Menhut Raja Juli Siap Dievaluasi Jika Gagal Tangani Banjir Sumatera
Kamis, 04 Desember 2025 - 19:23 WIB
loading...
Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni menyatakan siap untuk dievaluasi jika gagal menangani banjir bandang yang menerjang Aceh, Sumbar dan Sumut. Foto/Achmad Al Fiqri
A
A
A
JAKARTA - Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni menyatakan, siap untuk dievaluasi jika gagal menangani banjir bandang yang menerjang Aceh, Sumatera Barat (Sumbar) dan Sumatera Utara (Sumut). Ia pun menyerahkan sepenuhnya pada Allah SWT.
Pernyataan ini dilontarkan Raja Juli, sekaligus disinggung Komisi IV DPR RI ihwal adanya menteri di Filipina yang mundur lantaran gagal tangani banjir. Raja Juli pun mengatakan, kekuasaan hanyalah milik Allah SWT.
Baca juga: Said Didu Soal Gelondongan Kayu di Banjir Sumatera: Itu Serakahnomics, Hutan Lindung pun Diembat
"Saya yakin ya, namanya kekuasaan itu milik Allah ya, dan itu hak prerogatif Presiden. Jadi saya siap dievaluasi," ujar Raja Juli usai Raker bersama Komisi IV DPR RI, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (4/12/2025).
Raja Juli pun mengaku, segala komentar kritik di sosial medianya tak pernah dihapus. Baginya, kritik itu merupakan aspirasi dan harapan
"Kritik netizen kepada saya, saya nggak pernah hapus ya. Itu bagian dari apa namanya, ya aspirasi, kemarahan, itu bahkan harapan ya, ekspektasi," kata Raja Juli.
Atas dasar itu, Raja Juli tak masalah bila dievaluasi. Ia menegaskan, tanggung jawabnya hanya bekerja.
Baca juga: Bencana Sumatera, Gus Kautsar Singgung Pembalakan Liar dan Kerakusan Manusia
"Jadi monggo, tanggung jawab saya hanya bekerja semaksimal mungkin yang saya bisa. Selanjutnya itu adalah hak prerogatif Pak Presiden," tuturnya.
Sebelumnya, anggota Komisi IV DPR RI, Rahmat Saleh memberi contoh dua menteri di Filipina mundur dari jabatan akibat gagal menangani banjir. Menurutnya, tak salah bila sikap itu ditiru oleh menteri di Indonesia yang gagal menangani banjir di Sumatera.
Hal itu diungkapkan Rahmat saat Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi IV DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (4/12/2025). Mulanya, ia mengaku pernah membaca ada menteri di Filipina mundur akibat gagal menangani banjir.
"Saya pernah membaca yah tanggal kemarin, itu tanggal 18 November itu kabinetnya Pak Ferdinand Marcos di Filipina, mereka itu banjir penyebabnya. Tapi gentleman dua menterinya mengundurkan diri karena merasa menganggap tidak mampu mengatasi itu," ucap Rahmat.
Atas dasar itu, ia menilai, bukan suatu sikap yang salah bila ada menteri di Kabinet Merah Putih mundur akibat gagal mengatasi banjir Sumatera. Menurutnya, sikap itu merupakan mulia.
"Jadi bukan sesuatu yang salah juga kalau menteri yang tidak sanggup mengatasi ini mundur juga. Itu adalah tugas yang mulia menurut saya," tegasnya.
Pernyataan ini dilontarkan Raja Juli, sekaligus disinggung Komisi IV DPR RI ihwal adanya menteri di Filipina yang mundur lantaran gagal tangani banjir. Raja Juli pun mengatakan, kekuasaan hanyalah milik Allah SWT.
Baca juga: Said Didu Soal Gelondongan Kayu di Banjir Sumatera: Itu Serakahnomics, Hutan Lindung pun Diembat
"Saya yakin ya, namanya kekuasaan itu milik Allah ya, dan itu hak prerogatif Presiden. Jadi saya siap dievaluasi," ujar Raja Juli usai Raker bersama Komisi IV DPR RI, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (4/12/2025).
Raja Juli pun mengaku, segala komentar kritik di sosial medianya tak pernah dihapus. Baginya, kritik itu merupakan aspirasi dan harapan
"Kritik netizen kepada saya, saya nggak pernah hapus ya. Itu bagian dari apa namanya, ya aspirasi, kemarahan, itu bahkan harapan ya, ekspektasi," kata Raja Juli.
Atas dasar itu, Raja Juli tak masalah bila dievaluasi. Ia menegaskan, tanggung jawabnya hanya bekerja.
Baca juga: Bencana Sumatera, Gus Kautsar Singgung Pembalakan Liar dan Kerakusan Manusia
"Jadi monggo, tanggung jawab saya hanya bekerja semaksimal mungkin yang saya bisa. Selanjutnya itu adalah hak prerogatif Pak Presiden," tuturnya.
Sebelumnya, anggota Komisi IV DPR RI, Rahmat Saleh memberi contoh dua menteri di Filipina mundur dari jabatan akibat gagal menangani banjir. Menurutnya, tak salah bila sikap itu ditiru oleh menteri di Indonesia yang gagal menangani banjir di Sumatera.
Hal itu diungkapkan Rahmat saat Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi IV DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (4/12/2025). Mulanya, ia mengaku pernah membaca ada menteri di Filipina mundur akibat gagal menangani banjir.
"Saya pernah membaca yah tanggal kemarin, itu tanggal 18 November itu kabinetnya Pak Ferdinand Marcos di Filipina, mereka itu banjir penyebabnya. Tapi gentleman dua menterinya mengundurkan diri karena merasa menganggap tidak mampu mengatasi itu," ucap Rahmat.
Atas dasar itu, ia menilai, bukan suatu sikap yang salah bila ada menteri di Kabinet Merah Putih mundur akibat gagal mengatasi banjir Sumatera. Menurutnya, sikap itu merupakan mulia.
"Jadi bukan sesuatu yang salah juga kalau menteri yang tidak sanggup mengatasi ini mundur juga. Itu adalah tugas yang mulia menurut saya," tegasnya.
(shf)
Lihat Juga :