Bukan Mau Perang, Tapi Mau Melayani: Mengapa Petugas Haji 2026 Digembleng ala Semi-Militer?
Selasa, 13 Januari 2026 - 09:17 WIB
loading...
A
A
A
Setelah pemanasan indoor, begitu mendung sedikit terangkat, para peserta langsung tumpah ke jalanan. Di depan asrama masing-masing kompi calon petugas haji.
Jalan pagi ini bukan sekadar mengejar keringat, tapi simulasi nyata. Perlu diingat, di Tanah Suci nanti, seorang petugas bisa menempuh belasan hingga puluhan kilometer setiap harinya—di bawah terik matahari yang jauh lebih garang—demi memastikan tidak ada satu pun jemaah yang tersesat.
Sains di Balik Baris-Berbaris: Mengapa Harus PBB?
Menu yang paling banyak menguras keringat dan konsentrasi tentu saja Peraturan Baris Berbaris (PBB). Mengapa seorang jurnalis, dokter, tenaga kesehatan atau pegawai kementerian harus belajar langkah tegap?
Di sinilah Psikologi Perilaku (Behaviorisme) berbicara. PBB adalah instrumen paling efektif untuk membentuk apa yang disebut sebagai Collective Ego.
Pertama, Meluluhkan 'Aku' Menjadi 'Kami': Secara psikologis, gerakan yang sinkron (synchronous movement) melepaskan hormon oksitosin dalam otak. Hormon ini membangun rasa percaya dan ikatan emosional instan. Saat kaki mereka melangkah serempak, ego individu perlahan luntur, berganti menjadi satu kekuatan tim.
Kedua, Conditioning (Habituasi): Menggunakan teori Operant Conditioning dari B.F. Skinner, PBB melatih respons instan terhadap komando. Di tengah ratusan ribu jemaah haji asal Indonesia nanti, perintah harus dijalankan dengan cepat tanpa banyak debat, karena hitungan detik bisa menentukan keselamatan jemaah.
Ketiga, Muscle Memory untuk Kedisiplinan: Disiplin bukan dihafal, tapi dilatih. Langkah tegap yang berulang membentuk memori otot yang akan terbawa hingga ke Arab Saudi—membuat petugas tetap sigap meski tubuh sudah didera lelah luar biasa.
Jalan pagi ini bukan sekadar mengejar keringat, tapi simulasi nyata. Perlu diingat, di Tanah Suci nanti, seorang petugas bisa menempuh belasan hingga puluhan kilometer setiap harinya—di bawah terik matahari yang jauh lebih garang—demi memastikan tidak ada satu pun jemaah yang tersesat.
Sains di Balik Baris-Berbaris: Mengapa Harus PBB?
Menu yang paling banyak menguras keringat dan konsentrasi tentu saja Peraturan Baris Berbaris (PBB). Mengapa seorang jurnalis, dokter, tenaga kesehatan atau pegawai kementerian harus belajar langkah tegap?
Di sinilah Psikologi Perilaku (Behaviorisme) berbicara. PBB adalah instrumen paling efektif untuk membentuk apa yang disebut sebagai Collective Ego.
Pertama, Meluluhkan 'Aku' Menjadi 'Kami': Secara psikologis, gerakan yang sinkron (synchronous movement) melepaskan hormon oksitosin dalam otak. Hormon ini membangun rasa percaya dan ikatan emosional instan. Saat kaki mereka melangkah serempak, ego individu perlahan luntur, berganti menjadi satu kekuatan tim.
Kedua, Conditioning (Habituasi): Menggunakan teori Operant Conditioning dari B.F. Skinner, PBB melatih respons instan terhadap komando. Di tengah ratusan ribu jemaah haji asal Indonesia nanti, perintah harus dijalankan dengan cepat tanpa banyak debat, karena hitungan detik bisa menentukan keselamatan jemaah.
Ketiga, Muscle Memory untuk Kedisiplinan: Disiplin bukan dihafal, tapi dilatih. Langkah tegap yang berulang membentuk memori otot yang akan terbawa hingga ke Arab Saudi—membuat petugas tetap sigap meski tubuh sudah didera lelah luar biasa.
Lihat Juga :