Sangkal Isu Resistensi Ormas Islam soal BoP Trump, Mensesneg: Hanya Perbedaan Pandangan
Selasa, 03 Februari 2026 - 16:48 WIB
loading...
Mensesneg Prasetyo Hadi menepis anggapan adanya resistensi dari sejumlah ormas Islam terkait keputusan pemerintah bergabung dalam Board of Peace (BoP) bikinan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Binti Mufarida
A
A
A
JAKARTA - Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menepis anggapan adanya resistensi atau penolakan keras dari sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terkait keputusan pemerintah bergabung dalam Board of Peace (BoP) bikinan Presiden Amerika Serikat Donald Trump .
Prasetyo menegaskan dinamika yang terjadi saat ini lebih merupakan perbedaan pandangan yang dipicu belum tersampaikannya informasi secara utuh mengenai latar belakang keputusan tersebut.
Baca juga: Indonesia Gabung BoP Trump, DPR: Keberpihakan Indonesia terhadap Perdamaian Palestina Tak Boleh Luntur
“Bukan resistensi ya mungkin masih ada perbedaan pandangan yang mungkin itu karena belum tersampaikan secara utuh apa yang melandasi keputusan Bapak Presiden dan keputusan pemerintah,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Dalam kesepakatan Board of Peace terdapat sejumlah poin penting yang menjadi pertimbangan mendalam yang membuat Indonesia bergabung dalam keanggotaannya. Namun, dia menyadari bahwa rincian poin-poin tersebut barangkali belum tersosialisasi secara menyeluruh ke publik.
“Termasuk di situ kan ada poin-poin yang diatur di dalam Board of Peace yang itu juga menjadi bahan pertimbangan yang barangkali belum tersampaikan secara utuh,” katanya.
Menurut Prasetyo, pertemuan Presiden dengan para tokoh organisasi Islam dan pimpinan pondok pesantren yang digelar hari ini menjadi momentum krusial untuk memberikan penjelasan langsung.
“Nah, saya rasa forum siang hari ini juga bagian dari yang memungkinkan untuk Presiden menyampaikan poin-poin tersebut dengan harapan semua bisa diterima dan dimengerti semua pihak,” ujarnya.
Saat ditanya apakah masukan dari ormas-ormas Islam tersebut berpotensi mengubah keputusan pemerintah terkait keterlibatan di Board of Peace, Prasetyo menyatakan pemerintah masih dalam posisi mendengarkan.
Prasetyo menekankan Presiden Prabowo memiliki gaya kepemimpinan yang sangat mengedepankan dialog. Sebelum mengambil kebijakan strategis, Presiden selalu menjalin komunikasi dengan berbagai tokoh untuk meminta pertimbangan.
“Sekali lagi kami sampaikan, komunikasi kan tidak hanya formal seperti siang hari ini. Dengan beberapa tokoh kan beliau selalu, itu cara beliau mengambil keputusan. Sebelum keputusan biasanya beliau meminta pertimbangan beberapa tokoh-tokoh tertentu,” kata Prasetyo.
Prasetyo menegaskan dinamika yang terjadi saat ini lebih merupakan perbedaan pandangan yang dipicu belum tersampaikannya informasi secara utuh mengenai latar belakang keputusan tersebut.
Baca juga: Indonesia Gabung BoP Trump, DPR: Keberpihakan Indonesia terhadap Perdamaian Palestina Tak Boleh Luntur
“Bukan resistensi ya mungkin masih ada perbedaan pandangan yang mungkin itu karena belum tersampaikan secara utuh apa yang melandasi keputusan Bapak Presiden dan keputusan pemerintah,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Dalam kesepakatan Board of Peace terdapat sejumlah poin penting yang menjadi pertimbangan mendalam yang membuat Indonesia bergabung dalam keanggotaannya. Namun, dia menyadari bahwa rincian poin-poin tersebut barangkali belum tersosialisasi secara menyeluruh ke publik.
“Termasuk di situ kan ada poin-poin yang diatur di dalam Board of Peace yang itu juga menjadi bahan pertimbangan yang barangkali belum tersampaikan secara utuh,” katanya.
Menurut Prasetyo, pertemuan Presiden dengan para tokoh organisasi Islam dan pimpinan pondok pesantren yang digelar hari ini menjadi momentum krusial untuk memberikan penjelasan langsung.
“Nah, saya rasa forum siang hari ini juga bagian dari yang memungkinkan untuk Presiden menyampaikan poin-poin tersebut dengan harapan semua bisa diterima dan dimengerti semua pihak,” ujarnya.
Saat ditanya apakah masukan dari ormas-ormas Islam tersebut berpotensi mengubah keputusan pemerintah terkait keterlibatan di Board of Peace, Prasetyo menyatakan pemerintah masih dalam posisi mendengarkan.
Prasetyo menekankan Presiden Prabowo memiliki gaya kepemimpinan yang sangat mengedepankan dialog. Sebelum mengambil kebijakan strategis, Presiden selalu menjalin komunikasi dengan berbagai tokoh untuk meminta pertimbangan.
“Sekali lagi kami sampaikan, komunikasi kan tidak hanya formal seperti siang hari ini. Dengan beberapa tokoh kan beliau selalu, itu cara beliau mengambil keputusan. Sebelum keputusan biasanya beliau meminta pertimbangan beberapa tokoh-tokoh tertentu,” kata Prasetyo.
(jon)
Lihat Juga :