MY Esti PDIP Soroti Nasib Pendidikan Anak setelah Bencana Sumatera
Jum'at, 20 Februari 2026 - 13:49 WIB
loading...
Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi PDIP MY Esti Wijayanti menyoroti nasib pendidikan anak-anak setelah bencana melanda Sumatera. Foto: Dok Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi PDIP MY Esti Wijayanti menyoroti nasib pendidikan anak-anak setelah bencana melanda Sumatera. Hal tersebut dia sampaikan pada rapat koordinasi satgas pemulihan pascabencana Sumatera, Rabu (18/2/2026).
"Faktanya memang kita tidak bisa mengatakan bahwa pendidikan sudah berjalan dengan normal. Kalau normal itu adalah dianggap semua sekolah sudah aktivitas termasuk di tenda darurat mungkin ini benar. Tetapi kalau normal bahwa 100% program yang mestinya sesuai dengan kurikulum kita berikan kepada anak didik pasti tidak," ujarnya.
Baca juga: Mendikdasmen: 100 % Sekolah Terdampak Bencana di Sumatera Sudah Kembali Belajar
Dia menceritakan bagaimana kondisi operasional yang terjadi di sekolah Sumatera pascabencana. "Pertama karena mereka bergiliran masuk salah satu sekolah saja mungkin saya akan sampaikan misalnya saja SMK Badiri di Tapanuli Tengah ada 21 kelas, dia masuknya hanya tiga kelas-tiga kelas dengan masing-masing pelajarannya selama 2 jam," katanya.
"Ini salah satu contoh dengan peralatan yang semua sudah rusak termasuk ini saya harus menyuarakan karena saya diminta juga oleh kepala dinas di Aceh yang mengatakan bahwa ibu datang ke sini tolong sampaikan kebenarannya," lanjutnya
Dia menekankan kepada para menteri untuk mengajukan anggaran tanpa ragu agar pendidikan bisa pulih seperti sediakala disertai peralatan yang memadai dan bermutu serta berkeadilan setara.
MY Esti juga menyoroti bagaimana mahasiswa yang berasal dari wilayah terkena dampak ini tidak masuk ke dalam rancangan pemulihan bencana namun sangat rentan untuk putus pendidikannya.
"Dan terakhir yang tidak ada sama sekali di dalam program ini adalah mahasiswa yang berasal dari wilayah terkena dampak bencana ini tidak tinggal di daerahnya tapi kuliahnya di luar mohon itu juga dianggarkan supaya pendidikannya sampai selesai nanti dijagai oleh pemerintah, dicover pemerintah untuk mereka bisa menyelesaikan kuliahnya tanpa terkendala karena orang tuanya belum beraktivitas ekonomi kembali," ungkapnya.
"Faktanya memang kita tidak bisa mengatakan bahwa pendidikan sudah berjalan dengan normal. Kalau normal itu adalah dianggap semua sekolah sudah aktivitas termasuk di tenda darurat mungkin ini benar. Tetapi kalau normal bahwa 100% program yang mestinya sesuai dengan kurikulum kita berikan kepada anak didik pasti tidak," ujarnya.
Baca juga: Mendikdasmen: 100 % Sekolah Terdampak Bencana di Sumatera Sudah Kembali Belajar
Dia menceritakan bagaimana kondisi operasional yang terjadi di sekolah Sumatera pascabencana. "Pertama karena mereka bergiliran masuk salah satu sekolah saja mungkin saya akan sampaikan misalnya saja SMK Badiri di Tapanuli Tengah ada 21 kelas, dia masuknya hanya tiga kelas-tiga kelas dengan masing-masing pelajarannya selama 2 jam," katanya.
"Ini salah satu contoh dengan peralatan yang semua sudah rusak termasuk ini saya harus menyuarakan karena saya diminta juga oleh kepala dinas di Aceh yang mengatakan bahwa ibu datang ke sini tolong sampaikan kebenarannya," lanjutnya
Dia menekankan kepada para menteri untuk mengajukan anggaran tanpa ragu agar pendidikan bisa pulih seperti sediakala disertai peralatan yang memadai dan bermutu serta berkeadilan setara.
MY Esti juga menyoroti bagaimana mahasiswa yang berasal dari wilayah terkena dampak ini tidak masuk ke dalam rancangan pemulihan bencana namun sangat rentan untuk putus pendidikannya.
"Dan terakhir yang tidak ada sama sekali di dalam program ini adalah mahasiswa yang berasal dari wilayah terkena dampak bencana ini tidak tinggal di daerahnya tapi kuliahnya di luar mohon itu juga dianggarkan supaya pendidikannya sampai selesai nanti dijagai oleh pemerintah, dicover pemerintah untuk mereka bisa menyelesaikan kuliahnya tanpa terkendala karena orang tuanya belum beraktivitas ekonomi kembali," ungkapnya.
(jon)
Lihat Juga :