Wamendikdasmen: Siswa SD Bunuh Diri di Ngada NTT Ternyata Penerima PIP
Rabu, 04 Februari 2026 - 23:18 WIB
loading...
Kemendikdasmen menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT. Wamendikdasmen Atip Latipulhayat menuturkan peristiwa ini menjadi keprihatinan bersama. Foto: Dok Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT. Wamendikdasmen Atip Latipulhayat menuturkan peristiwa ini menjadi keprihatinan bersama.
Pihaknya menyampaikan empati kepada keluarga, teman, guru, serta seluruh warga sekolah yang terdampak. "Kemendikdasmen memandang peristiwa ini sebagai kejadian yang sangat serius sekaligus mengingatkan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks," ujar Atip, Rabu (4/2/2026).
Baca juga: Selly DPR: Siswa Bunuh Diri Tak Mampu Beli Buku Potret Nyata Kemiskinan Struktural
Menurut dia, kondisi emosional anak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait, sehingga memerlukan perhatian dan dukungan berkelanjutan dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.
"Sebagai bagian dari kebijakan afirmasi pendidikan, mendiang murid tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP), yang dananya telah disalurkan sesuai mekanisme berlaku," katanya.
Kendati demikian, Kemendikdasmen menegaskan pemenuhan hak dan perlindungan anak, khususnya bagi anak-anak dari keluarga rentan tidak dapat berhenti pada dukungan finansial semata melainkan harus mencakup pendampingan psikososial, perhatian moral, serta lingkungan tumbuh kembang yang suportif.
"Saat ini, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah bersama perangkat daerah terkait untuk melakukan pendampingan kepada keluarga termasuk menyiapkan dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya," ungkap Atip.
"Selain itu, koordinasi lintas sektor juga dilakukan untuk memastikan keluarga mendapatkan akses layanan sosial dan pendidikan yang dibutuhkan," tambahnya.
Menurut Atip, peristiwa ini menjadi pengingat bagi semua pihak akan pentingnya menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan suportif bagi tumbuh kembang anak.
"Satuan pendidikan bersama orang tua dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun komunikasi terbuka di mana setiap anak merasa aman untuk mengekspresikan kerentanan mereka, memperkuat kepedulian terhadap kondisi emosional anak, serta memastikan setiap anak merasa didengar, dihargai, dan mendapatkan pendampingan yang memadai," katanya.
Pihaknya menyampaikan empati kepada keluarga, teman, guru, serta seluruh warga sekolah yang terdampak. "Kemendikdasmen memandang peristiwa ini sebagai kejadian yang sangat serius sekaligus mengingatkan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks," ujar Atip, Rabu (4/2/2026).
Baca juga: Selly DPR: Siswa Bunuh Diri Tak Mampu Beli Buku Potret Nyata Kemiskinan Struktural
Menurut dia, kondisi emosional anak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait, sehingga memerlukan perhatian dan dukungan berkelanjutan dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.
"Sebagai bagian dari kebijakan afirmasi pendidikan, mendiang murid tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP), yang dananya telah disalurkan sesuai mekanisme berlaku," katanya.
Kendati demikian, Kemendikdasmen menegaskan pemenuhan hak dan perlindungan anak, khususnya bagi anak-anak dari keluarga rentan tidak dapat berhenti pada dukungan finansial semata melainkan harus mencakup pendampingan psikososial, perhatian moral, serta lingkungan tumbuh kembang yang suportif.
"Saat ini, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah bersama perangkat daerah terkait untuk melakukan pendampingan kepada keluarga termasuk menyiapkan dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya," ungkap Atip.
"Selain itu, koordinasi lintas sektor juga dilakukan untuk memastikan keluarga mendapatkan akses layanan sosial dan pendidikan yang dibutuhkan," tambahnya.
Menurut Atip, peristiwa ini menjadi pengingat bagi semua pihak akan pentingnya menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan suportif bagi tumbuh kembang anak.
"Satuan pendidikan bersama orang tua dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun komunikasi terbuka di mana setiap anak merasa aman untuk mengekspresikan kerentanan mereka, memperkuat kepedulian terhadap kondisi emosional anak, serta memastikan setiap anak merasa didengar, dihargai, dan mendapatkan pendampingan yang memadai," katanya.
(jon)
Lihat Juga :