Kiai-Nyai Muda NU Desak Rekonsiliasi PBNU lewat Musyawarah Terbuka
Selasa, 09 Desember 2025 - 12:36 WIB
loading...
Forum Kiai Nyai Muda Nahdlatul Ulama (FKNM NU) menyerukan penyelesaian persoalan organisasi secara musyawarah agar tetap sesuai aturan dan khidmah kemasyarakatan. Foto/Dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Setelah para kiai sepuh menyerukan agar dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak diperkeruh, kini giliran para kiai dan nyai muda NU bersuara. Melalui Forum Kiai Nyai Muda Nahdlatul Ulama (FKNM NU) menyerukan pentingnya penyelesaian persoalan organisasi secara musyawarah agar NU tetap berada pada rel aturan dan khidmah kemasyarakatan.
Pernyataan tersebut lahir usai musyawarah resmi yang digelar secara daring pada Senin (8/12/2025). FKNM menilai dinamika PBNU belakangan ini perlu respons yang jernih dan langkah terukur agar tidak mengganggu kerja-kerja jam’iyyah di daerah.
Baca juga: Ini Kesimpulan Pertemuan Forum Sesepuh dan Mustasyar Nahdlatul Ulama di Pesantren Tebuireng
Musyawarah dinilai menjadi tradisi NU yang bukan hanya meredam konflik, tetapi juga memastikan penyelesaian berjalan sesuai amanah muktamar.
“NU membutuhkan ruang yang tenang. Konflik internal harus diselesaikan melalui musyawarah. Suara kami mungkin lirih, tetapi menjadi bagian dari tinta peradaban NU,” ujar Koordinator FKNM NU, Nyai Fatimah Asri Mutmainah, pengasuh Ponpes al-Aziz Lasem, Selasa (9/12/2025).
Ia menegaskan, selama ini kiai dan nyai muda tidak memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, sehingga forum ini menjadi wadah resmi untuk bersuara.
Sejumlah pengasuh pesantren yang bergabung dalam forum ini antara lain KH Ahmed Shoim El Amin (PP Ihya Ulumaddin, Cilacap), Agus H Ahmad Kafabihi Mahrus (PP Lirboyo, Kediri), KH Faiz Makki (PP Nurul Jadid, Paiton), serta para nyai muda seperti Iffatul Umniati Ismail (Sampang) dan Maya Fitria (PP Krapyak, Yogyakarta).
Baca juga: Respons Situasi di PBNU, Pengasuh Ponpes Al Munawwir Krapyak Keluarkan Maklumat
Anggota FKNM NU dari Jakarta, KH Rifqi Muhammad Fatkhi menyebut Muktamar mendatang harus dijadikan momentum penataan ulang tata kelola jam’iyyah.
“Muktamar harus menjadi ruang perbaikan dan penyempurnaan tata kelola. Pengurus di semua tingkatan juga wajib menjaga marwah NU,” tegasnya.
FKNM NU berharap seluruh pihak menahan diri dari tindakan yang memperkeruh suasana serta mendorong warga NU untuk ikut mendoakan para pemimpin jam’iyyah agar diberi kebijaksanaan dalam mengambil keputusan terbaik bagi NU. Forum menyatakan siap mendukung langkah yang menegakkan aturan dan memperkuat struktur organisasi.
“Sikap ini diambil semata-mata demi merawat jam’iyyah. NU harus terus melanjutkan khidmah bagi umat dan bangsa,” tegas Fatimah.
Pernyataan tersebut lahir usai musyawarah resmi yang digelar secara daring pada Senin (8/12/2025). FKNM menilai dinamika PBNU belakangan ini perlu respons yang jernih dan langkah terukur agar tidak mengganggu kerja-kerja jam’iyyah di daerah.
Baca juga: Ini Kesimpulan Pertemuan Forum Sesepuh dan Mustasyar Nahdlatul Ulama di Pesantren Tebuireng
Musyawarah dinilai menjadi tradisi NU yang bukan hanya meredam konflik, tetapi juga memastikan penyelesaian berjalan sesuai amanah muktamar.
“NU membutuhkan ruang yang tenang. Konflik internal harus diselesaikan melalui musyawarah. Suara kami mungkin lirih, tetapi menjadi bagian dari tinta peradaban NU,” ujar Koordinator FKNM NU, Nyai Fatimah Asri Mutmainah, pengasuh Ponpes al-Aziz Lasem, Selasa (9/12/2025).
Ia menegaskan, selama ini kiai dan nyai muda tidak memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, sehingga forum ini menjadi wadah resmi untuk bersuara.
Sejumlah pengasuh pesantren yang bergabung dalam forum ini antara lain KH Ahmed Shoim El Amin (PP Ihya Ulumaddin, Cilacap), Agus H Ahmad Kafabihi Mahrus (PP Lirboyo, Kediri), KH Faiz Makki (PP Nurul Jadid, Paiton), serta para nyai muda seperti Iffatul Umniati Ismail (Sampang) dan Maya Fitria (PP Krapyak, Yogyakarta).
Baca juga: Respons Situasi di PBNU, Pengasuh Ponpes Al Munawwir Krapyak Keluarkan Maklumat
Anggota FKNM NU dari Jakarta, KH Rifqi Muhammad Fatkhi menyebut Muktamar mendatang harus dijadikan momentum penataan ulang tata kelola jam’iyyah.
“Muktamar harus menjadi ruang perbaikan dan penyempurnaan tata kelola. Pengurus di semua tingkatan juga wajib menjaga marwah NU,” tegasnya.
FKNM NU berharap seluruh pihak menahan diri dari tindakan yang memperkeruh suasana serta mendorong warga NU untuk ikut mendoakan para pemimpin jam’iyyah agar diberi kebijaksanaan dalam mengambil keputusan terbaik bagi NU. Forum menyatakan siap mendukung langkah yang menegakkan aturan dan memperkuat struktur organisasi.
“Sikap ini diambil semata-mata demi merawat jam’iyyah. NU harus terus melanjutkan khidmah bagi umat dan bangsa,” tegas Fatimah.
(shf)
Lihat Juga :