Siklon Senyar Jadi Alarm Keras bagi Kesiapsiagaan Iklim Indonesia
Rabu, 17 Desember 2025 - 14:55 WIB
loading...
A
A
A
Senyar adalah nama yang diberikan oleh India untuk siklon di kawasan North Indian Ocean. Sehingga meski berdampak ke Indonesia, penamaannya mengikuti aturan wilayah tersebut.
Adapun lintasan Senyar mulai tercatat pada 25 November, mendarat di Indonesia pada 26 November, bergerak menuju Malaysia pada 27 November, dan bertahan hingga 28 November. Sebagai fenomena atmosfer baru yang menyita perhatian, Siklon Senyar juga memantik diskusi lebih luas di kalangan pakar meteorologi Tanah Air.
Sementara itu, Dosen Meteorologi sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) Deni Septiadi menilai bahwa siklon ini membuka babak baru pemahaman dinamika cuaca di kawasan Samudra dan Benua Maritim Indonesia.
"Para peneliti meteorologi melihat Senyar bukan hanya sebagai badai tropis pertama yang mengalami genesis di lorong sempit Selat Malaka, tetapi sebagai fenomena yang membuka babak baru pemahaman kita tentang cuaca ekstrem di Benua Maritim Indonesia (BMI)," kata Deni.
Ia menambahkan, fenomena tersebut bukan sekadar anomali, tetapi bukti konkret bahwa sistem atmosfer di kawasan ekuator semakin dinamis dan tidak lagi bisa diprediksi dengan pola lama.
“Catatan BMKG dan Citra Satelit, cakupan hujan ekstrem yang luas mencapai 200-400 milimeter per hari. Artinya atmosfer berpotensi menjatuhkan lebih dari 8–10 miliar ton air dalam sehari di wilayah Sumatra, setara dengan jutaan kolam renang olimpiade. Inilah sebabnya banjir dan longsor meluas, bahkan di wilayah yang sebelumnya tidak tercatat sebagai titik rawan,” jelasnya.
Adapun lintasan Senyar mulai tercatat pada 25 November, mendarat di Indonesia pada 26 November, bergerak menuju Malaysia pada 27 November, dan bertahan hingga 28 November. Sebagai fenomena atmosfer baru yang menyita perhatian, Siklon Senyar juga memantik diskusi lebih luas di kalangan pakar meteorologi Tanah Air.
Sementara itu, Dosen Meteorologi sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) Deni Septiadi menilai bahwa siklon ini membuka babak baru pemahaman dinamika cuaca di kawasan Samudra dan Benua Maritim Indonesia.
"Para peneliti meteorologi melihat Senyar bukan hanya sebagai badai tropis pertama yang mengalami genesis di lorong sempit Selat Malaka, tetapi sebagai fenomena yang membuka babak baru pemahaman kita tentang cuaca ekstrem di Benua Maritim Indonesia (BMI)," kata Deni.
Ia menambahkan, fenomena tersebut bukan sekadar anomali, tetapi bukti konkret bahwa sistem atmosfer di kawasan ekuator semakin dinamis dan tidak lagi bisa diprediksi dengan pola lama.
“Catatan BMKG dan Citra Satelit, cakupan hujan ekstrem yang luas mencapai 200-400 milimeter per hari. Artinya atmosfer berpotensi menjatuhkan lebih dari 8–10 miliar ton air dalam sehari di wilayah Sumatra, setara dengan jutaan kolam renang olimpiade. Inilah sebabnya banjir dan longsor meluas, bahkan di wilayah yang sebelumnya tidak tercatat sebagai titik rawan,” jelasnya.
Lihat Juga :