Peran Ganda Bukan Beban, Melainkan Panggung Ketangguhan Wanita Modern
Senin, 05 Januari 2026 - 14:05 WIB
loading...
Anggi Ardana Neswari Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana. Foto/istimewa
A
A
A
Anggi Ardana Neswari
Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana
DI balik senyum seorang wanita modern, sering tersembunyi cerita tentang perjuangan yang tak pernah sederhana. Antara deadline pekerjaan yang menumpuk dan dapur yang menanti, antara rapat kantor dan tangisan anak di rumah, antara petuh terhadap atasan dan juga harus patuh terhadap suami, wanita masa kini menjalani peran ganda yang penuh tantangan. Hal ini sering berjalan bersamaan, sehingga membuat wanita harus pintar membagi waktu dan tenaga.
Beberapa masalah yang sering muncul antara lain,Sulit mengatur waktu antara pekerjaan dan keluarga, waktu bersama keluarga jadi berkurang, muncul dilema dalam hubungan sosial atau tekanan dari lingkungan, rasa lelah karena beban kerja yang berat, permasalahan di tempat kerja akibat tuntutan yang tinggi, deadline pekerjaan yang menuntut dia harus bekerja cepat sehingga ketika pulang di rumah yang harusnya melepaskan beban kerjanya dan bisa quality time bersama keluarga di rumah namun dia harus mengerjakan tugasnya sebagai pekerja karena mengejar deadline. Masalah ini sering menimbulkan keretakan rumah tangga.
Menjadi wanita yang memiliki peran ganda suatu hal yang tidak mudah di Jalani, dibutuhkan konsep efikasi diri dalam memahami kemampuannya untuk mengorganisasi,mengatur dan melaksanakan tindakan yang di perlukan dalam mencapai sesuatu,supaya tetap sehat jasmani dan rohaninya, jika seorang wanita tidak memahami konsep efikasi diri dengan segala kekurangan dan kelebihannya, akhirnya akan mengalami depresi, stress yang berkepanjangan, Oleh sebab itu kita sering menemukan wanita yang memiliki beban pikiran yang tinggi sangat rentan memiliki tempramen tinggi, mudah tersinggung dan mudah marah, ini adalah dampak dari stress yang di alami seorang wanita yang tidak bisa mengatur diri dan emosinya. Sehingga di butuhkan penerapan Resiliensi dalam hidup seorang wanita dengan peran ganda, apa itu Resiliensi? Mari kita bahas resiliensi.
Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali setelah menghadapi kesulitan, tekanan, atau masalah. Ibarat karet yang ditarik, meski meregang, ia bisa kembali ke bentuk semula. Resiliensi membuat seseorang tidak mudah menyerah, bahkan mampu belajar dari pengalaman pahit. Resiliensi bukan hanya soal "kuat" secara fisik, tetapi mencakup beberapa aspek:
• Kognitif: kemampuan berpikir jernih dan mencari solusi.
• Emosional: mengendalikan perasaan agar tidak larut dalam stres.
• Sosial: dukungan dari keluarga, teman, dan lingkungan.
• Spiritual: keyakinan atau nilai hidup yang memberi ketenangan batin.
Dari keempat aspek di atas jika wanita dengan peran ganda memiliki resiliensi tinggi maka akan dapat menghadapi permasalahan yang dia temukan. Dia akan tetap mampu membagi waktu meski jadwal padat, menemukan energi untuk mengurus keluarga setelah bekerja, menghadapi tekanan sosial dengan sikap bijak, menjadikan nilai spiritual sebagai sumber kekuatan. Resiliensi membuat mereka tidak hanya bertahan melainkan dapat berkembang dengan jiwa yang tenang dalam kondisi yang tersulit.
Beberapa langkah sederhana untuk menumbuhkan resiliensi:
• Positif thinking adalah hal utama untuk menumbuhkan resiliensi, jika pikiran negative maka tidak sejalur dengan resiliensi.
• Menerima kenyataan dengan melihat sebuah masalah adalah tantangan yang harus di hadapi bukan di hindari, dengan menghindari masalah maka akan muncul masalah baru, jadi hadapi berikan solusi yang terbaik dan komunikasikan dengan baik.
• Membuat skala prioritas dengan memilih hal yang paling penting untuk dikerjakan,
• Menjaga Kesehatan dengan makanan yang sehat, nutrisi tubuh terpenuhi serta melakukan aktifitas olahraga tubuh yang sehat mendukung pikiran yang kuat.
• Membangun jaringan sosial dengan berbagi cerita dan dukungan dengan orang terdekat yang bisa menjadikan diri lebih tenang, yang paling utama adalah seseorang yang bisa menjaga rahasiamu,mengerti kamu dan memahamimu serta memiliki resilensi supaya masalahmu tidak membias, melainkan adanya solusi yang objektif
• Mengasah spiritualitas dengan berdoa, meditasi, atau refleksi diri dapat memberikan ketenangan hati dan pikiran.
Langkah-langkah sederhana ini bisa memberikan ketangguhan sehingga ketangguhan inilah yang menjadikan wanita bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh dan memberi cahaya bagi orang-orang di sekitarnya.Dengan dukungan keluarga, teman, dan lingkungan, resiliensi akan semakin kuat. Dan pada akhirnya, wanita dengan peran ganda bukan sekadar pejuang, tetapi juga sumber inspirasi yang menyalakan semangat hidup banyak orang.
Setelah mengetahui akan pentingnya menjadi wanita yang resilience mari kita dukung setiap wanita hebat di sekitar kita—ibu, istri, sahabat, rekan kerja—agar mereka tidak merasa berjalan sendiri.
Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana
DI balik senyum seorang wanita modern, sering tersembunyi cerita tentang perjuangan yang tak pernah sederhana. Antara deadline pekerjaan yang menumpuk dan dapur yang menanti, antara rapat kantor dan tangisan anak di rumah, antara petuh terhadap atasan dan juga harus patuh terhadap suami, wanita masa kini menjalani peran ganda yang penuh tantangan. Hal ini sering berjalan bersamaan, sehingga membuat wanita harus pintar membagi waktu dan tenaga.
Beberapa masalah yang sering muncul antara lain,Sulit mengatur waktu antara pekerjaan dan keluarga, waktu bersama keluarga jadi berkurang, muncul dilema dalam hubungan sosial atau tekanan dari lingkungan, rasa lelah karena beban kerja yang berat, permasalahan di tempat kerja akibat tuntutan yang tinggi, deadline pekerjaan yang menuntut dia harus bekerja cepat sehingga ketika pulang di rumah yang harusnya melepaskan beban kerjanya dan bisa quality time bersama keluarga di rumah namun dia harus mengerjakan tugasnya sebagai pekerja karena mengejar deadline. Masalah ini sering menimbulkan keretakan rumah tangga.
Menjadi wanita yang memiliki peran ganda suatu hal yang tidak mudah di Jalani, dibutuhkan konsep efikasi diri dalam memahami kemampuannya untuk mengorganisasi,mengatur dan melaksanakan tindakan yang di perlukan dalam mencapai sesuatu,supaya tetap sehat jasmani dan rohaninya, jika seorang wanita tidak memahami konsep efikasi diri dengan segala kekurangan dan kelebihannya, akhirnya akan mengalami depresi, stress yang berkepanjangan, Oleh sebab itu kita sering menemukan wanita yang memiliki beban pikiran yang tinggi sangat rentan memiliki tempramen tinggi, mudah tersinggung dan mudah marah, ini adalah dampak dari stress yang di alami seorang wanita yang tidak bisa mengatur diri dan emosinya. Sehingga di butuhkan penerapan Resiliensi dalam hidup seorang wanita dengan peran ganda, apa itu Resiliensi? Mari kita bahas resiliensi.
Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali setelah menghadapi kesulitan, tekanan, atau masalah. Ibarat karet yang ditarik, meski meregang, ia bisa kembali ke bentuk semula. Resiliensi membuat seseorang tidak mudah menyerah, bahkan mampu belajar dari pengalaman pahit. Resiliensi bukan hanya soal "kuat" secara fisik, tetapi mencakup beberapa aspek:
• Kognitif: kemampuan berpikir jernih dan mencari solusi.
• Emosional: mengendalikan perasaan agar tidak larut dalam stres.
• Sosial: dukungan dari keluarga, teman, dan lingkungan.
• Spiritual: keyakinan atau nilai hidup yang memberi ketenangan batin.
Dari keempat aspek di atas jika wanita dengan peran ganda memiliki resiliensi tinggi maka akan dapat menghadapi permasalahan yang dia temukan. Dia akan tetap mampu membagi waktu meski jadwal padat, menemukan energi untuk mengurus keluarga setelah bekerja, menghadapi tekanan sosial dengan sikap bijak, menjadikan nilai spiritual sebagai sumber kekuatan. Resiliensi membuat mereka tidak hanya bertahan melainkan dapat berkembang dengan jiwa yang tenang dalam kondisi yang tersulit.
Beberapa langkah sederhana untuk menumbuhkan resiliensi:
• Positif thinking adalah hal utama untuk menumbuhkan resiliensi, jika pikiran negative maka tidak sejalur dengan resiliensi.
• Menerima kenyataan dengan melihat sebuah masalah adalah tantangan yang harus di hadapi bukan di hindari, dengan menghindari masalah maka akan muncul masalah baru, jadi hadapi berikan solusi yang terbaik dan komunikasikan dengan baik.
• Membuat skala prioritas dengan memilih hal yang paling penting untuk dikerjakan,
• Menjaga Kesehatan dengan makanan yang sehat, nutrisi tubuh terpenuhi serta melakukan aktifitas olahraga tubuh yang sehat mendukung pikiran yang kuat.
• Membangun jaringan sosial dengan berbagi cerita dan dukungan dengan orang terdekat yang bisa menjadikan diri lebih tenang, yang paling utama adalah seseorang yang bisa menjaga rahasiamu,mengerti kamu dan memahamimu serta memiliki resilensi supaya masalahmu tidak membias, melainkan adanya solusi yang objektif
• Mengasah spiritualitas dengan berdoa, meditasi, atau refleksi diri dapat memberikan ketenangan hati dan pikiran.
Langkah-langkah sederhana ini bisa memberikan ketangguhan sehingga ketangguhan inilah yang menjadikan wanita bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh dan memberi cahaya bagi orang-orang di sekitarnya.Dengan dukungan keluarga, teman, dan lingkungan, resiliensi akan semakin kuat. Dan pada akhirnya, wanita dengan peran ganda bukan sekadar pejuang, tetapi juga sumber inspirasi yang menyalakan semangat hidup banyak orang.
Setelah mengetahui akan pentingnya menjadi wanita yang resilience mari kita dukung setiap wanita hebat di sekitar kita—ibu, istri, sahabat, rekan kerja—agar mereka tidak merasa berjalan sendiri.
(cip)
Lihat Juga :