukuhkan Kepengurusan...
Kukuhkan Kepengurusan Nasional, GPIM Komitmen Sukseskan Program Prabowo
Jalur Kereta Sumbar,...
Jalur Kereta Sumbar, Penghubung Sejarah, Wisata, dan Kehidupan
Istana Bicara soal Kembalikan...
Istana Bicara soal Kembalikan Kepercayaan Publik
Rekomendasi
Meski Menang dalam Negosiasi...
Meski Menang dalam Negosiasi dan Perang, Iran: Kita Selalu Hati-hati
Kadishub DKI Sangkal...
Kadishub DKI Sangkal Anak Buahnya Minta Duit Rp250 Ribu ke Ojol yang Motornya Diangkut
Ketum PSOI Pandu Sjahrir...
Ketum PSOI Pandu Sjahrir Apresiasi Dukungan Prabowo untuk Anggaran Pelatnas Multiyears
Berita Terkini
Polri: Frans Antoni...
Polri: Frans Antoni Diduga Otak Cuci Uang Hasil Narkoba Fredy Pratama
Belajar dari Iran: Tiga...
Belajar dari Iran: Tiga Pelajaran Strategis bagi Indonesia
Paradoks Tata Kelola...
Paradoks Tata Kelola Batu Bara di Indonesia
Potensi Gula Non-Tebu...
Potensi Gula Non-Tebu yang Dianaktirikan
PDIP: Jika Seluruh Fraksi...
PDIP: Jika Seluruh Fraksi di DPR Hanya Manut Eksekutif, Apa Bedanya dengan Era Orde Baru?
Penahanan dr Tifa: Babak...
Penahanan dr Tifa: Babak Baru atau Babak Terakhir
Infografis
5 Langkah Giatkan Gotong...
5 Langkah Giatkan Gotong Royong Hadapi Covid-19
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved