PP Persis Dukung Soeharto Diberi Gelar Pahlawan Nasional
Jum'at, 07 November 2025 - 19:57 WIB
loading...
Mural Presiden ke-2 RI Soeharto. Foto/Dok Sindo
A
A
A
JAKARTA - Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) mendukung Presiden ke-2 RI Soeharto mendapat gelar pahlawan nasional. Ketua Bidang Garapan (Bidgar) Siyasah dan Kebijakan Publik PP Persis Muslim Mufti menilai Pak Harto memiliki jasa besar bagi bangsa Indonesia.
“Sepanjang hidupnya, pengabdiannya untuk kepentingan bangsa dan negara. Beliau dengan gigih melakukan perjuangan kemerdekaan, di mana Soeharto berperan sebagai perwira militer yang aktif berjuang mempertahankan kedaulatan Indonesia dari tentara Belanda,” ujar Muslim, Jumat (7/11/2025).
Muslim berpendapat bahwa kiprah Soeharto dalam sejarah perjuangan bangsa tidak bisa dipandang sebelah mata. “Beliau menjabat sebagai anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) sejak 5 Oktober 1945,” imbuhnya.
Soeharto, kata dia, juga memiliki peran penting dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 pelaksana lapangan utama yang memimpin pasukan dari sektor barat untuk menyerbu Kota Yogyakarta. “Meskipun ia tidak menjadi satu-satunya tokoh penting dan inisiator utama serangan tersebut,” jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, pada saat itu Soeharto berpangkat Letnan Kolonel dan menjabat sebagai Komandan Wehrkreise III. “Ia berperan krusial dalam mengatur dan melaksanakan strategi militer yang telah direncanakan sesuai dengan instruksi yang diterimanya,” kata Muslim.
Dia pun membeberkan kiprah Soeharto dalam menumpas Gerakan 30 September 1965 (G30S) dan memulihkan keamanan nasional. “Selanjutnya Pak Harto juga berhasil menyelamatkan bangsa dan negara sekaligus memulihkan keamanan dan ketertiban dari Gerakan 30 September 1965,” ujarnya.
Dia menuturkan, Soeharto sebagai presiden berhasil menanamkan fondasi pembangunan nasional. “Beliau dengan meletakkan konsep Trilogi Pembangunan yang menekankan stabilitas, pertumbuhan, dan pemerataan,” kata dia.
Menurut Muslim, kekuatan utama kepemimpinan Soeharto terletak pada konsistensinya menjaga stabilitas nasional dan mendorong pembangunan jangka panjang. “Nilai-nilai seperti disiplin, keberlanjutan kebijakan, dan fokus pada hasil masih relevan diterapkan dalam konteks pembangunan Indonesia,” ujarnya.
Dia menambahkan, salah satu contoh nyata gagasan besar Soeharto adalah program Inpres Desa Tertinggal (IDT). Dia menilai IDT adalah program utama pengentasan kemiskinan yang dicanangkan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Tujuan utamanya untuk mempercepat dan memperluas upaya mengatasi kemiskinan di desa-desa tertinggal di seluruh Indonesia dengan memberikan bantuan modal usaha langsung kepada kelompok masyarakat miskin.
“Program ini dipandang sebagai upaya yang cukup efektif dalam mengatasi kemiskinan di beberapa daerah, meski pelaksanaannya juga menghadapi tantangan dan kritik terkait koordinasi serta potensi kegagalan di lapangan,” ungkapnya.
Di samping itu, Soeharto juga dianggapnya berjasa dalam lahirnya sistem perbankan syariah di Indonesia. “Soeharto berperan dalam proses lahirnya perbankan syariah di Indonesia, dengan adanya Bank Muamalat Indonesia, bank syariah pertama di Indonesia,” katanya.
Dia menuturkan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pendahulunya. “Sebagai bangsa yang berjiwa besar, tidak boleh melupakan sejarah dan jasa beliau. PP Persis sangat mendukung memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada almarhum Soeharto sebagai Pahlawan Nasional,” pungkasnya.
“Sepanjang hidupnya, pengabdiannya untuk kepentingan bangsa dan negara. Beliau dengan gigih melakukan perjuangan kemerdekaan, di mana Soeharto berperan sebagai perwira militer yang aktif berjuang mempertahankan kedaulatan Indonesia dari tentara Belanda,” ujar Muslim, Jumat (7/11/2025).
Muslim berpendapat bahwa kiprah Soeharto dalam sejarah perjuangan bangsa tidak bisa dipandang sebelah mata. “Beliau menjabat sebagai anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) sejak 5 Oktober 1945,” imbuhnya.
Soeharto, kata dia, juga memiliki peran penting dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 pelaksana lapangan utama yang memimpin pasukan dari sektor barat untuk menyerbu Kota Yogyakarta. “Meskipun ia tidak menjadi satu-satunya tokoh penting dan inisiator utama serangan tersebut,” jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, pada saat itu Soeharto berpangkat Letnan Kolonel dan menjabat sebagai Komandan Wehrkreise III. “Ia berperan krusial dalam mengatur dan melaksanakan strategi militer yang telah direncanakan sesuai dengan instruksi yang diterimanya,” kata Muslim.
Dia pun membeberkan kiprah Soeharto dalam menumpas Gerakan 30 September 1965 (G30S) dan memulihkan keamanan nasional. “Selanjutnya Pak Harto juga berhasil menyelamatkan bangsa dan negara sekaligus memulihkan keamanan dan ketertiban dari Gerakan 30 September 1965,” ujarnya.
Dia menuturkan, Soeharto sebagai presiden berhasil menanamkan fondasi pembangunan nasional. “Beliau dengan meletakkan konsep Trilogi Pembangunan yang menekankan stabilitas, pertumbuhan, dan pemerataan,” kata dia.
Menurut Muslim, kekuatan utama kepemimpinan Soeharto terletak pada konsistensinya menjaga stabilitas nasional dan mendorong pembangunan jangka panjang. “Nilai-nilai seperti disiplin, keberlanjutan kebijakan, dan fokus pada hasil masih relevan diterapkan dalam konteks pembangunan Indonesia,” ujarnya.
Dia menambahkan, salah satu contoh nyata gagasan besar Soeharto adalah program Inpres Desa Tertinggal (IDT). Dia menilai IDT adalah program utama pengentasan kemiskinan yang dicanangkan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Tujuan utamanya untuk mempercepat dan memperluas upaya mengatasi kemiskinan di desa-desa tertinggal di seluruh Indonesia dengan memberikan bantuan modal usaha langsung kepada kelompok masyarakat miskin.
“Program ini dipandang sebagai upaya yang cukup efektif dalam mengatasi kemiskinan di beberapa daerah, meski pelaksanaannya juga menghadapi tantangan dan kritik terkait koordinasi serta potensi kegagalan di lapangan,” ungkapnya.
Di samping itu, Soeharto juga dianggapnya berjasa dalam lahirnya sistem perbankan syariah di Indonesia. “Soeharto berperan dalam proses lahirnya perbankan syariah di Indonesia, dengan adanya Bank Muamalat Indonesia, bank syariah pertama di Indonesia,” katanya.
Dia menuturkan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pendahulunya. “Sebagai bangsa yang berjiwa besar, tidak boleh melupakan sejarah dan jasa beliau. PP Persis sangat mendukung memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada almarhum Soeharto sebagai Pahlawan Nasional,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :