Kongres X Permahi Satukan Dualisme Kepemimpinan
Kamis, 05 Februari 2026 - 16:15 WIB
loading...
Kongres X Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) menyatukan dualisme kepemimpinan. Foto: Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Kongres X Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) digelar di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Hukum, Kementerian Hukum (kemenkum) pada 2-5 Februari 2026. Kongres tersebut adalah forum tertinggi organisasi sekaligus momentum penting konsolidasi nasional kader Permahi dari seluruh Indonesia.
Kongres ini punya arti strategis karena menjadi ruang penyelesaian dinamika internal organisasi, khususnya dualisme kepemimpinan yang sebelumnya berkembang. Dualisme yang dipimpin oleh Saiful Salim dan Fahmi Namakule akhirnya dapat disatukan melalui mekanisme konstitusional organisasi, dengan mengedepankan kepentingan Permahi di atas kepentingan kelompok maupun personal.
Kedua poros kepemimpinan tersebut melalui proses dialog, rekonsiliasi, dan kesepahaman bersama sepakat melebur dalam satu barisan demi menjaga muruah organisasi serta memastikan keberlanjutan Permahi ke depan. Penyatuan inilah yang kemudian melahirkan kepemimpinan baru yang diterima secara kolektif, yakni terpilihnya Azhar Sidiq S sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Permahi Periode 2026-2028.
Baca juga: DPN Permahi Ajak Semua Pihak Selamatkan Demokrasi Indonesia
Tercatat sebanyak 53 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Permahi se-Indonesia dalam kongres tersebut. Dari jumlah itu, 40 DPC hadir dan menggunakan hak suara secara sah dalam forum kongres.
Adapun pemilihan Ketua Umum DPN Permahi dilaksanakan melalui rangkaian sidang yang demokratis, terbuka, dan konstitusional. Dari hasil voting, Azhar Sidiq S (Cabang Jambi) memperoleh 24 suara, disusul Chairul Anwar (Alken) dari Cabang Ambon dengan 16 suara, sementara M. Pati Abdillah dari Cabang Jakarta Selatan tidak memperoleh suara.
Dengan perolehan suara mayoritas dari DPC yang hadir, Azhar Sidiq S secara sah terpilih sebagai Ketua Umum DPN Permahi periode 2026-2028. Terpilihnya Azhar Sidiq S menandai berakhirnya dualisme kepemimpinan dan menjadi awal babak baru Permahi yang lebih solid, inklusif, dan berorientasi pada persatuan organisasi.
Kepemimpinan ini lahir dari semangat rekonsiliasi, kebesaran jiwa, dan komitmen bersama seluruh elemen Permahi, dengan visi besar bertagline “Permahi Mendunia.” Azhar menegaskan bahwa kemenangan tersebut merupakan kemenangan kolektif seluruh kader Permahi di Indonesia.
“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Kemenangan ini bukan milik satu orang atau satu kelompok, melainkan kemenangan seluruh kader Permahi di Indonesia,” ujar Azhar dalam pidato perdananya.
Dia menuturkan, berakhirnya kongres juga menjadi penanda berakhirnya seluruh perbedaan internal di tubuh organisasi. “Kongres telah selesai. Perbedaan kita sudahi. Hari ini kita kembali dalam satu barisan, satu identitas: Permahi,” ujarnya.
Mengusung tagline “Permahi Mendunia,” Azhar menyatakan komitmennya untuk bekerja keras membenahi organisasi, memperkuat konsolidasi internal, serta menegaskan peran cabang sebagai fondasi utama Permahi. “Saya siap bekerja keras untuk Permahi. Saya juga siap turun langsung ke cabang-cabang, menyapa kader, mendengar persoalan di bawah, dan bergerak bersama. Karena Permahi dibangun dari cabang, bukan hanya dari pusat,” imbuhnya.
Azhar berpendapat bahwa misi utama kepengurusannya adalah persatuan dan penyatuan organisasi, sekaligus mendorong Permahi agar semakin berdaya saing dan berpengaruh di berbagai level. “Misi utama kita adalah persatuan dan penyatuan. Bersama-sama kita perkuat solidaritas dan mendorong Permahi naik kelas—kuat di daerah, berpengaruh di tingkat nasional, dan siap melangkah ke level internasional. Inilah makna Permahi Mendunia,” katanya.
