Dukungan Pemberian Gelar Pahlawan Soeharto Menguat
Jum'at, 07 November 2025 - 21:29 WIB
loading...
Dukungan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden Ke-2 RI Soeharto semakin menguat. Sejumlah tokoh adat, ormas, hingga elemen kepemudaan menyatakan dukungan pemberian gelar pahlawan. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Dukungan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden Ke-2 RI Soeharto semakin menguat. Sejumlah tokoh adat, organisasi masyarakat, hingga elemen kepemudaan menyatakan dukungan pemberian gelar pahlawan itu.
Ketua Umum DPP Angkatan Muda Sisingamangaraja XII (AMS XII) Paulus Sinambela menegaskan Soeharto adalah sosok pemimpin yang memberikan keteladanan dalam pengabdian dan pembangunan bangsa.
Baca juga: Akademisi soal Gelar Pahlawan Soeharto: Sudah Pimpin Indonesia Puluhan Tahun dan Banyak yang Dibangun
“Di masa pemerintahan beliau, kondisi ekonomi, politik, budaya, dan pembangunan berjalan dengan baik. Tak ada kegaduhan dan keriuhan, semua tenang dan tenteram,” ujar Paulus, Jumat (7/11/2025).
Dia mengingatkan perjalanan panjang Soeharto dalam sejarah bangsa tidak hanya terjadi saat memimpin Indonesia, tetapi juga ketika berjuang di medan perang.
“Beliau pernah menjadi pengawal Jenderal Besar Sudirman saat berjuang menggempur Belanda. Soeharto juga menjadi Panglima Mandala Pembebasan Irian Barat pada 11 Januari 1962. Selain itu, beliau menjaga NKRI dari Gerakan G30S/PKI dan menjadi pelopor penanaman nilai-nilai Pancasila kepada seluruh rakyat Indonesia,” jelasnya.
Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada almarhum Soeharto sangat layak dan sudah saatnya diwujudkan sebagai bentuk penghargaan negara atas jasa-jasanya.
Dukungan serupa juga datang dari Pimpinan Pusat Kolektif Kosgoro (PPK Kosgoro). Ketua Umum Kosgoro Hayono Isman mendukung penuh dan objektif terhadap pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto.
Soeharto adalah figur pemimpin yang tidak hanya berhasil menjaga stabilitas nasional, tetapi juga menegakkan Pancasila sebagai ideologi negara di tengah berbagai tantangan politik dan ideologi dunia.
Menurut dia, Soeharto menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menjaga persatuan bangsa dan memimpin Indonesia di masa penuh dinamika global. Sikap legawa Soeharto ketika mengundurkan diri pada Mei 1998 menjadi salah satu bukti jiwa kesatria seorang negarawan sejati.
“Soeharto menunjukkan sikap kesatria untuk berhenti dari jabatan Presiden RI demi persatuan bangsa dan mencegah perpecahan,” ujarnya.
Keberanian mengambil keputusan yang sulit demi menjaga keutuhan bangsa merupakan bentuk tertinggi pengorbanan seorang pemimpin. “Inilah semangat kepahlawanan sejati mengutamakan bangsa di atas kepentingan pribadi,” ucapnya.
Ketua Umum DPP Angkatan Muda Sisingamangaraja XII (AMS XII) Paulus Sinambela menegaskan Soeharto adalah sosok pemimpin yang memberikan keteladanan dalam pengabdian dan pembangunan bangsa.
Baca juga: Akademisi soal Gelar Pahlawan Soeharto: Sudah Pimpin Indonesia Puluhan Tahun dan Banyak yang Dibangun
“Di masa pemerintahan beliau, kondisi ekonomi, politik, budaya, dan pembangunan berjalan dengan baik. Tak ada kegaduhan dan keriuhan, semua tenang dan tenteram,” ujar Paulus, Jumat (7/11/2025).
Dia mengingatkan perjalanan panjang Soeharto dalam sejarah bangsa tidak hanya terjadi saat memimpin Indonesia, tetapi juga ketika berjuang di medan perang.
“Beliau pernah menjadi pengawal Jenderal Besar Sudirman saat berjuang menggempur Belanda. Soeharto juga menjadi Panglima Mandala Pembebasan Irian Barat pada 11 Januari 1962. Selain itu, beliau menjaga NKRI dari Gerakan G30S/PKI dan menjadi pelopor penanaman nilai-nilai Pancasila kepada seluruh rakyat Indonesia,” jelasnya.
Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada almarhum Soeharto sangat layak dan sudah saatnya diwujudkan sebagai bentuk penghargaan negara atas jasa-jasanya.
Dukungan serupa juga datang dari Pimpinan Pusat Kolektif Kosgoro (PPK Kosgoro). Ketua Umum Kosgoro Hayono Isman mendukung penuh dan objektif terhadap pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto.
Soeharto adalah figur pemimpin yang tidak hanya berhasil menjaga stabilitas nasional, tetapi juga menegakkan Pancasila sebagai ideologi negara di tengah berbagai tantangan politik dan ideologi dunia.
Menurut dia, Soeharto menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menjaga persatuan bangsa dan memimpin Indonesia di masa penuh dinamika global. Sikap legawa Soeharto ketika mengundurkan diri pada Mei 1998 menjadi salah satu bukti jiwa kesatria seorang negarawan sejati.
“Soeharto menunjukkan sikap kesatria untuk berhenti dari jabatan Presiden RI demi persatuan bangsa dan mencegah perpecahan,” ujarnya.
Keberanian mengambil keputusan yang sulit demi menjaga keutuhan bangsa merupakan bentuk tertinggi pengorbanan seorang pemimpin. “Inilah semangat kepahlawanan sejati mengutamakan bangsa di atas kepentingan pribadi,” ucapnya.
(jon)
Lihat Juga :