Suara Kritis Bukan Ajang Jadi Keren, Rian Fahardhi: Itu Hal Fundamental Jadi Warga Negara
Rabu, 26 November 2025 - 15:11 WIB
loading...
Kreator konten Rian Fahardhi (tiga dari kanan), menjadi pemateri dalam dialog di iNews Media Group Campus Connect bertajuk Creatorverse, di Universitas Tarumanegara, Jakarta Barat, Rabu (26/11/2025). Foto/Aldhi Chandra Setiawan
A
A
A
JAKARTA - Kreator konten atau content creator yang kerap menyuarakan isu sosial dan politik, Rian Fahardhi, menilai, suara kritis dari anak muda bukanlah ajang untuk menjadi keren. Baginya, suara kritis merupakan hal fundamental manusia dan berkah sebagai warga negara.
Hal ini diungkapkan Rian saat menjadi pemateri dalam dialog di iNews Media Group Campus Connect bertajuk "Creatorverse," di Universitas Tarumanegara, Jakarta Barat, Rabu (26/11/2025).
Baca juga: iNews Media Group Ajak Content Creator Berkolaborasi
"Jadi tidak ada yang keren sebenarnya dari bersuara. Tidak ada yang keren sebenarnya dari mengkritik. Tidak ada yang keren. Karena itu hal dasar, hal fundamental yang harus teman-teman punya sebagai manusia yang punya akal, manusia yang diberkahi kesempatan untuk menjadi warga negara di negeri yang demokrasi ini," ujar Rian.
Untuk itu, Rian sengaja membuat konten literasi politik di akun sosial medianya. Dengan sosial media, ia menilai, literasi politik dapat menjangkau luas generasi muda.
"Agar kita sama-sama membangun Indonesia yang jauh lebih baik, jauh lebih hebat ke depannya yang akan kita tinggalkan. Karena kita tidak hanya bicara tentang satu generasi kan, tapi ini tentang estafet generasi. Konten hari ini itu jadi jejak yang akan ditonton oleh generasi-generasi ke depan," ucap Rian.
Lebih lanjut, Rian pun menepis anggapan bahwa anak muda masa kini bersikap apatis terhadap politik. Ia menilai kepedulian itu ada, namun perlu pendekatan yang relevan dengan keseharian mereka.
Baca juga: iNews Media Group Gelar ICC di Untar, Ajak Anak Muda Berkolaborasi Bangun Ruang Digital Sehat
"Saya ingin bilang bahwa politik itu sebenarnya masalah sehari-hari. Hal-hal kecil sebenarnya kita enggak bisa lepas dari politik. Mulai dari es kopi susu gula aren yang kita beli, kemudian transportasi kita, jarak yang kita ambil, itu enggak bisa lepas dari politik," ujar Rian.
Rian menegaskan bahwa inti dari menyuarakan pendapat bukanlah semata-mata untuk mengubah kebijakan secara instan, melainkan untuk membangun kembali kesadaran publik akan hak dan kewajiban sebagai warga negara.
Ia juga menyoroti fenomena di mana orang seringkali enggan mencampuri urusan atau masalah orang lain. Bagi Rian, bersuara atas masalah orang lain adalah bentuk antisipasi agar masalah serupa tidak menimpa diri sendiri di kemudian hari.
"Ketika saya melihat orang-orang bilang 'Ngapain sih ngomongin masalah orang lain?', justru saya ingin bilang, ketika kita enggak ngomongin ini, mungkin ke depan ini akan jadi masalah kita juga. Tinggal tunggu waktu saja," tegasnya.
Hal ini diungkapkan Rian saat menjadi pemateri dalam dialog di iNews Media Group Campus Connect bertajuk "Creatorverse," di Universitas Tarumanegara, Jakarta Barat, Rabu (26/11/2025).
Baca juga: iNews Media Group Ajak Content Creator Berkolaborasi
"Jadi tidak ada yang keren sebenarnya dari bersuara. Tidak ada yang keren sebenarnya dari mengkritik. Tidak ada yang keren. Karena itu hal dasar, hal fundamental yang harus teman-teman punya sebagai manusia yang punya akal, manusia yang diberkahi kesempatan untuk menjadi warga negara di negeri yang demokrasi ini," ujar Rian.
Untuk itu, Rian sengaja membuat konten literasi politik di akun sosial medianya. Dengan sosial media, ia menilai, literasi politik dapat menjangkau luas generasi muda.
"Agar kita sama-sama membangun Indonesia yang jauh lebih baik, jauh lebih hebat ke depannya yang akan kita tinggalkan. Karena kita tidak hanya bicara tentang satu generasi kan, tapi ini tentang estafet generasi. Konten hari ini itu jadi jejak yang akan ditonton oleh generasi-generasi ke depan," ucap Rian.
Lebih lanjut, Rian pun menepis anggapan bahwa anak muda masa kini bersikap apatis terhadap politik. Ia menilai kepedulian itu ada, namun perlu pendekatan yang relevan dengan keseharian mereka.
Baca juga: iNews Media Group Gelar ICC di Untar, Ajak Anak Muda Berkolaborasi Bangun Ruang Digital Sehat
"Saya ingin bilang bahwa politik itu sebenarnya masalah sehari-hari. Hal-hal kecil sebenarnya kita enggak bisa lepas dari politik. Mulai dari es kopi susu gula aren yang kita beli, kemudian transportasi kita, jarak yang kita ambil, itu enggak bisa lepas dari politik," ujar Rian.
Rian menegaskan bahwa inti dari menyuarakan pendapat bukanlah semata-mata untuk mengubah kebijakan secara instan, melainkan untuk membangun kembali kesadaran publik akan hak dan kewajiban sebagai warga negara.
Ia juga menyoroti fenomena di mana orang seringkali enggan mencampuri urusan atau masalah orang lain. Bagi Rian, bersuara atas masalah orang lain adalah bentuk antisipasi agar masalah serupa tidak menimpa diri sendiri di kemudian hari.
"Ketika saya melihat orang-orang bilang 'Ngapain sih ngomongin masalah orang lain?', justru saya ingin bilang, ketika kita enggak ngomongin ini, mungkin ke depan ini akan jadi masalah kita juga. Tinggal tunggu waktu saja," tegasnya.
(shf)
Lihat Juga :