Multiverse, Global IR, dan Tianxia: Membaca Ulang Dunia di Tengah Kesombongan dan Pengulangan Sejarah
Minggu, 18 Januari 2026 - 16:39 WIB
loading...
Harryanto Aryodiguno, Ass. Prof. International Relations, President University. Foto/SindoNews
A
A
A
Harryanto Aryodiguno
Ass. Prof. International Relations, President University
JIKA kita menengok kembali perkembangan teori Hubungan Internasional kontemporer, ada satu asumsi mendasar yang selama ini jarang dipertanyakan secara serius yaitu keyakinan bahwa dunia hanya memiliki satu tatanan internasional.
Tatanan ini biasanya dipahami sebagai sistem negara-bangsa berdaulat, dengan batas teritorial yang jelas, kedaulatan yang eksklusif, serta seperangkat aturan dan institusi internasional sebagai penopangnya. Dalam pengalaman sejarah Eropa, pemahaman ini sepenuhnya masuk akal. Namun persoalannya muncul ketika pengalaman historis tersebut secara perlahan dianggap sebagai satu-satunya cara dunia dapat dan seharusnya bekerja.
Gagasan Multiverse dalam Hubungan Internasional muncul sebagai kritik mendasar terhadap asumsi ini. Multiverse tidak mengatakan bahwa dunia berada dalam kekacauan tanpa aturan. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa berbagai logika tatanan yang lahir dari peradaban dan sejarah yang berbeda tidak pernah benar-benar hilang, melainkan terus hidup, saling bertumpang tindih, dan berinteraksi.
Dengan kata lain, tatanan Westphalia berbasis kedaulatan negara bukanlah tatanan yang menggantikan semua tatanan lain, melainkan salah satu “semesta” di antara banyak semesta politik dunia, sebuah semesta yang menjadi dominan bukan karena universalitas moralnya, melainkan karena kekuatan, kolonialisme, dan institusionalisasi global.
Di titik inilah Global IR menjadi sangat penting. Global IR tidak bertujuan menolak atau menggantikan teori Hubungan Internasional Barat. Ia justru mengingatkan bahwa teori selalu lahir dari lokasi geografis, pengalaman historis, dan konteks peradaban tertentu. Jika teori internasional hanya disusun dari sejarah perang Eropa, pembentukan negara modern, dan pengalaman institusional Barat, maka apa yang kita sebut sebagai “internasional” sejatinya adalah dunia yang dipersempit.
Inti dari Global IR adalah menjadikan pengalaman historis berbagai kawasan dan peradaban sebagai sumber pengetahuan teoretis, bukan sekadar sebagai kasus pinggiran atau penyimpangan dari teori utama. Pendekatan inilah yang menyediakan landasan metodologis bagi dunia multiverse—karena dunia yang plural tidak mungkin dipahami dengan satu teori tunggal, melainkan membutuhkan kemampuan untuk memahami perbedaan dan mengakui koeksistensi.
Dalam kerangka ini, konsep Tianxia (天下) dan budaya politik Konfusianisme akhirnya dapat dibaca secara serius, bukan sebagai anomali.
Tianxia bukanlah versi Tiongkok dari tatanan hegemonik, dan juga bukan cikal bakal negara-bangsa modern. Sebaliknya, ia merupakan imajinasi tatanan yang tidak berpusat pada kedaulatan eksklusif, melainkan pada relasi, etika, dan tanggung jawab moral. Dalam bahasa Tianxia, politik tidak dimulai dari batas wilayah, tetapi dari peran, kewajiban, dan kebajikan. Tatanan dijaga bukan oleh dominasi hukum dan kekuatan, melainkan oleh stabilitas relasi dan pengendalian diri.
Jika dilihat dari sudut pandang teori Hubungan Internasional yang tunggal, Tianxia tentu tampak “tidak modern”, “tidak institusional”, bahkan “tidak realistis”. Namun dalam perspektif Multiverse dan Global IR, Tianxia bukanlah masalah, melainkan salah satu semesta tatanan yang belum sepenuhnya dipahami.
Lebih jauh lagi, Tianxia tidak dimaksudkan untuk menggantikan tatanan internasional Barat. Ia justru mengingatkan kita bahwa dunia tidak pernah dijalankan oleh satu tatanan saja. Bahkan dalam sistem negara-bangsa modern sekalipun, relasi historis, etika, ingatan peradaban, dan imajinasi moral tetap memainkan peran penting dalam perilaku internasional. Refleksi ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat dunia hari ini.
Dunia tidak mati tetapi sejarah terus berulang. Kita menyaksikan perang di berbagai tempat, bencana alam yang datang silih berganti, dan kesombongan manusia yang kembali mengalahkan kebijaksanaan. Kita melihat para pemimpin dunia bertindak dengan keyakinan berlebihan, sementara negara-negara besar tampak sangat percaya diri, namun pada saat yang sama juga tidak sepenuhnya berdaya menghadapi kompleksitas realitas global.
Situasi ini mengingatkan kita pada dunia menjelang Perang Dunia 1. Barat pernah terlalu percaya diri, terlalu yakin pada stabilitas sistem internasional, dan terlalu percaya bahwa perdagangan serta teknologi akan menjamin perdamaian. Manusia yakin bahwa sains telah menaklukkan alam, bahwa teknologi menjamin keselamatan, dan bahwa kemajuan bersifat linear serta tak terhentikan.
Namun ketika jutaan orang mati di parit-parit perang, tatanan dunia runtuh bukan karena kurangnya teknologi, melainkan karena kesombongan manusia sendiri.
Hari ini, pola itu kembali terlihat. Kita berjalan terlalu cepat, sering kali tanpa mendengar peringatan alam. Kita percaya bahwa kecerdasan buatan dapat menggantikan kebijaksanaan, bahwa teknologi dapat mengatasi keterbatasan moral, dan bahwa sistem internasional cukup kuat untuk menahan segala guncangan.
Padahal alam telah berulang kali mengingatkan. Sejarah telah berkali-kali mencatat. Namun manusia tetap melaju, dengan keyakinan bahwa kecepatan adalah kemajuan.
Dalam konteks inilah, menghubungkan Multiverse, Global IR, dan Tianxia menjadi penting, bukan untuk menciptakan “jawaban alternatif” atas tatanan dunia, melainkan untuk melonggarkan cara kita membayangkan dunia. Pelonggaran ini tidak melemahkan teori, justru mengembalikannya pada kompleksitas realitas. Ia tidak menolak modernitas, tetapi menolak klaim bahwa modernitas adalah satu-satunya jalan.
Penulis sadar sepenuhnya bahwa penulis tidak mampu mengubah dunia. Namun mungkin penulis masih mampu mengubah cara penulis memandang dunia saat ini: dari kepastian menuju refleksi, dari kesombongan menuju kerendahan hati, dari keyakinan akan satu tatanan menuju pemahaman atas dunia yang multiverse.
Dari sudut pandang ini, Tianxia bukanlah pesan Tiongkok kepada dunia, melainkan sebuah kemungkinan yang telah lama dibisikkan oleh dunia itu sendiri, bahwa hidup bersama dalam perbedaan tatanan bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kebijaksanaan yang belum sepenuhnya kita pelajari.
Ass. Prof. International Relations, President University
JIKA kita menengok kembali perkembangan teori Hubungan Internasional kontemporer, ada satu asumsi mendasar yang selama ini jarang dipertanyakan secara serius yaitu keyakinan bahwa dunia hanya memiliki satu tatanan internasional.
Tatanan ini biasanya dipahami sebagai sistem negara-bangsa berdaulat, dengan batas teritorial yang jelas, kedaulatan yang eksklusif, serta seperangkat aturan dan institusi internasional sebagai penopangnya. Dalam pengalaman sejarah Eropa, pemahaman ini sepenuhnya masuk akal. Namun persoalannya muncul ketika pengalaman historis tersebut secara perlahan dianggap sebagai satu-satunya cara dunia dapat dan seharusnya bekerja.
Gagasan Multiverse dalam Hubungan Internasional muncul sebagai kritik mendasar terhadap asumsi ini. Multiverse tidak mengatakan bahwa dunia berada dalam kekacauan tanpa aturan. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa berbagai logika tatanan yang lahir dari peradaban dan sejarah yang berbeda tidak pernah benar-benar hilang, melainkan terus hidup, saling bertumpang tindih, dan berinteraksi.
Dengan kata lain, tatanan Westphalia berbasis kedaulatan negara bukanlah tatanan yang menggantikan semua tatanan lain, melainkan salah satu “semesta” di antara banyak semesta politik dunia, sebuah semesta yang menjadi dominan bukan karena universalitas moralnya, melainkan karena kekuatan, kolonialisme, dan institusionalisasi global.
Di titik inilah Global IR menjadi sangat penting. Global IR tidak bertujuan menolak atau menggantikan teori Hubungan Internasional Barat. Ia justru mengingatkan bahwa teori selalu lahir dari lokasi geografis, pengalaman historis, dan konteks peradaban tertentu. Jika teori internasional hanya disusun dari sejarah perang Eropa, pembentukan negara modern, dan pengalaman institusional Barat, maka apa yang kita sebut sebagai “internasional” sejatinya adalah dunia yang dipersempit.
