Veritas Institut: Ruang Digital Harus Menguatkan Solidaritas Bencana Sumatera
Senin, 08 Desember 2025 - 11:23 WIB
loading...
Masyarakat diimbau menjadikan ruang digital dalam konteks bencana Sumatera untuk menguatkan solidaritas dan edukasi publik. Foto/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Direktur Eksekutif Veritas Institut Aldi Tahir menuturkan ruang digital dalam konteks bencana Sumatera seharusnya digunakan untuk menguatkan solidaritas dan edukasi publik, bukan untuk menyebarkan cerita sepihak yang belum tentu benar. Apalagi masyarakat di wilayah bencana sedang berada dalam kondisi rentan, baik secara fisik maupun psikologis.
“Dalam situasi bencana, yang dibutuhkan masyarakat adalah ketenangan, informasi yang akurat, serta edukasi yang membangun. Bukan narasi yang bisa memicu ketakutan, stigma, dan kecurigaan,” ujar Aldi, Senin (8/12/2025).
Aldi menegaskan, jika memang terdapat dugaan tindak pidana dalam musibah ini, jalur yang benar adalah melaporkannya kepada aparat penegak hukum agar dapat ditangani secara profesional.
Baca juga: Prediksi Cuaca Ekstrem Akhir Tahun: Hujan Sangat Lebat di Aceh, Sumut, Jawa, hingga Papua
“Negara memiliki mekanisme hukum untuk menangani kasus-kasus seperti ini. Melapor ke aparat jauh lebih tepat daripada menyebarkannya lebih dulu ke publik dengan narasi yang belum teruji kebenarannya,” katanya.
Terkait tudingan bahwa negara tidak hadir dalam penanganan bencana, Aldi meminta agar kritik disampaikan secara objektif dan berbasis data.
Baca juga: Prabowo: Saya Tidak Mau Ada Pihak yang Gunakan Bencana untuk Perkaya Diri
“Kritik itu penting dalam demokrasi, tetapi harus dibangun di atas fakta. Kita juga harus adil melihat kerja keras TNI, Polri, BNPB, tenaga medis, relawan, dan pemerintah daerah yang selama ini berada di garis depan membantu para korban,” jelasnya.
Aldi pun mengajak para figur publik dan influencer untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan informasi, khususnya yang berkaitan dengan kondisi darurat kemanusiaan.
“Setiap ucapan di ruang publik memiliki dampak. Karena itu, dibutuhkan tanggung jawab moral agar narasi yang disampaikan tidak justru memperpanjang penderitaan korban dan merusak kepercayaan publik,” pungkasnya.
“Dalam situasi bencana, yang dibutuhkan masyarakat adalah ketenangan, informasi yang akurat, serta edukasi yang membangun. Bukan narasi yang bisa memicu ketakutan, stigma, dan kecurigaan,” ujar Aldi, Senin (8/12/2025).
Aldi menegaskan, jika memang terdapat dugaan tindak pidana dalam musibah ini, jalur yang benar adalah melaporkannya kepada aparat penegak hukum agar dapat ditangani secara profesional.
Baca juga: Prediksi Cuaca Ekstrem Akhir Tahun: Hujan Sangat Lebat di Aceh, Sumut, Jawa, hingga Papua
“Negara memiliki mekanisme hukum untuk menangani kasus-kasus seperti ini. Melapor ke aparat jauh lebih tepat daripada menyebarkannya lebih dulu ke publik dengan narasi yang belum teruji kebenarannya,” katanya.
Terkait tudingan bahwa negara tidak hadir dalam penanganan bencana, Aldi meminta agar kritik disampaikan secara objektif dan berbasis data.
Baca juga: Prabowo: Saya Tidak Mau Ada Pihak yang Gunakan Bencana untuk Perkaya Diri
“Kritik itu penting dalam demokrasi, tetapi harus dibangun di atas fakta. Kita juga harus adil melihat kerja keras TNI, Polri, BNPB, tenaga medis, relawan, dan pemerintah daerah yang selama ini berada di garis depan membantu para korban,” jelasnya.
Aldi pun mengajak para figur publik dan influencer untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan informasi, khususnya yang berkaitan dengan kondisi darurat kemanusiaan.
“Setiap ucapan di ruang publik memiliki dampak. Karena itu, dibutuhkan tanggung jawab moral agar narasi yang disampaikan tidak justru memperpanjang penderitaan korban dan merusak kepercayaan publik,” pungkasnya.
(cip)
Lihat Juga :