Dorong Kajian Ontologi Pendidikan, Menag: Menentukan Arah Masa Depan Pesantren
Sabtu, 22 November 2025 - 16:21 WIB
loading...
Menteri Agama(Menag) Nasaruddin Umar mendorong kajian ontologi pendidikan sebagai rumusan arah baru pesantren. Foto/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Menteri Agama(Menag) Nasaruddin Umar mendorong kajian ontologi pendidikan sebagai rumusan arah baru pesantren . Hal itu penting sebelum Direktorat Jenderal Pesantren berjalan sebagai satuan kerja Eselon I di Kementerian Agama.
Nasaruddin menekankan fondasi konseptual lembaga baru ini harus dibangun melalui kajian ontologis tiga arus besar pendidikan sekuler, pendidikan Islam, dan pendidikan pesantren.
Nasaruddin menyebut Ditjen Pesantren sebagai cek kosong yang memerlukan pengisian matang agar tidak melahirkan kebijakan prematur.
Baca juga: Ada Ditjen Pesantren, Wamenag: 42 Ribu Pondok Pesantren dan 11 Juta Santri Semakin Berdaya
“Road map pesantren dan pendidikan Islam harus jelas. Jangan sampai jalannya sama, tetapi memakai nama berbeda,” ujarnya pada Halaqah Penguatan Kelembagaan Ditjen Pesantren di Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Sabtu (21/11/2025).
Nasaruddin berharap forum halaqah ini melahirkan gagasan yang solid untuk menentukan arah masa depan pesantren, sekaligus mengintegrasikan keragaman pandangan yang saat ini berkembang dalam dunia pendidikan.
Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Rosihon Anwar, menambahkan kampus terus menguatkan ekosistem pesantren melalui berbagai program, termasuk Ma’had Al-Jamiah.
"Saya berharap halaqah menjadi ruang konsolidasi nasional untuk menenun masa depan pesantren sekaligus menjaga ketahanan tradisi keilmuan di tengah dinamika zaman," ujarnya.
Baca juga: Darunnajah di Pleno 'Ketahanan Pangan': Pesantren Sebagai Aktor Ekonomi Produktif
Selain membuka halaqah, Nasaruddin juga meluncurkan Sentra Analisis dan Riset Pesantren Indonesia (Santi) sebagai pusat kajian strategis untuk memperkuat riset dan pemikiran seputar pendidikan pesantren.
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Arskal Salim menambahkan halaqah ini menjadi ruang terbuka bagi para kiai, ajengan, pengelola pesantren, alumni pesantren, akademisi, dan pemerintah untuk menyampaikan pandangan dan masukan berharga.
“Halaqah ini memberikan ruang bagi kita semua untuk memberikan masukan-masukan yang berharga bagi kemajuan pesantren. Sehingga menghadirkan gagasan yang lebih konkret dan inovatif tentang bagaimana membentuk arah penguatan pesantren,” ujarnya.
Hadir dalam halaqah ini tokoh-tokoh nasional, salah satunya mantan Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj yang menegaskan penguatan pesantren tidak boleh hanya berhenti pada aspek administratif, tetapi harus berdiri di atas bangunan epistemologi yang kokoh.
Menurut Kiai Said, pemahaman agama perlu berlandaskan tiga pendekatan klasik yang telah menjadi tradisi besar dalam keilmuan Islam yaitu Bayan berupa pendekatan tekstual berbasis wahyu dan hadis; Burhan yakni pendekatan rasional yang menguatkan teks melalui logika dan penalaran dan Irfan yakni pendekatan spiritual yang memberikan kedalaman makna melalui pengalaman batin.
“Tiga epistemologi ini tidak boleh berjalan sendiri. Teks tanpa nalar tidak cukup, dan nalar tanpa kedalaman spiritual juga tidak memadai,” ujarnya.
Integrasi ketiganya dipandang sangat relevan untuk membentuk santri yang kuat secara intelektual, matang secara spiritual, dan terampil membaca realitas.
Halaqah ini menjadi bagian dari langkah Kementerian Agama menyiapkan kerangka besar Ditjen Pesantren sebagai institusi yang akan menangani pembinaan pesantren secara nasional.
Melalui kajian ontologi pendidikan, pemerintah berharap penyusunan kebijakan tidak hanya responsif terhadap kebutuhan masyarakat, tetapi juga berakar pada tradisi keilmuan yang telah menghidupi pesantren berabad-abad lamanya.
Turut hadir sebagai narasumber KH Said Aqil Siradj, Direktur Nasional Gusdurian Indonesia Alissa Qutrotunnada Wahid. Pimpinan Ponpes Miftahul Huda Tasikmalaya KH Aziz Afandi serta Pimpinan Ponpes Al-Muhajirin Purwakarta KH Abun Bunyamin.
Nasaruddin menekankan fondasi konseptual lembaga baru ini harus dibangun melalui kajian ontologis tiga arus besar pendidikan sekuler, pendidikan Islam, dan pendidikan pesantren.
Nasaruddin menyebut Ditjen Pesantren sebagai cek kosong yang memerlukan pengisian matang agar tidak melahirkan kebijakan prematur.
Baca juga: Ada Ditjen Pesantren, Wamenag: 42 Ribu Pondok Pesantren dan 11 Juta Santri Semakin Berdaya
“Road map pesantren dan pendidikan Islam harus jelas. Jangan sampai jalannya sama, tetapi memakai nama berbeda,” ujarnya pada Halaqah Penguatan Kelembagaan Ditjen Pesantren di Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Sabtu (21/11/2025).
Nasaruddin berharap forum halaqah ini melahirkan gagasan yang solid untuk menentukan arah masa depan pesantren, sekaligus mengintegrasikan keragaman pandangan yang saat ini berkembang dalam dunia pendidikan.
Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Rosihon Anwar, menambahkan kampus terus menguatkan ekosistem pesantren melalui berbagai program, termasuk Ma’had Al-Jamiah.
"Saya berharap halaqah menjadi ruang konsolidasi nasional untuk menenun masa depan pesantren sekaligus menjaga ketahanan tradisi keilmuan di tengah dinamika zaman," ujarnya.
Baca juga: Darunnajah di Pleno 'Ketahanan Pangan': Pesantren Sebagai Aktor Ekonomi Produktif
Selain membuka halaqah, Nasaruddin juga meluncurkan Sentra Analisis dan Riset Pesantren Indonesia (Santi) sebagai pusat kajian strategis untuk memperkuat riset dan pemikiran seputar pendidikan pesantren.
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Arskal Salim menambahkan halaqah ini menjadi ruang terbuka bagi para kiai, ajengan, pengelola pesantren, alumni pesantren, akademisi, dan pemerintah untuk menyampaikan pandangan dan masukan berharga.
“Halaqah ini memberikan ruang bagi kita semua untuk memberikan masukan-masukan yang berharga bagi kemajuan pesantren. Sehingga menghadirkan gagasan yang lebih konkret dan inovatif tentang bagaimana membentuk arah penguatan pesantren,” ujarnya.
Hadir dalam halaqah ini tokoh-tokoh nasional, salah satunya mantan Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj yang menegaskan penguatan pesantren tidak boleh hanya berhenti pada aspek administratif, tetapi harus berdiri di atas bangunan epistemologi yang kokoh.
Menurut Kiai Said, pemahaman agama perlu berlandaskan tiga pendekatan klasik yang telah menjadi tradisi besar dalam keilmuan Islam yaitu Bayan berupa pendekatan tekstual berbasis wahyu dan hadis; Burhan yakni pendekatan rasional yang menguatkan teks melalui logika dan penalaran dan Irfan yakni pendekatan spiritual yang memberikan kedalaman makna melalui pengalaman batin.
“Tiga epistemologi ini tidak boleh berjalan sendiri. Teks tanpa nalar tidak cukup, dan nalar tanpa kedalaman spiritual juga tidak memadai,” ujarnya.
Integrasi ketiganya dipandang sangat relevan untuk membentuk santri yang kuat secara intelektual, matang secara spiritual, dan terampil membaca realitas.
Halaqah ini menjadi bagian dari langkah Kementerian Agama menyiapkan kerangka besar Ditjen Pesantren sebagai institusi yang akan menangani pembinaan pesantren secara nasional.
Melalui kajian ontologi pendidikan, pemerintah berharap penyusunan kebijakan tidak hanya responsif terhadap kebutuhan masyarakat, tetapi juga berakar pada tradisi keilmuan yang telah menghidupi pesantren berabad-abad lamanya.
Turut hadir sebagai narasumber KH Said Aqil Siradj, Direktur Nasional Gusdurian Indonesia Alissa Qutrotunnada Wahid. Pimpinan Ponpes Miftahul Huda Tasikmalaya KH Aziz Afandi serta Pimpinan Ponpes Al-Muhajirin Purwakarta KH Abun Bunyamin.
(cip)
Lihat Juga :