Inti dari Global IR adalah menjadikan pengalaman historis berbagai kawasan dan peradaban sebagai sumber pengetahuan teoretis, bukan sekadar sebagai kasus pinggiran atau penyimpangan dari teori utama. Pendekatan inilah yang menyediakan landasan metodologis bagi dunia multiverse—karena dunia yang plural tidak mungkin dipahami dengan satu teori tunggal, melainkan membutuhkan kemampuan untuk memahami perbedaan dan mengakui koeksistensi.
Dalam kerangka ini, konsep Tianxia (天下) dan budaya politik Konfusianisme akhirnya dapat dibaca secara serius, bukan sebagai anomali.
Tianxia bukanlah versi Tiongkok dari tatanan hegemonik, dan juga bukan cikal bakal negara-bangsa modern. Sebaliknya, ia merupakan imajinasi tatanan yang tidak berpusat pada kedaulatan eksklusif, melainkan pada relasi, etika, dan tanggung jawab moral. Dalam bahasa Tianxia, politik tidak dimulai dari batas wilayah, tetapi dari peran, kewajiban, dan kebajikan. Tatanan dijaga bukan oleh dominasi hukum dan kekuatan, melainkan oleh stabilitas relasi dan pengendalian diri.
Jika dilihat dari sudut pandang teori Hubungan Internasional yang tunggal, Tianxia tentu tampak “tidak modern”, “tidak institusional”, bahkan “tidak realistis”. Namun dalam perspektif Multiverse dan Global IR, Tianxia bukanlah masalah, melainkan salah satu semesta tatanan yang belum sepenuhnya dipahami.
Lebih jauh lagi, Tianxia tidak dimaksudkan untuk menggantikan tatanan internasional Barat. Ia justru mengingatkan kita bahwa dunia tidak pernah dijalankan oleh satu tatanan saja. Bahkan dalam sistem negara-bangsa modern sekalipun, relasi historis, etika, ingatan peradaban, dan imajinasi moral tetap memainkan peran penting dalam perilaku internasional. Refleksi ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat dunia hari ini.
Dunia tidak mati tetapi sejarah terus berulang. Kita menyaksikan perang di berbagai tempat, bencana alam yang datang silih berganti, dan kesombongan manusia yang kembali mengalahkan kebijaksanaan. Kita melihat para pemimpin dunia bertindak dengan keyakinan berlebihan, sementara negara-negara besar tampak sangat percaya diri, namun pada saat yang sama juga tidak sepenuhnya berdaya menghadapi kompleksitas realitas global.
Situasi ini mengingatkan kita pada dunia menjelang Perang Dunia 1. Barat pernah terlalu percaya diri, terlalu yakin pada stabilitas sistem internasional, dan terlalu percaya bahwa perdagangan serta teknologi akan menjamin perdamaian. Manusia yakin bahwa sains telah menaklukkan alam, bahwa teknologi menjamin keselamatan, dan bahwa kemajuan bersifat linear serta tak terhentikan.
Namun ketika jutaan orang mati di parit-parit perang, tatanan dunia runtuh bukan karena kurangnya teknologi, melainkan karena kesombongan manusia sendiri.
Hari ini, pola itu kembali terlihat. Kita berjalan terlalu cepat, sering kali tanpa mendengar peringatan alam. Kita percaya bahwa kecerdasan buatan dapat menggantikan kebijaksanaan, bahwa teknologi dapat mengatasi keterbatasan moral, dan bahwa sistem internasional cukup kuat untuk menahan segala guncangan.
Padahal alam telah berulang kali mengingatkan. Sejarah telah berkali-kali mencatat. Namun manusia tetap melaju, dengan keyakinan bahwa kecepatan adalah kemajuan.
Dalam konteks inilah, menghubungkan Multiverse, Global IR, dan Tianxia menjadi penting, bukan untuk menciptakan “jawaban alternatif” atas tatanan dunia, melainkan untuk melonggarkan cara kita membayangkan dunia. Pelonggaran ini tidak melemahkan teori, justru mengembalikannya pada kompleksitas realitas. Ia tidak menolak modernitas, tetapi menolak klaim bahwa modernitas adalah satu-satunya jalan.
Penulis sadar sepenuhnya bahwa penulis tidak mampu mengubah dunia. Namun mungkin penulis masih mampu mengubah cara penulis memandang dunia saat ini: dari kepastian menuju refleksi, dari kesombongan menuju kerendahan hati, dari keyakinan akan satu tatanan menuju pemahaman atas dunia yang multiverse.
Dari sudut pandang ini, Tianxia bukanlah pesan Tiongkok kepada dunia, melainkan sebuah kemungkinan yang telah lama dibisikkan oleh dunia itu sendiri, bahwa hidup bersama dalam perbedaan tatanan bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kebijaksanaan yang belum sepenuhnya kita pelajari.
(cip)
Lihat Juga :