Pemuda Muhammadiyah: Indonesia Bisa Jadi Penengah Perang AS-Israel dengan Iran

Senin, 09 Maret 2026 - 10:44 WIB
loading...
Pemuda Muhammadiyah:...
Perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran semakin memanas dan belum ada tanda-tanda akan berakhir. Foto/Screenshot video Al Jazeera
A A A
JAKARTA - Perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran semakin memanas dan belum ada tanda-tanda akan berakhir. Sebagai anggota Board of Peace (BoP) dan BRICS, Indonesia bisa memainkan perannya sebagai penengah untuk mengurangi ketegangan.

Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Hubungan Luar Negeri Emaridial Ulza menilai, Amerika Serikat terdesak begitu juga dengan Iran. Menurut Emaridial, perlu ada penengah dan Indonesia bisa menjadi bagian penting dengan menggalang pertemuan melalui Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) atau dengan negara Timur Tengah lain sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

”Indonesia dalam posisi berada di Board of Peace bentukan Trump dan juga Indonesia bagian dari BRICS bisa menjadi penghubung walaupun tidak secara langsung minimal niat baik Presiden Prabowo sedikit mengurangi ketegangan dengan segala konsekuensi yang didapatkan,” katanya, Senin (9/3/2026).

Baca juga: Perang AS-Israel vs Iran Diprediksi Berlangsung Lama, Prabowo Bisa Maksimalkan BoP

Emaridial menyebut, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Iran sebagai The Loser of the Middle East dan menggambarkan Iran sudah menyerah kepada negara-negara tetangganya mendapat tanggapan dari berbagai kalangan. Pernyataan yang diunggah di platform Truth Social, tersebut dinilai tidak menganggambarkan situasi geopolitik yang sedang terjadi.

“Pernyataan tersebut tidak lebih dari sekadar retorika politik dan bukan gambaran nyata dari Timur Tengah saat pertempuran berkecamuk. Donald Trump memiliki kebiasaan komunikasi mengambil kemenangan sebagai pesan pertama untuk mencoba menekan lawan secara psikologis,” ujarnya.

Lihat video: Serangan Rudal Iran Picu Gelombang Ledakan Besar di Tel Aviv Israel


Akademisi Associate Professor Uhamka ini juga menyoroti, pernyataan Donald Trump yang mengatakan Iran telah meminta maaf dan menyerah kepada negara tetangga setelah serangan AS dan Israel, dan bahkan menyebut bahwa Iran bukanlah pengganggu Timur Tengah melainkan pecundang Timur Tengah. Serta memberikan ancaman Iran akan menghadapi pukulan sangat keras, membuka kemungkinan penargetan wilayah atau kelompok yang sebelumnya tidak masuk dalam target.

“Pernyataan tersebut penuh kontradiksi yang menunjukan bahwa situasi di lapangan dalam agenda perang kemungkinan sangat kompleks dan Amerika dalam keadaan terdesak,” katanya.

Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini juga menambahkan dalam banyak situasi perang atau konflik internasional deklarasi kemenangan sepihak biasanya digunakan sebagai bagian dari strategi negosiasi untuk membangun opini publik.

Pola ini sudah berulang kali terlihat dari negosiasi dagang dengan China, krisis Korea Utara, hingga konflik-konflik sebelumnya di kawasan yang sama. Klaim bahwa Iran telah menyerah hampir pasti merupakan framing untuk konsumsi domestik membangun narasi triumfalis yang ia butuhkan untuk rakyatnya dan juga dunia, bukan deskripsi akurat atas kondisi di lapangan.

“Deklarasi kemenangan di media sosial bukanlah perdamaian. Dalam banyak kasus sejarah, retorika semacam ini justru dapat memperpanjang siklus eskalasi konflik, apalagi ditambah dengan tidak ikut sertanya negara sekutu seperti Inggris atau juga spanyol menyusul Jerman yang tidak akan terlibat langsung dalam perang ini memperkuat bahwa Trump butuh negosiasi” katanya
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Muktamar XIX Pemuda...
Muktamar XIX Pemuda Muhammadiyah, Affandi Komitmen Tingkatkan Kapasitas Intelektual
Rupiah dan Pasar Distrust?
Rupiah dan Pasar Distrust?
Tanwir II Pemuda Muhammadiyah...
Tanwir II Pemuda Muhammadiyah Dorong Kader Rebut Ruang Strategis Bangsa
Imbas Konflik Amerika-Iran,...
Imbas Konflik Amerika-Iran, Menhan: Posisi BoP Cenderung Ditinggalkan
Menlu Sugiono: BRICS...
Menlu Sugiono: BRICS Harus Berperan Aktif Menjaga Perdamaian dan Stabilitas Global
Pakar Hubungan Internasional:...
Pakar Hubungan Internasional: China Punya Kepentingan Redam Konflik AS-Iran
Bocoran Isi Kesepakatan...
Bocoran Isi Kesepakatan AS-Iran: Barter Minyak, Aset Triliunan, hingga Senjata Nuklir
Hamas Sangkal Tudingan...
Hamas Sangkal Tudingan Tolak Serahkan Pemerintahan di Gaza
Rencana Netanyahu untuk...
Rencana Netanyahu untuk Gaza Akhiri Gencatan Senjata Pura-pura
Rekomendasi
Indo Livestock 2026...
Indo Livestock 2026 Satukan Pelaku Industri dari 30 Negara, Perkuat Daya Saing Industri Peternakan RI
Rupiah Hari Ini Kurang...
Rupiah Hari Ini Kurang Bertenaga di Posisi Rp17.762 per Dolar AS, Berikut Sebabnya
Elnusa Petrofin dan...
Elnusa Petrofin dan Pertamina Patra Niaga Perkuat Distribusi Avtur Bali-Nusra
Berita Terkini
PB PMII Serukan Persatuan...
PB PMII Serukan Persatuan Nasional, Kembalikan Intelektualitas Jadi Navigasi Gerakan
Kejagung Segel Gudang...
Kejagung Segel Gudang Motor Listrik Milik BGN di Bogor
KPK Telusuri Dugaan...
KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus Kuota Haji dari Kemenag ke Pansus DPR
Dharma Pongrekun Gugat...
Dharma Pongrekun Gugat UU Kesehatan, Berharap Hakim MK 'Diketuk Hatinya oleh Tuhan'
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan...
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan Haji 2026, Beri Catatan Ini untuk Tahun Depan
Ajukan Jadi JC, Mantan...
Ajukan Jadi JC, Mantan Waka BNN Sony Sonjaya Diperiksa di Kejagung Besok
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved