Reza Indragiri Ungkap 90% Pelaku Bullying Pernah Jadi Korban Perundungan
Sabtu, 15 November 2025 - 06:10 WIB
loading...
Ahli Psikologi Forensik sekaligus Konsultan Yayasan Lentera Anak Reza Indragiri Amriel. Foto/Dok SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel mengungkapkan bahwa 90% pelaku bullying atau perundungan pernah menjadi korban bully. Hal tersebut berdasarkan riset yang dia temukan baru-baru ini.
“Saya baru temukan data ini kurang lebih 2 hari lalu. Ada riset, kesimpulannya 90% pelaku bullying itu ternyata juga adalah korban bullying. Jadi, masalah tidak selesai,” ujar Reza dalam podcast To The Point Aja yang tayang di YouTube SindoNews, dikutip Sabtu (15/11/2025).
Reza mengatakan, korban bully tersebut mengompensasikan penderitaannya dengan cara menjadi pelaku. Polanya mirip seperti pelaku predator seksual.
Baca juga: Reza Indragiri: Kita Gagap Sekaligus Terlambat Menangani Perundungan
“Sebagian teori kan mengatakan mereka-mereka yang jadi korban kekerasan seksual sebelumnya tidak tertolong nantinya jadi predator gitu kan. Jadi proses regenerasinya kurang lebih sama. Cyberbullying pun begitu,” ujarnya.
Reza yang juga konsultan Yayasan Lentera Anak ini mengakui angka pelaku Cyberbullying yang pernah menjadi korban tersebut lebih sedikit. “Walaupun angkanya sedikit lebih moderat, yaitu 40%. 40% pelaku bullying di dunia maya itu ternyata juga juga adalah korban cyberbullying,” ujarnya.
Baca juga: Perundungan di Sekolah Masalah Serius, Reza Indragiri Beri Saran Ini ke Kemendikdasmen
Diketahui, polisi mengungkap bahwa siswa pelaku peledakan di area masjid SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara merasa tertindas dan menaruh dendam terhadap perlakuan orang-orang kepada dirinya. Hingga kemudian bergabung dengan grup kekerasan.
"Dari awal tahun yang bersangkutan sudah mulai melakukan pencarian-pencarian, perasaan merasa tertindas, kesepian, tidak tahu harus menyampaikan kepada siapa. Lalu yang bersangkutan juga memiliki motivasi dendam terhadap beberapa perlakuan terhadap yang bersangkutan," kata juru Bicara Densus 88 Anti Teror Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana saat konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Baca juga: Reza Indragiri: Pencegahan Tidak Cukup Mujarab Menghentikan Mata Rantai Perundungan
Pelaku kemudian mencari tahu terkait bagaimana cara orang meninggal dunia dan konten kekerasan lainnya. Bahkan, pelaku juga bergabung ke dalam grup kekerasan.
"Di situ menginspirasi bersangkutan, katena yang bersangkutan mengikuti komunitas di media sosial di mana di situ mereka mengagumi kekerasan. Motivasi yang lain ketika beberapa pelaku melakukan tindakan kekerasan lalu mengupload ke media tersebut, komunitas itu akan mengapresiasi sesuatu hal yang heroik. Di situ hal yang memprihatinkan," ujar dia.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meyakini bahwa pelaku peledakan SMAN 72 Jakarta terpengaruh tontonan di media sosial, bukan korban bullying. Pramono mengatakan, siswa-siswa SMAN 72 menyampaikan bahwa tidak ada bullying.
Mereka menyampaikan itu saat acara pengukuhan pelajar sebagai Pelajar Duta Ketenteraman dan Ketertiban Umum atau Prabu Jakarta. “Memang spekulasinya berbagai hal, tadi kan teman-teman dari SMAN 72 sendiri mereka membantah tidak benar dengan adanya bullying,” kata Pramono kepada wartawan, Kamis (13/11/2025).
“Saya baru temukan data ini kurang lebih 2 hari lalu. Ada riset, kesimpulannya 90% pelaku bullying itu ternyata juga adalah korban bullying. Jadi, masalah tidak selesai,” ujar Reza dalam podcast To The Point Aja yang tayang di YouTube SindoNews, dikutip Sabtu (15/11/2025).
Reza mengatakan, korban bully tersebut mengompensasikan penderitaannya dengan cara menjadi pelaku. Polanya mirip seperti pelaku predator seksual.
Baca juga: Reza Indragiri: Kita Gagap Sekaligus Terlambat Menangani Perundungan
“Sebagian teori kan mengatakan mereka-mereka yang jadi korban kekerasan seksual sebelumnya tidak tertolong nantinya jadi predator gitu kan. Jadi proses regenerasinya kurang lebih sama. Cyberbullying pun begitu,” ujarnya.
Reza yang juga konsultan Yayasan Lentera Anak ini mengakui angka pelaku Cyberbullying yang pernah menjadi korban tersebut lebih sedikit. “Walaupun angkanya sedikit lebih moderat, yaitu 40%. 40% pelaku bullying di dunia maya itu ternyata juga juga adalah korban cyberbullying,” ujarnya.
Baca juga: Perundungan di Sekolah Masalah Serius, Reza Indragiri Beri Saran Ini ke Kemendikdasmen
Diketahui, polisi mengungkap bahwa siswa pelaku peledakan di area masjid SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara merasa tertindas dan menaruh dendam terhadap perlakuan orang-orang kepada dirinya. Hingga kemudian bergabung dengan grup kekerasan.
"Dari awal tahun yang bersangkutan sudah mulai melakukan pencarian-pencarian, perasaan merasa tertindas, kesepian, tidak tahu harus menyampaikan kepada siapa. Lalu yang bersangkutan juga memiliki motivasi dendam terhadap beberapa perlakuan terhadap yang bersangkutan," kata juru Bicara Densus 88 Anti Teror Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana saat konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Baca juga: Reza Indragiri: Pencegahan Tidak Cukup Mujarab Menghentikan Mata Rantai Perundungan
Pelaku kemudian mencari tahu terkait bagaimana cara orang meninggal dunia dan konten kekerasan lainnya. Bahkan, pelaku juga bergabung ke dalam grup kekerasan.
"Di situ menginspirasi bersangkutan, katena yang bersangkutan mengikuti komunitas di media sosial di mana di situ mereka mengagumi kekerasan. Motivasi yang lain ketika beberapa pelaku melakukan tindakan kekerasan lalu mengupload ke media tersebut, komunitas itu akan mengapresiasi sesuatu hal yang heroik. Di situ hal yang memprihatinkan," ujar dia.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meyakini bahwa pelaku peledakan SMAN 72 Jakarta terpengaruh tontonan di media sosial, bukan korban bullying. Pramono mengatakan, siswa-siswa SMAN 72 menyampaikan bahwa tidak ada bullying.
Mereka menyampaikan itu saat acara pengukuhan pelajar sebagai Pelajar Duta Ketenteraman dan Ketertiban Umum atau Prabu Jakarta. “Memang spekulasinya berbagai hal, tadi kan teman-teman dari SMAN 72 sendiri mereka membantah tidak benar dengan adanya bullying,” kata Pramono kepada wartawan, Kamis (13/11/2025).
(rca)
Lihat Juga :