Suara Guru dari Bali hingga Papua: Chromebook Tak Menjawab Kebutuhan Sekolah

Selasa, 13 Januari 2026 - 19:41 WIB
loading...
Suara Guru dari Bali...
Program digitalisasi pendidikan melalui pengadaan Chromebook yang diinisiasi mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim terus menuai polemik tajam. Foto/Zyrex Indonesia
A A A
JAKARTA - Program digitalisasi pendidikan melalui pengadaan Chromebook yang diinisiasi mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim terus menuai polemik tajam. Bukannya memajukan kualitas belajar, ribuan unit laptop tersebut dilaporkan tidak berfungsi optimal, sulit dioperasikan, hingga berujung pada pengusutan kasus korupsi yang merugikan negara triliunan rupiah.

Chromebook dianggap tidak sesuai dengan realita kebutuhan sekolah di Indonesia sebagaimana temuan di lapangan dan testimoni dari tenaga pendidik. Seorang Kepala Sekolah di Bali Wayan Agus Kabiana mengungkapkan bahwa akses perangkat ini sangat terbatas bagi siswa.

"Chromebook ini aksesnya terbatas. Untuk siswa SD, tidak bisa bebas digunakan seperti laptop biasa. Akhirnya hanya dipakai untuk ANBK dan sesekali olimpiade saja," ujar Wayan saat dihubungi wartawan, Selasa (13/1/2026).

Baca juga: Majelis Hakim Tolak Eksepsi Nadiem Makarim di Kasus Korupsi Laptop Chromebook



Kritik pedas juga datang dari wilayah timur Indonesia. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayawijaya Saleh Asoe mengungkapkan bahwa pengadaan perangkat ini tidak dibarengi dengan kesiapan infrastruktur dan sumber daya yang memadai di daerah. Menurutnya, perangkat digital tersebut sering kali hanya menjadi beban karena minimnya pemahaman operasional di tingkat sekolah.

"Kami baru saja melakukan peninjauan kembali terkait bantuan-bantuan ini. Masalah utamanya adalah sinkronisasi antara teknologi yang diberikan dengan kemampuan adaptasi guru dan siswa di lapangan. Jika tidak bisa digunakan secara maksimal, perangkat ini hanya akan menumpuk," ujar Saleh Asoe dalam sebuah pernyataan resmi.

Selain batasan akses dan masalah adaptasi di daerah, hambatan operasional dasar menjadi persoalan sistemik. Banyak tenaga pengajar mengeluhkan prosedur log-in yang rumit karena harus menggunakan akun belajar.id. Jika akun bermasalah atau lupa kata sandi, perangkat tersebut praktis tidak bisa digunakan sama sekali, menjadikannya sekadar "benda mati" di ruang kelas.

Masalah lain yang paling krusial adalah ketergantungan pada internet. Karena berbasis cloud, Chromebook menjadi "sampah elektronik" di sekolah-sekolah yang memiliki koneksi internet tidak stabil, terutama di wilayah pelosok.

Kesaksian yang lebih memberatkan datang dari mantan Dirjen Dikdasmen Kemendikbudristek Hamid Muhammad, dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta. Ia menegaskan bahwa Chromebook tidak bisa jalan di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).

"Kegagalannya karena satu, Chromebook tidak bisa jalan tanpa jaringan internet dan listrik yang stabil. Kedua, aplikasi berbasis Windows tidak kompatibel," tegas Hamid.

Kegagalan teknis di lapangan ini berbanding lurus dengan temuan hukum oleh Kejaksaan Agung. Nadiem Makarim kini didakwa menyalahgunakan wewenang dengan mengarahkan spesifikasi pengadaan yang "mengunci" pada produk Google tertentu melalui Chrome Device Management (CDM).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyebut Nadiem secara pribadi diduga menerima keuntungan sebesar Rp809 miliar dari proyek ini. Selain Nadiem, beberapa mantan anak buahnya dan pihak swasta juga telah ditetapkan sebagai tersangka dalam skandal yang disebut-sebut sebagai salah satu kegagalan kebijakan digitalisasi terbesar di Indonesia.

Hingga saat ini, sidang pembuktian masih terus berlanjut. Sementara di gedung-gedung sekolah, ribuan laptop bantuan pemerintah itu perlahan mulai berdebu, menjadi pengingat pahit atas proyek ambisius yang kehilangan arah sejak awal.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dianggap Mampu, 76 Sekolah...
Dianggap Mampu, 76 Sekolah di Pulau Jawa Dicoret dari Daftar Penerima MBG
Kisah Kasus Nadiem Dalam...
Kisah Kasus Nadiem Dalam Perkara Korupsi
JPU Sebut Kasus Chromebook...
JPU Sebut Kasus Chromebook Nadiem termasuk White Collar Crime, Kuasa Hukum Terkejut
PDIP Dorong Program...
PDIP Dorong Program MBG Beralih ke Dapur Berbasis Sekolah
Kecewa JPU Tolak Pledoi,...
Kecewa JPU Tolak Pledoi, Nadiem Makarim: Fakta Persidangan Diabaikan
JPU Tolak Seluruh Pledoi...
JPU Tolak Seluruh Pledoi Nadiem, Ada Niat Jahat dalam Kasus Chromebook
SPMB DKI Jakarta 2026...
SPMB DKI Jakarta 2026 Sediakan 245.980 Kuota, Termasuk Sekolah Swasta Gratis
Brantas Abipraya Kebut...
Brantas Abipraya Kebut Penyelesaian Akhir Sekolah Rakyat Jabar II, DPR Optimistis Segera Operasional
SPMB Lampung 2026 Resmi...
SPMB Lampung 2026 Resmi Dibuka, Cek Jalur, Kuota, dan Link Pendaftarannya
Rekomendasi
IHSG Berakhir Merayap...
IHSG Berakhir Merayap Naik ke 6.177 Diwarnai Lompatan 353 Saham
Ratusan Mahasiswa Trisakti...
Ratusan Mahasiswa Trisakti Bergerak dari Tugu 12 Mei Reformasi Menuju Gedung DPR
Wakil Kepala BPS Canangkan...
Wakil Kepala BPS Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Jawa Tengah: Ada Jutaan Harapan di Balik Data Statistik
Berita Terkini
Roy Suryo-Dokter Tifa...
Roy Suryo-Dokter Tifa Ditangkap, Polda Metro: 94 Saksi dan 26 Ahli Sudah Diperiksa
Dokter Tifa Didampingi...
Dokter Tifa Didampingi Refly Harun Masuk Ruang Tahanan Polda Metro Jaya, Langsung Ditahan?
Penampakan Roy Suryo...
Penampakan Roy Suryo usai Ditahan: Menenteng Rompi Oranye, Enggan Komentar
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangkap, Polda Metro Jaya: Berkas Perkara Lengkap
Usai Ditangkap, Roy...
Usai Ditangkap, Roy Suryo dan Dokter Tifa Bakal Dibawa ke RS Polri
KPK Kembali Periksa...
KPK Kembali Periksa Silmy Karim, Bukti-bukti Dugaan Pemerasan dan Gratifikasi Didalami
Infografis
10 Figur Publik Penerima...
10 Figur Publik Penerima Beasiswa LPDP, dari Mutiara Baswedan hingga Maudy Ayunda
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved