Perang AS-Israel vs Iran Penuh Senjata Canggih, Bagaimana dengan Alutsista Indonesia?

Senin, 02 Maret 2026 - 17:31 WIB
loading...
Perang AS-Israel vs...
Amerika Serikat dan Israel mengerahkan teknologi militer canggih dalam menyerang Iran. Foto/TRT World
A A A
JAKARTA - Perang antara Amerika Serikat bersama Israel dengan Iran yang tengah berlangsung saat ini menarik untuk diamati. Pasalnya, sejumlah alutsista modern dan canggih dilibatkan dalam perang tersebut.

Amerika misalnya, mengerahkan pesawat tempur siluman F-22 Raptor, F-35, Kapal Induk hingga drone Lucas. Sementara untuk mempertahankan diri Iran mengerahkan drone Shahed-136 hingga rudal balistik. Penguasaan teknologi menjadi kunci dalam perang modern saat ini.

Lalu bagaimana dengan Indonesia, apakah alutsista yang dimiliki mampu menghadapi ancaman bila terjadi perang?

Baca juga: AS Hancurkan dan Tenggelamkan 9 Kapal Angkatan Laut Iran

Pengamat Militer Universitas Nasional (Unas) Slamat Ginting menilai, konflik terbaru memperlihatkan penggunaan teknologi militer mutakhir seperti rudal jelajah presisi tinggi, pesawat tempur siluman generasi kelima, drone kamikaze, hingga sistem pertahanan udara berlapis berbasis kecerdasan buatan (AI).

Amerika Serikat mengandalkan platform seperti F-22 Raptor dan rudal jelajah Tomahawk, sementara Israel dikenal dengan sistem pertahanan udara berlapis seperti Iron Dome, Arrow 3, dan proyek laser anti-drone Iron Beam.

"Teknologi tersebut merupakan hasil investasi puluhan tahun dalam riset, pengembangan industri pertahanan, serta dukungan anggaran negara yang sangat besar," ujarnya, Senin (2/3/2026).

Lihat video: True Promise 4! Iran Menembakkan Rudal Balasan ke Target Amerika Serikat dan Israel


Di Indonesia, industri pertahanan nasional memang terus berkembang, namun masih berada pada tahap menengah. Beberapa BUMN strategis seperti PT Pindad telah mampu memproduksi senapan serbu, amunisi, kendaraan taktis, hingga kendaraan tempur ringan. Sementara PT Dirgantara Indonesia memproduksi pesawat angkut dan melakukan perawatan serta modifikasi pesawat militer.

Namun hingga kini Indonesia belum memiliki kemampuan memproduksi pesawat tempur generasi kelima, sistem rudal balistik jarak jauh, maupun sistem pertahanan udara berlapis berbasis AI secara mandiri.

"Sebagian besar alutsista strategis masih diperoleh melalui pembelian luar negeri atau kerja sama transfer teknologi," katanya.

Slamat Ginting menilai, kesenjangan tersebut wajar mengingat perbedaan anggaran dan ekosistem teknologi. Negara seperti Amerika Serikat dan Israel mengalokasikan dana riset pertahanan dalam jumlah sangat besar setiap tahunnya, serta memiliki jaringan industri teknologi tinggi yang mapan.

"Meski demikian, peluang Indonesia untuk meningkatkan kapasitas tetap terbuka," katanya.

Slamat Ginting menyebut, kunci pengembangan alutsista modern terletak pada investasi jangka panjang dalam riset dan pengembangan (R&D). Kemudian, peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang teknologi tinggi seperti elektronika, AI, sistem radar, dan aerospace.

Termasuk penguatan kerja sama internasional berbasis transfer teknologi. Fokus pada sektor yang realistis dikembangkan lebih dulu, seperti drone tempur, sistem pengawasan maritim, dan pertahanan udara jarak menengah.

"Jadi, kesimpulannya, secara jangka pendek, Indonesia dinilai belum mampu bersaing langsung dengan kekuatan militer seperti Amerika Serikat dan Israel dalam hal produksi alutsista canggih," katanya.

Namun dalam jangka panjang, dengan strategi yang konsisten, investasi berkelanjutan, dan penguatan industri pertahanan nasional, kemampuan tersebut bukan sesuatu yang mustahil.

"Perang modern telah berubah menjadi pertarungan teknologi. Bagi Indonesia, tantangannya bukan sekadar membeli senjata canggih, tetapi membangun fondasi industri dan ilmu pengetahuan agar kemandirian pertahanan benar-benar terwujud," ujarnya.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Iran 2026: Akhir...
Perang Iran 2026: Akhir Pertempuran, Awal Perebutan Kemenangan
Prabowo: Selat Hormuz...
Prabowo: Selat Hormuz Ditutup, Kita Percaya Diri Mampu Mengatasi
Belajar dari Iran: Tiga...
Belajar dari Iran: Tiga Pelajaran Strategis bagi Indonesia
DPR Minta Pemerintah...
DPR Minta Pemerintah Evaluasi Harga BBM Non-Subsidi Pascaanjloknya Harga Minyak Dunia
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Perang Iran 2026: Ketika...
Perang Iran 2026: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Ingin Kendalikan Selat...
Ingin Kendalikan Selat Hormuz, Iran Serukan Kerangka Keamanan dengan Negara Arab
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
8 Pangkalan Militer...
8 Pangkalan Militer AS Diserang Iran, IRGC: Selat Hormuz Milik Kita
Rekomendasi
Ancaman PHK Masih Mengintai,...
Ancaman PHK Masih Mengintai, Said Iqbal: Dipicu Kenaikan Harga BBM dan Relokasi Pabrik
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Jejak Diplomasi Nabi...
Jejak Diplomasi Nabi Muhammad SAW dalam Peperangan Islam, dari Perjanjian Hudaibiyah hingga Fathu Makkah
Berita Terkini
5 Peserta Program SPPI...
5 Peserta Program SPPI Meninggal saat Latsarmil, Feri Amsari: Negara Salahi Prinsip Administrasi
Titi Anggraini Soroti...
Titi Anggraini Soroti Naskah Akademik RUU Pemilu Tak Kunjung Diterbitkan
Jokowi Mulai Safari...
Jokowi Mulai Safari Politik, Feri Amsari: Sah, Cuma Nggak Tahu Diri Saja
Lelang Hasil Rampasan...
Lelang Hasil Rampasan Korupsi Periode Juni 2026, KPK Bukukan Rp39,8 Miliar
354 Pencari Jodoh Padati...
354 Pencari Jodoh Padati Golek Garwo Kemenag
Indonesia Butuh Koalisi...
Indonesia Butuh Koalisi Advokasi untuk Percepat Adopsi Inovasi Kesehatan
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved