Sebaran Ideologi Radikal Makin Terdesentralisasi, Perlu Resistensi Ekosistem Pendidikan
Kamis, 20 November 2025 - 21:44 WIB
loading...
Akademisi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Muhammad Abdullah Darraz. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Meluasnya penyebaran propaganda dan ideologi kekerasan di ruang digital dinilai semakin mengkhawatirkan. Tidak lagi terbatas pada lingkup aktivitas keagamaan tertentu, konten bernuansa ekstrem kini hadir dalam bentuk yang lebih menarik bagi anak-anak dan remaja, seperti meme, video pendek, hingga percakapan di forum daring. Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian serius seluruh pihak dalam ekosistem pendidikan.
Akademisi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Muhammad Abdullah Darraz mengungkap adanya pergeseran pola sebaran ideologi berbahaya yang kini semakin terdesentralisasi. Menurutnya, akses yang luas terhadap platform digital membuat generasi muda lebih rentan terpapar radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan.
"Dulu propaganda ekstremisme banyak bergantung pada struktur hierarkis organisasi teroris, dengan materi yang diproduksi secara profesional dan disebarkan melalui saluran terbatas. Sekarang, konten serupa bisa dibuat dan disebar individu atau sel kecil tanpa keterikatan organisasi," kata Darraz dikutip, Kamis (20/11/2025).
Ia menambahkan, pelajar atau individu lainnya dalam lingkungan pendidikan dapat dengan mudah menjadi produsen sekaligus konsumen konten bermuatan radikal tanpa harus bergabung dengan jaringan teror tertentu. Kemudahan produksi konten digital—mulai dari meme, unggahan TikTok, thread di Twitter/X, hingga obrolan WhatsApp—membuat pesan-pesan ekstremis semakin akrab di mata generasi muda.
Selain faktor digital, Darraz menyoroti aspek kesehatan mental pelajar yang sering terabaikan. Ia merujuk insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta sebagai contoh bagaimana aksi kekerasan dapat dilakukan tanpa keterlibatan jaringan terorisme, melainkan terinspirasi oleh ideologi berbahaya lain, termasuk white supremacy.
"Kerentanan psikologis seperti pengucilan diri, kemarahan, atau frustasi terhadap ketidakadilan menjadi celah yang dieksploitasi konten ekstremis. Ideologi radikal menawarkan penjelasan sederhana tentang siapa yang salah dan mempromosikan kekerasan sebagai cara untuk bertindak," ujarnya.
Darraz menegaskan sekolah dan area publik lain harus menjadi tempat aman bagi perkembangan generasi muda. Ia meminta orang tua, guru, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan untuk lebih proaktif membangun ekosistem pendidikan yang tahan terhadap paparan ideologi intoleran dan kekerasan.
Menurutnya, ekosistem pendidikan ideal harus memiliki mekanisme pencegahan melalui pendidikan karakter, penguatan nilai inklusif, serta perhatian pada kesehatan mental. Guru dan orang tua juga perlu dibekali kemampuan deteksi dini untuk mengidentifikasi gejala kerentanan dan paparan ideologi ekstrem. "Intervensi harus dilakukan dengan pendekatan suportif, bukan punitif, serta melibatkan konselor, orang tua, dan komunitas," ujar Darraz.
Ia menutup dengan pesan bahwa ekosistem pendidikan harus berubah dari "menjadi target" menjadi "benteng pertahanan" terhadap penyebaran paham intoleransi dan kekerasan. "Dengan strategi yang konsisten dan multi-segi, kita dapat menciptakan lingkungan yang mampu melindungi generasi muda dari segala bentuk ekstremisme," pungkasnya.
Akademisi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Muhammad Abdullah Darraz mengungkap adanya pergeseran pola sebaran ideologi berbahaya yang kini semakin terdesentralisasi. Menurutnya, akses yang luas terhadap platform digital membuat generasi muda lebih rentan terpapar radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan.
"Dulu propaganda ekstremisme banyak bergantung pada struktur hierarkis organisasi teroris, dengan materi yang diproduksi secara profesional dan disebarkan melalui saluran terbatas. Sekarang, konten serupa bisa dibuat dan disebar individu atau sel kecil tanpa keterikatan organisasi," kata Darraz dikutip, Kamis (20/11/2025).
Ia menambahkan, pelajar atau individu lainnya dalam lingkungan pendidikan dapat dengan mudah menjadi produsen sekaligus konsumen konten bermuatan radikal tanpa harus bergabung dengan jaringan teror tertentu. Kemudahan produksi konten digital—mulai dari meme, unggahan TikTok, thread di Twitter/X, hingga obrolan WhatsApp—membuat pesan-pesan ekstremis semakin akrab di mata generasi muda.
Selain faktor digital, Darraz menyoroti aspek kesehatan mental pelajar yang sering terabaikan. Ia merujuk insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta sebagai contoh bagaimana aksi kekerasan dapat dilakukan tanpa keterlibatan jaringan terorisme, melainkan terinspirasi oleh ideologi berbahaya lain, termasuk white supremacy.
"Kerentanan psikologis seperti pengucilan diri, kemarahan, atau frustasi terhadap ketidakadilan menjadi celah yang dieksploitasi konten ekstremis. Ideologi radikal menawarkan penjelasan sederhana tentang siapa yang salah dan mempromosikan kekerasan sebagai cara untuk bertindak," ujarnya.
Darraz menegaskan sekolah dan area publik lain harus menjadi tempat aman bagi perkembangan generasi muda. Ia meminta orang tua, guru, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan untuk lebih proaktif membangun ekosistem pendidikan yang tahan terhadap paparan ideologi intoleran dan kekerasan.
Menurutnya, ekosistem pendidikan ideal harus memiliki mekanisme pencegahan melalui pendidikan karakter, penguatan nilai inklusif, serta perhatian pada kesehatan mental. Guru dan orang tua juga perlu dibekali kemampuan deteksi dini untuk mengidentifikasi gejala kerentanan dan paparan ideologi ekstrem. "Intervensi harus dilakukan dengan pendekatan suportif, bukan punitif, serta melibatkan konselor, orang tua, dan komunitas," ujar Darraz.
Ia menutup dengan pesan bahwa ekosistem pendidikan harus berubah dari "menjadi target" menjadi "benteng pertahanan" terhadap penyebaran paham intoleransi dan kekerasan. "Dengan strategi yang konsisten dan multi-segi, kita dapat menciptakan lingkungan yang mampu melindungi generasi muda dari segala bentuk ekstremisme," pungkasnya.
(abd)
Lihat Juga :