Menutup pidatonya, Azhar mengajak semua kader Permahi untuk berjalan seiring dan bekerja secara kolektif demi kemajuan organisasi. “Kalau rekan-rekan bekerja keras untuk Permahi, saya akan bekerja keras untuk Permahi. Mari kita berjalan bersama, bekerja bersama, dan ijtihad Permahi Mendunia!”
Kongres ini punya arti strategis karena menjadi ruang penyelesaian dinamika internal organisasi, khususnya dualisme kepemimpinan yang sebelumnya berkembang. Dualisme yang dipimpin oleh Saiful Salim dan Fahmi Namakule akhirnya dapat disatukan melalui mekanisme konstitusional organisasi, dengan mengedepankan kepentingan Permahi di atas kepentingan kelompok maupun personal.
Kedua poros kepemimpinan tersebut melalui proses dialog, rekonsiliasi, dan kesepahaman bersama sepakat melebur dalam satu barisan demi menjaga muruah organisasi serta memastikan keberlanjutan Permahi ke depan. Penyatuan inilah yang kemudian melahirkan kepemimpinan baru yang diterima secara kolektif, yakni terpilihnya Azhar Sidiq S sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Permahi Periode 2026-2028.
Baca juga: DPN Permahi Ajak Semua Pihak Selamatkan Demokrasi Indonesia
Tercatat sebanyak 53 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Permahi se-Indonesia dalam kongres tersebut. Dari jumlah itu, 40 DPC hadir dan menggunakan hak suara secara sah dalam forum kongres.
Adapun pemilihan Ketua Umum DPN Permahi dilaksanakan melalui rangkaian sidang yang demokratis, terbuka, dan konstitusional. Dari hasil voting, Azhar Sidiq S (Cabang Jambi) memperoleh 24 suara, disusul Chairul Anwar (Alken) dari Cabang Ambon dengan 16 suara, sementara M. Pati Abdillah dari Cabang Jakarta Selatan tidak memperoleh suara.
Dengan perolehan suara mayoritas dari DPC yang hadir, Azhar Sidiq S secara sah terpilih sebagai Ketua Umum DPN Permahi periode 2026-2028. Terpilihnya Azhar Sidiq S menandai berakhirnya dualisme kepemimpinan dan menjadi awal babak baru Permahi yang lebih solid, inklusif, dan berorientasi pada persatuan organisasi.
Kepemimpinan ini lahir dari semangat rekonsiliasi, kebesaran jiwa, dan komitmen bersama seluruh elemen Permahi, dengan visi besar bertagline “Permahi Mendunia.” Azhar menegaskan bahwa kemenangan tersebut merupakan kemenangan kolektif seluruh kader Permahi di Indonesia.
“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Kemenangan ini bukan milik satu orang atau satu kelompok, melainkan kemenangan seluruh kader Permahi di Indonesia,” ujar Azhar dalam pidato perdananya.
Dia menuturkan, berakhirnya kongres juga menjadi penanda berakhirnya seluruh perbedaan internal di tubuh organisasi. “Kongres telah selesai. Perbedaan kita sudahi. Hari ini kita kembali dalam satu barisan, satu identitas: Permahi,” ujarnya.
Mengusung tagline “Permahi Mendunia,” Azhar menyatakan komitmennya untuk bekerja keras membenahi organisasi, memperkuat konsolidasi internal, serta menegaskan peran cabang sebagai fondasi utama Permahi. “Saya siap bekerja keras untuk Permahi. Saya juga siap turun langsung ke cabang-cabang, menyapa kader, mendengar persoalan di bawah, dan bergerak bersama. Karena Permahi dibangun dari cabang, bukan hanya dari pusat,” imbuhnya.
Azhar berpendapat bahwa misi utama kepengurusannya adalah persatuan dan penyatuan organisasi, sekaligus mendorong Permahi agar semakin berdaya saing dan berpengaruh di berbagai level. “Misi utama kita adalah persatuan dan penyatuan. Bersama-sama kita perkuat solidaritas dan mendorong Permahi naik kelas—kuat di daerah, berpengaruh di tingkat nasional, dan siap melangkah ke level internasional. Inilah makna Permahi Mendunia,” katanya.
Menutup pidatonya, Azhar mengajak semua kader Permahi untuk berjalan seiring dan bekerja secara kolektif demi kemajuan organisasi. “Kalau rekan-rekan bekerja keras untuk Permahi, saya akan bekerja keras untuk Permahi. Mari kita berjalan bersama, bekerja bersama, dan ijtihad Permahi Mendunia!”
(rca)
Lihat Juga :