Banjir Sumatera Dipicu Siklon Tropis Ekstrem, Pakar Tanah IPB: Bukan Sawit

Senin, 08 Desember 2025 - 09:26 WIB
loading...
Banjir Sumatera Dipicu...
Pakar ilmu tanah dari IPB University Basuki Sumawinata mengatakan, banjir Sumatera merupakan dampak dari siklon tropis luar biasa yang membawa hujan ekstrem dalam waktu singkat. Foto/Dok. Sindonews
A A A
JAKARTA - Pakar ilmu tanah dari IPB University Basuki Sumawinata mengatakan, banjir besar yang melanda sejumlah wilayah Sumatera tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan keberadaan kebun kelapa sawit . Menurutnya, banjir tersebut merupakan dampak dari siklon tropis luar biasa yang membawa hujan ekstrem dalam waktu singkat.

Basuki menjelaskan curah hujan (CH) selama kejadian siklon mencapai 400 mm dalam 1–3 hari, jumlah yang jauh melampaui rata-rata bulanan. “Curah hujan sebulan biasanya 150–200 mm. Ketika 400 mm turun hanya dalam beberapa hari, tanah tidak mungkin mampu meresapkan air, sehingga terjadi aliran permukaan yang massif,” kata Basuki dalam keterangannya, Senin (8/12/2025). Baca juga: Pengelola Tambang Emas Martabe Angkat Suara usai Disebut Biang Kerok Banjir Sumatera

Menurut hasil pemantauan satelit, awan hujan akibat siklon tersebut memiliki cakupan 200–300 km, meliputi pegunungan, perbukitan, hingga dataran rendah. ”Jadi bisa dibayangkan areal yang begitu luas menyangkut gunung dan perbukitan, air permukaannya mengalir dan berkumpul di pelembahan tentu akan menyebabkan aliran yang deras dan menyebabkan banjir dan longsor. Banjir menjadi semakin parah ketika mendekati daerah yang relatif datar terutama semakin dekat ke pantai,” jelasnya.

Ia memberikan gambaran: 400 mm hujan setara 4.000 meter kubik air per hektare. “Dengan cakupan dari Aceh sampai Sumatera Barat, banjir pasti terjadi. Tidak ada sistem lahan yang mampu menangani volume sebesar itu,” tegasnya.

Basuki juga menjelaskan bahwa meskipun infiltrasi hutan lebih baik daripada kebun sawit, tidak ada sistem lahan yang bisa menahan 400 mm hujan per hari. “Pada hutan primer pun akan terjadi run off besar ketika hujan ekstrem turun di lereng yang lebih curam. Bahkan erosi dan longsor lebih mungkin terjadi di hutan alami yang berada di topografi curam,” ujarnya.

Basuki mengungkapkan masyarakat Indonesia belum familier dengan fenomena siklon tropis , karena kejadian serupa jarang terjadi di wilayah Indonesia, terutama di lintang kurang dari 5 derajat. Negara seperti Jepang, Taiwan, dan Vietnam Utara sudah terbiasa menghadapi taifun sehingga sistem mitigasinya matang. ”Untuk Indonesia, ini kejadian luar biasa. Jadi untuk menghindari dampak siklon tropis adalah tidak ada lain adalah prediksi, peramalan dan mengungsi,” jelasnya.

Menanggapi anggapan bahwa sawit menjadi pemicu banjir maupun longsor, Basuki menegaskan bahwa kebun sawit tidak dibangun di lereng curam. Lereng yang digunakan hanya sampai sekitar 15–20%. Di atas itu, sawit memang bisa tumbuh, tetapi tidak ekonomis untuk dikelola.

Oleh karena itu, ia menegaskan, tidak logis mengaitkan sawit dengan longsor di daerah lereng. Selain itu, praktik budidaya sawit modern banyak dipantau melalui berbagai sistem sertifikasi untuk menjaga kepatuhan terhadap standar lingkungan.

Selain itu, berdasarkan data historis, perkebunan sawit modern umumnya tumbuh di eks kebun karet rakyat, belukar, atau wilayah bekas Hak Pengusahaan Hutan (HPH), bukan dibuka dari hutan primer. Menurutnya, sejumlah stigma yang sering diarahkan kepada sawit umumnya tidak berlandas pada data ilmiah. “Mulai dari sawit boros air, sawit penyebab banjir, dan lain-lain. Banyak sekali mispersepsi,” ujar Basuki.

Dari sisi lingkungan, sawit tetap memiliki fungsi ekologis lebih baik dibanding tanah terbuka atau belukar. Dengan laju fotosintesis tinggi, sawit berpotensi menjadi carbon sink yang efektif. “Penyerapan karbon kebun sawit jauh lebih tinggi dibanding hutan primer,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui risiko sawit sebagai monokultur, seperti rendahnya keanekaragaman hayati dan potensi penyakit, tetap perlu dikelola secara baik. Basuki mengaku sependapat dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan bahwa sawit dapat menjadi solusi krisis energi global. “Tidak ada tanaman lain yang mampu menghasilkan 3 ton minyak per hektar, bahkan potensi maksimumnya bisa 6–7 ton,” katanya.

