Kerja Untuk Rakyat: Satu Tahun Perjalanan Agustina-Iswar Membangun Negeri
Jum'at, 20 Februari 2026 - 21:33 WIB
loading...
A
A
A
Kepemimpinan Wali Kota Agustina bersama wakil wali kota, Iswar Aminuddin berperan sebagai poros penggerak yang menyelaraskan seluruh instrumen pemerintahan. Saat kebijakan pusat menekan sektor tertentu, fondasi kota yang kuat—hasil dari lima tagline—justru mengalihkan energi ekonomi ke sektor lain yang lebih tangguh.
Lima Tagline sebagai Fondasi Ketangguhan
SEMARANG BERSIH: Lebih dari sekadar kebersihan, tagline ini tentang membangun budaya baru “Semarang Wegah Nyampah” di mana budaya masyarakat yang wegah nyampah terbangun dari dalam rumah untuk memilah sampah. Tata kota yang tertib dan bersih juga menjadi fondasi kesehatan masyarakat dan daya tarik investasi, yang tercermin dari pengeluaran per kapita warga mencapai Rp17,40 juta per tahun.
Demi menjaga kenyamanan dan kebersihan di Kota Semarang, Pemkot Semarang melalui Dinas Lingkungan Hidup melakukan perbaikan dan menambah jumlah kontainer serta armada dump truck, dengan harapan sampah residu dari masyarakat bisa terkelola pengangkutannya dari hulu ke hilir. Tahun 2025 total memiliki 454 kontainer dan 237 TPS. Upaya ini telah menghasilkan dampak ekonomi sirkular sebesar Rp 570.233.661, dan berhasil mengelola 221.299 ton sampah.
Gerakan "Semarang Bersih". Mencakup pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Membentuk 1.074 unit bank sampah, dan melibatkan 35.411 sumber daya.
Tidak berhenti pada pengelolaan sampah, mewujudkan Semarang Bersih juga diimbangi dengan memperluas wilayah konservasi. Pemkot telah melakukan penghijauan di lahan seluas 16,58 hektare. Melakukan penanaman 46.510 bibit, serta membangun tiga ruang terbuka hijau (RTH): Taman RBRA Abdurrahman Saleh, Taman Garoot, serta Taman Dinar Mas Meteseh.
Semarang bersih juga bukan sekadar berbicara soal lingkungan, namun juga komitmen mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih dari korupsi, gratifikasi maupun pungli. Penghargaan manajemen talenta dari BKN Republik Indonesia pada Januari 2026 menjadi bukti komitmen Agustina Iswar dalam mentransformasi birokrasi, menempatkan pejabat sesuai keahlian dan bukan titipan.
SEMARANG SEHAT: Dibangun dengan pendekatan ekosistem, Semarang meraih predikat Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia (UI Green Metric 2025). Rehabilitasi 10.000 batang mangrove dan layanan kesehatan proaktif berkontribusi pada Angka Harapan Hidup 78,72 tahun.
Satu tahun kepemimpinan Agustina-Iswar juga telah memperluas kepesertaan UHC (Universal Health Coverage). Pada 2024 jumlah peserta 98.261, di masa pemerintahan Agustina-Iswar tahun 2025 peserta UHC meningkat menjadi 228.859 warga. Meningkat signifikan (130.598 peserta).
Fasilitas kesehatan (faskes) juga meningkat. Setahun pemerintahan Agustina-Iswar telah membangun/merehab empat Puskesmas: Puskesmas Tlogosari Kulon, Puskesmas Krobokan, Puskesmas Pegandan, serta Puskesmas Genuk. Kemudian membangun tiga Puskesmas Pembantu: Pustu Ratu Ratih, Pustu Beringin, dan Pustu Jabungan.
Agustina-Iswar juga concern mengatasi persoalan stunting. Program penanganan stunting yang digulirkan tepat sasaran dan berhasil menekan angka stunting. Terbukti, pada tahun 2025 insidensi stunting mencapai 5.480 kasus, melalui program daycare rumah pelita, serta pendampingan yang dilakukan Pemkot Semarang, angka stunting bisa ditekan menjadi 3.560 kasus. Artinya, sebanyak 2.406 balita berhasil keluar dari zona kekurangan gizi/gizi buruk.
Penanggulangan penyakit menular Tuberculosis (TB) juga menunjukkan progress yang signifikan. Dari jumlah skrining kasus TB tahun 2025 sebanyak 1.898.840 terdapat 6.144 kasus. Jumlah ini lebih kecil dibanding tahun 2024 di mana angka kasus yang ditemukan lebih banyak sebesar 7.304 kasus.
Lima Tagline sebagai Fondasi Ketangguhan
SEMARANG BERSIH: Lebih dari sekadar kebersihan, tagline ini tentang membangun budaya baru “Semarang Wegah Nyampah” di mana budaya masyarakat yang wegah nyampah terbangun dari dalam rumah untuk memilah sampah. Tata kota yang tertib dan bersih juga menjadi fondasi kesehatan masyarakat dan daya tarik investasi, yang tercermin dari pengeluaran per kapita warga mencapai Rp17,40 juta per tahun.
Demi menjaga kenyamanan dan kebersihan di Kota Semarang, Pemkot Semarang melalui Dinas Lingkungan Hidup melakukan perbaikan dan menambah jumlah kontainer serta armada dump truck, dengan harapan sampah residu dari masyarakat bisa terkelola pengangkutannya dari hulu ke hilir. Tahun 2025 total memiliki 454 kontainer dan 237 TPS. Upaya ini telah menghasilkan dampak ekonomi sirkular sebesar Rp 570.233.661, dan berhasil mengelola 221.299 ton sampah.
Gerakan "Semarang Bersih". Mencakup pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Membentuk 1.074 unit bank sampah, dan melibatkan 35.411 sumber daya.
Tidak berhenti pada pengelolaan sampah, mewujudkan Semarang Bersih juga diimbangi dengan memperluas wilayah konservasi. Pemkot telah melakukan penghijauan di lahan seluas 16,58 hektare. Melakukan penanaman 46.510 bibit, serta membangun tiga ruang terbuka hijau (RTH): Taman RBRA Abdurrahman Saleh, Taman Garoot, serta Taman Dinar Mas Meteseh.
Semarang bersih juga bukan sekadar berbicara soal lingkungan, namun juga komitmen mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih dari korupsi, gratifikasi maupun pungli. Penghargaan manajemen talenta dari BKN Republik Indonesia pada Januari 2026 menjadi bukti komitmen Agustina Iswar dalam mentransformasi birokrasi, menempatkan pejabat sesuai keahlian dan bukan titipan.
SEMARANG SEHAT: Dibangun dengan pendekatan ekosistem, Semarang meraih predikat Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia (UI Green Metric 2025). Rehabilitasi 10.000 batang mangrove dan layanan kesehatan proaktif berkontribusi pada Angka Harapan Hidup 78,72 tahun.
Satu tahun kepemimpinan Agustina-Iswar juga telah memperluas kepesertaan UHC (Universal Health Coverage). Pada 2024 jumlah peserta 98.261, di masa pemerintahan Agustina-Iswar tahun 2025 peserta UHC meningkat menjadi 228.859 warga. Meningkat signifikan (130.598 peserta).
Fasilitas kesehatan (faskes) juga meningkat. Setahun pemerintahan Agustina-Iswar telah membangun/merehab empat Puskesmas: Puskesmas Tlogosari Kulon, Puskesmas Krobokan, Puskesmas Pegandan, serta Puskesmas Genuk. Kemudian membangun tiga Puskesmas Pembantu: Pustu Ratu Ratih, Pustu Beringin, dan Pustu Jabungan.
Agustina-Iswar juga concern mengatasi persoalan stunting. Program penanganan stunting yang digulirkan tepat sasaran dan berhasil menekan angka stunting. Terbukti, pada tahun 2025 insidensi stunting mencapai 5.480 kasus, melalui program daycare rumah pelita, serta pendampingan yang dilakukan Pemkot Semarang, angka stunting bisa ditekan menjadi 3.560 kasus. Artinya, sebanyak 2.406 balita berhasil keluar dari zona kekurangan gizi/gizi buruk.
Penanggulangan penyakit menular Tuberculosis (TB) juga menunjukkan progress yang signifikan. Dari jumlah skrining kasus TB tahun 2025 sebanyak 1.898.840 terdapat 6.144 kasus. Jumlah ini lebih kecil dibanding tahun 2024 di mana angka kasus yang ditemukan lebih banyak sebesar 7.304 kasus.
Lihat Juga :