Sekjen Liga Muslim Dunia Sampaikan Khutbah Jumat di Jakarta, Serukan Persatuan Umat
Jum'at, 05 Desember 2025 - 21:16 WIB
loading...
Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia (MWL), Syekh Dr. Mohammed Al-Issa khutbah Jumat di Masjid Istiqlal Jakarta, Jumat (5/12/2025). FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia (MWL), Syekh Dr. Mohammed Al-Issa memuji Indonesia sebagai model global moderasi dan kehidupan harmonis. Menurutnya, bangsa Indonesia mampu menjaga identitas keislamannya sekaligus merangkul keberagaman sebagai sumber kekuatan nasional.
Hal itu disampaikan Dr. Mohammed Al-Issa dalam khutbah Jumat di Masjid Istiqlal Jakarta, Jumat (5/12/2025). Dalam khutbahnya, ia juga menyerukan umat Islam di seluruh dunia untuk memperkuat persatuan, menjunjung akhlak mulia, serta menghadapi tantangan global dengan keteguhan moral dan solidaritas kolektif.
"Seorang Muslim adalah akhlak yang berjalan di muka bumi," katanya.
Menurutnya, ada dua tantangan besar yang dihadapi dunia Islam saat ini, yakni meningkatnya Islamofobia dan perpecahan internal. Meskipun PBB telah menetapkan 15 Maret sebagai Hari Internasional Melawan Islamofobia, tapi diskriminasi serta hasutan terhadap Muslim masih terjadi di berbagai masyarakat dunia, sehingga memerlukan respons bersama yang kuat dan berprinsip.
Dr. Al-Issa juga menyoroti sektarianisme, sikap saling menyingkirkan, dan pelabelan ideologis. Menurutnya, hal itu justru melemahkan umat dari dalam, serta secara historis telah membuka ruang bagi kelompok ekstrem dan teroris.
Hal itu disampaikan Dr. Mohammed Al-Issa dalam khutbah Jumat di Masjid Istiqlal Jakarta, Jumat (5/12/2025). Dalam khutbahnya, ia juga menyerukan umat Islam di seluruh dunia untuk memperkuat persatuan, menjunjung akhlak mulia, serta menghadapi tantangan global dengan keteguhan moral dan solidaritas kolektif.
"Seorang Muslim adalah akhlak yang berjalan di muka bumi," katanya.
Menurutnya, ada dua tantangan besar yang dihadapi dunia Islam saat ini, yakni meningkatnya Islamofobia dan perpecahan internal. Meskipun PBB telah menetapkan 15 Maret sebagai Hari Internasional Melawan Islamofobia, tapi diskriminasi serta hasutan terhadap Muslim masih terjadi di berbagai masyarakat dunia, sehingga memerlukan respons bersama yang kuat dan berprinsip.
Dr. Al-Issa juga menyoroti sektarianisme, sikap saling menyingkirkan, dan pelabelan ideologis. Menurutnya, hal itu justru melemahkan umat dari dalam, serta secara historis telah membuka ruang bagi kelompok ekstrem dan teroris.
Lihat Juga :