CPO dapat dengan mudah diolah menjadi bahan bakar mesin, menjadikan sawit komoditas energi yang sangat strategis. Agar manfaat ekonomi sawit tetap besar namun ramah lingkungan, pengelolaannya harus dimulai dari penentuan lahan yang tepat—hanya di APL (areal penggunaan lain), bukan di kawasan hutan. Selain itu diperlukan pemilihan bibit unggul, teknik pemeliharaan yang baik, pengendalian erosi, penggunaan pupuk ramah lingkungan, serta pengelolaan limbah yang benar.

Basuki menekankan besarnya peran industri kelapa sawit terhadap ekonomi nasional. “Berapa juta orang yang hidup dari sawit? Dampaknya sangat besar,” ujarnya. Selain itu, program seperti biodiesel B40 yang didukung Dana BPDP memberikan manfaat luas bagi rakyat melalui distribusi biosolar. Baca juga: 2 Bibit Siklon 93W dan 91S Terdeteksi di Dekat Indonesia, Waspada Hujan Lebat-Gelombang Tinggi

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan Indonesia memiliki anugerah besar berupa kelapa sawit yang berlimpah. Sawit memiliki potensi sebagai sumber Bahan Bakar Minyak (BBM) apabila terjadi krisis energi dunia. ”Kondisi dunia tidak sedang baik-baik, dimana-mana ada perang. Jika terjadi perang berlanjut di Eropa, dampaknya ke kita. Maka dari awal saya katakan bahwa kita harus swasembada pangan, swasembada energi,” kata Prabowo saat menghadiri puncak HUT ke-61 Partai Golkar di Jakarta, Jumat (5/12/2025).

Prabowo menuturkan sawit menyimpan potensi sebagai menjadi solusi strategis untuk mengatasi potensi krisis energi global karena bisa diolah menjadi BBM. Prabowo mengatakan setiap kali menginstruksikan pengembangan B50 dan B60, banyak ekonom yang menyampaikan berbagai komentar. Kepala Negara mengingatkan, kalau teknologi tidak siap dan pabrik pengolahan tidak siap, Indonesia yang akan merasakan dampaknya.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
25 Wilayah Indonesia...
25 Wilayah Indonesia Berpotensi Tsunami Akibat Gempa M7,7 di Mindanao Filipina
Dasco Panggil Satgas...
Dasco Panggil Satgas Percepatan Penanganan Bencana Sumatera
Mengelola Sawit untuk...
Mengelola Sawit untuk Indonesia yang Kuat
Perkuat Penanganan Bencana...
Perkuat Penanganan Bencana Daerah, Kemendagri Dorong Transformasi Tata Kelola BPBD
BNPB Ungkap Indonesia...
BNPB Ungkap Indonesia Peringkat Ketiga Negara dengan Risiko Bencana Tertinggi di Dunia
Kemendagri: Permendagri...
Kemendagri: Permendagri 18/2025 Tempatkan BPBD Pemegang Komando Penanganan Bencana
119 Pekebun Morowali...
119 Pekebun Morowali Ikuti Pelatihan Sawit di Palu, Fokus ISPO hingga Pemetaan Kebun
6 Fakta Gempa Kerak...
6 Fakta Gempa Kerak Dangkal M6,7 di Jalur Sesar Aktif Sulawesi Tengah
BMKG Pantau Potensi...
BMKG Pantau Potensi Likuefaksi usai Gempa Besar M6,7 di Palu Sulteng
Rekomendasi
Kadishub DKI Sangkal...
Kadishub DKI Sangkal Anak Buahnya Minta Duit Rp250 Ribu ke Ojol yang Motornya Diangkut
Vasanta Kembangkan Hunian...
Vasanta Kembangkan Hunian Suburban Berkonsep Alam
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Negara-negara Arab Bisa Bernapas Lega
Berita Terkini
Dokter Tifa Masih Diinfus...
Dokter Tifa Masih Diinfus dan Roy Suryo Tidak Mau Makan Obat
Refly Harun Sudah Siapkan...
Refly Harun Sudah Siapkan Surat Permohonan Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa
Refly Harun Ungkap Kondisi...
Refly Harun Ungkap Kondisi Terkini Roy Suryo dan Dokter Tifa
Prabowo Panggil Rosan...
Prabowo Panggil Rosan Roeslani ke Kertanegara Minggu Malam, Ada Apa?
MUI Tegaskan LGBT adalah...
MUI Tegaskan LGBT adalah Penyimpangan: Wajib Disembuhkan
Deretan Pasal Menjerat...
Deretan Pasal Menjerat Roy Suryo dan Dokter Tifa di Kasus Ijazah Jokowi
Infografis
Wilayah Pesisir yang...
Wilayah Pesisir yang Berpotensi Dilanda Banjir Rob hingga 21 Juni
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved