Buku Sejarah Indonesia 2025 Diluncurkan, Fadli Zon: Dari Prasejarah hingga Reformasi
Selasa, 16 Desember 2025 - 07:53 WIB
loading...
A
A
A
Seluruh jilid buku ini disunting oleh para sejarawan senior dari berbagai perguruan tinggi, mulai dari Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Hasanuddin, Universitas Andalas, Universitas Diponegoro, hingga Universitas Islam Internasional Indonesia dan Masyarakat Sejarawan Indonesia. Keberagaman latar belakang editor dan penulis mencerminkan upaya menghadirkan perspektif yang inklusif dan kaya secara akademik.
Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amelia Fauzia menilai kehadiran buku ini sebagai capaian penting dalam penulisan sejarah nasional.
“Ini luar biasa dan bersifat historis. Kita sudah lama membutuhkan buku yang lebih komprehensif dengan data-data baru. Buku ini merupakan refleksi yang baik dan diharapkan bisa menjadi pedoman, terutama bagi mahasiswa,” ujarnya.
Menurut Amelia, tantangan ke depan adalah memastikan buku ini dapat diakses dan dimanfaatkan oleh generasi muda yang cara belajarnya semakin melampaui ruang kelas konvensional. “Generasi Z banyak belajar sejarah dari luar teks, terutama melalui media digital. Ini tantangan besar sekaligus peluang bagi sejarah publik,” tambahnya.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menambahkan bahwa penerbitan buku ini merupakan bagian dari rangkaian menuju 80 tahun Indonesia merdeka. Ke depan, Kementerian Kebudayaan berencana melanjutkan penulisan buku-buku sejarah tematik lainnya, termasuk sejarah kerajaan-kerajaan besar dan berbagai fase penting perjuangan bangsa Indonesia.
Fadli juga menegaskan bahwa buku Sejarah Indonesia ini bukan kepentingan politik, melainkan untuk kepentingan bangsa ke depannya. “Dan ini untuk merawat kolektif, saya kira pro dan kontra itu biasa dalam demokrasi kita,” pungkasnya.
Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amelia Fauzia menilai kehadiran buku ini sebagai capaian penting dalam penulisan sejarah nasional.
“Ini luar biasa dan bersifat historis. Kita sudah lama membutuhkan buku yang lebih komprehensif dengan data-data baru. Buku ini merupakan refleksi yang baik dan diharapkan bisa menjadi pedoman, terutama bagi mahasiswa,” ujarnya.
Menurut Amelia, tantangan ke depan adalah memastikan buku ini dapat diakses dan dimanfaatkan oleh generasi muda yang cara belajarnya semakin melampaui ruang kelas konvensional. “Generasi Z banyak belajar sejarah dari luar teks, terutama melalui media digital. Ini tantangan besar sekaligus peluang bagi sejarah publik,” tambahnya.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menambahkan bahwa penerbitan buku ini merupakan bagian dari rangkaian menuju 80 tahun Indonesia merdeka. Ke depan, Kementerian Kebudayaan berencana melanjutkan penulisan buku-buku sejarah tematik lainnya, termasuk sejarah kerajaan-kerajaan besar dan berbagai fase penting perjuangan bangsa Indonesia.
Fadli juga menegaskan bahwa buku Sejarah Indonesia ini bukan kepentingan politik, melainkan untuk kepentingan bangsa ke depannya. “Dan ini untuk merawat kolektif, saya kira pro dan kontra itu biasa dalam demokrasi kita,” pungkasnya.
(cip)
Lihat Juga :