GP Ansor Gaungkan Persaudaraan di Perayaan Imlek 2577
Selasa, 17 Februari 2026 - 23:59 WIB
loading...
GP Ansor menggelar Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili bertema Merayakan Harmoni, Menyambut Suci di Gedung PP GP Ansor, Jakarta, Selasa (17/2/2026). FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor menggelar Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili bertema "Merayakan Harmoni, Menyambut Suci" di Gedung PP GP Ansor, Jakarta, Selasa (17/2/2026). Kegiatan ini dihadirkan sebagai ruang silaturahmi lintas komunitas untuk memperkuat persaudaraan, toleransi, serta semangat akulturasi budaya sebagai fondasi kebangsaan.
Acara dimulai sejak siang hari dengan penyambutan tamu undangan oleh Hadroh GP Ansor, dilanjutkan rangkaian pembuka yang memadukan nuansa budaya Tionghoa dan Islam. Panggung kemudian diisi penampilan budaya yang merefleksikan keberagaman, di antaranya Pagar Nusa, Tai Chi, Wushu, dan Barongsai, serta segmen hiburan Stand Up Comedy yang dikemas dalam semangat guyub rukun.
Selain pertunjukan, rangkaian kegiatan juga memuat sesi penguatan narasi kebangsaan melalui Orasi Toleransi serta sambutan tokoh-tokoh lintas komunitas.
Ketua Umum PP GP Ansor, Addin Jauharudin menegaskan bahwa perayaan ini merupakan pernyataan sikap kebangsaan untuk merawat Indonesia yang rukun dalam keberagaman.
"Hari ini kita berdiri bukan sekadar sebagai undangan, melainkan sebagai saksi bahwa Indonesia memilih untuk tetap utuh. Negeri ini tidak dibangun oleh keseragaman, tetapi oleh keberanian untuk hidup berdampingan dan saling merangkul," ungkap Addin.
Dalam kesempatan yang sama, Addin menambahkan bahwa tema "Merayakan Harmoni, Menyambut Suci" menegaskan bahwa ruang kebudayaan dan ruang keimanan dapat berjalan beriringan dalam semangat saling menguatkan.
"Imlek kita rayakan bukan sebagai milik satu komunitas, tetapi sebagai milik kemanusiaan. Cahaya lampion dan cahaya iman bisa berdampingan, saling menerangi tanpa saling meredupkan, dan itulah wajah harmoni Indonesia yang kita jaga bersama," jelas Addin.
Sementara itu, Wakil Ketua PSMTI, Hasan Karman menyampaikan apresiasi atas inisiatif GP Ansor yang menghadirkan perayaan sebagai jembatan persaudaraan dan dialog lintas budaya.
"Kami mengapresiasi GP Ansor yang menghadirkan perayaan ini sebagai ruang persaudaraan. Akulturasi adalah kekuatan Indonesia, ketika perbedaan tidak dijadikan jarak, melainkan dipertemukan menjadi kerja sama, saling menghormati, dan saling menjaga," jelas Hasan Karman.
GP Ansor juga menghadirkan ruang perjumpaan yang lebih cair melalui bincang ringan bertema Imlek sebagai jembatan persaudaraan.
Akulturasi juga diperlihatkan dalam keseharian melalui sajian pesta kuliner yang menonjolkan filosofi pertemuan budaya. Salah satu simbol yang diangkat adalah bakso sebagai wujud asimilasi kuliner yang berkembang di Indonesia dan diterima luas lintas komunitas.
Melalui kegiatan ini, GP Ansor menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang-ruang perjumpaan yang memperkuat kohesi sosial, membangun saling pengertian, serta menolak polarisasi yang memecah-belah.
Perayaan Imlek 2577 Kongzili ini menjadi simbol bahwa harmoni dapat dirawat melalui kebersamaan, dialog, dan penghormatan terhadap identitas masing-masing dalam satu rumah besar: Indonesia.
Acara dimulai sejak siang hari dengan penyambutan tamu undangan oleh Hadroh GP Ansor, dilanjutkan rangkaian pembuka yang memadukan nuansa budaya Tionghoa dan Islam. Panggung kemudian diisi penampilan budaya yang merefleksikan keberagaman, di antaranya Pagar Nusa, Tai Chi, Wushu, dan Barongsai, serta segmen hiburan Stand Up Comedy yang dikemas dalam semangat guyub rukun.
Selain pertunjukan, rangkaian kegiatan juga memuat sesi penguatan narasi kebangsaan melalui Orasi Toleransi serta sambutan tokoh-tokoh lintas komunitas.
Ketua Umum PP GP Ansor, Addin Jauharudin menegaskan bahwa perayaan ini merupakan pernyataan sikap kebangsaan untuk merawat Indonesia yang rukun dalam keberagaman.
"Hari ini kita berdiri bukan sekadar sebagai undangan, melainkan sebagai saksi bahwa Indonesia memilih untuk tetap utuh. Negeri ini tidak dibangun oleh keseragaman, tetapi oleh keberanian untuk hidup berdampingan dan saling merangkul," ungkap Addin.
Dalam kesempatan yang sama, Addin menambahkan bahwa tema "Merayakan Harmoni, Menyambut Suci" menegaskan bahwa ruang kebudayaan dan ruang keimanan dapat berjalan beriringan dalam semangat saling menguatkan.
"Imlek kita rayakan bukan sebagai milik satu komunitas, tetapi sebagai milik kemanusiaan. Cahaya lampion dan cahaya iman bisa berdampingan, saling menerangi tanpa saling meredupkan, dan itulah wajah harmoni Indonesia yang kita jaga bersama," jelas Addin.
Sementara itu, Wakil Ketua PSMTI, Hasan Karman menyampaikan apresiasi atas inisiatif GP Ansor yang menghadirkan perayaan sebagai jembatan persaudaraan dan dialog lintas budaya.
"Kami mengapresiasi GP Ansor yang menghadirkan perayaan ini sebagai ruang persaudaraan. Akulturasi adalah kekuatan Indonesia, ketika perbedaan tidak dijadikan jarak, melainkan dipertemukan menjadi kerja sama, saling menghormati, dan saling menjaga," jelas Hasan Karman.
GP Ansor juga menghadirkan ruang perjumpaan yang lebih cair melalui bincang ringan bertema Imlek sebagai jembatan persaudaraan.
Akulturasi juga diperlihatkan dalam keseharian melalui sajian pesta kuliner yang menonjolkan filosofi pertemuan budaya. Salah satu simbol yang diangkat adalah bakso sebagai wujud asimilasi kuliner yang berkembang di Indonesia dan diterima luas lintas komunitas.
Melalui kegiatan ini, GP Ansor menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang-ruang perjumpaan yang memperkuat kohesi sosial, membangun saling pengertian, serta menolak polarisasi yang memecah-belah.
Perayaan Imlek 2577 Kongzili ini menjadi simbol bahwa harmoni dapat dirawat melalui kebersamaan, dialog, dan penghormatan terhadap identitas masing-masing dalam satu rumah besar: Indonesia.
(abd)
Lihat Juga :