KPK Umumkan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara Denny JA Capai Rp3,08 Triliun
Kamis, 06 November 2025 - 12:57 WIB
loading...
KPK menyebut harta kekayaan Presiden Komisaris Pertamina Hulu Energi (PHE) Denny Januar Ali atau Denny JA mencapai Rp3,08 triliun. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) melalui laman resmi e-LHKPN mempublikasikan laporan harta kekayaan Presiden Komisaris Pertamina Hulu Energi (PHE) Denny Januar Ali atau Denny JA . Berdasarkan data yang dirilis pada 27 Agustus 2025, total kekayaan Denny JA tercatat sebesar Rp3,08 triliun.
Angka tersebut menempatkannya sebagai salah satu penyelenggara negara dengan harta kekayaan terbesar di Indonesia. Publikasi tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, serta Peraturan KPK Nomor 2 Tahun 2020 tentang Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).
KPK mewajibkan seluruh pejabat publik, termasuk komisaris dan direksi BUMN, untuk melaporkan serta membuka kekayaan mereka secara periodik. “Saya melaporkan kekayaan saya apa adanya, sesuai permintaan undang-undang,” ujar Denny JA menanggapi publikasi tersebut, Kamis (6/11/2025).
Denny JA menyatakan keterbukaan bukan hanya kewajiban hukum, melainkan bagian dari spiritualitas kepemimpinan. Denny JA menegaskan, kekayaan adalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan. “Sebagian dari harta saya sudah dan akan terus saya sumbangkan untuk Denny JA Foundation,” ujarnya.
Baca juga: Setahun Prabowo-Gibran, LSI Denny JA: 74,8% Publik Puas Kinerja Presiden
Yayasan nirlaba tersebut kembali diaktifkan sejak 2023 dan berfokus pada sastra, seni, hak asasi manusia, serta spiritualitas. Melalui yayasan ini, Denny JA berupaya menggabungkan intelektualitas dengan kepedulian sosial — menumbuhkan kembali semangat berbagi di tengah masyarakat yang semakin individualistis.
Denny JA menempuh pendidikan hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) pada 1989, meraih gelar Master of Public Administration dari University of Pittsburgh, Amerika Serikat pada 1994, dan gelar Ph.D. dalam bidang Comparative Politics and Business dari Ohio University, Amerika Serikat pada 2001.
Sepanjang karier intelektualnya, Denny JA dikenal sebagai pemikir lintas bidang yang menghubungkan logika ekonomi, etika sosial, dan filosofi kemanusiaan. Karier publik Denny JA mulai dikenal luas sejak ia mendirikan Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA) yang merevolusi dunia survei politik nasional.
Baca juga: Sederhana dan Religius, Jenderal Kopassus Ini Larang Istrinya Naik Mobil Dinas
Denny JA tercatat sebagai konsultan politik yang mendampingi kemenangan lima Presiden RI berturut-turut, prestasi yang jarang terjadi di dunia politik internasional. Di bidang budaya, Denny JA juga dikenal sebagai penggagas genre “puisi esai”, bentuk sastra yang memadukan fakta sosial dengan ekspresi batin manusia. Genre ini telah berkembang hingga tingkat regional, dengan Festival Puisi Esai ASEAN yang kini memasuki edisi ke-4 (2024) dan mendapat dukungan dari Pemerintah Sabah, Malaysia.
Sepanjang kariernya, Denny JA menerima berbagai penghargaan bergengsi, antara lain BRICS Literature Award 2025, nominasi 10 sastrawan dunia mewakili Indonesia; Nominasi Nobel Sastra 2024, individu kedua dari Indonesia yang dinominasikan secara resmi; Guinness World Record 2018 – Largest Political Lesson; TIME Magazine 2015 – 30 Most Influential People on the Internet (bersama Barack Obama dan Justin Bieber);
ASEAN Literature Award 2020 – inovasi puisi esai; Lifetime Achievement Award Satupena 2021 – dedikasi pada literasi dan kebebasan berekspresi; dan International Lifetime Achievement Award – White Page Leadership 2024. Bagi Denny JA, setiap penghargaan bukan semata pengakuan, tetapi pengingat bahwa karya dan integritas adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Sebagai Presiden Komisaris PHE, Denny JA kini menjadi motor penggerak Roadmap Menuju 1 Juta Barrel per Day 2029, sebuah visi nasional untuk mewujudkan kemandirian energi Indonesia.
Visi tersebut berlandaskan tiga fondasi utama: efisiensi bisnis, inovasi teknologi, dan tanggung jawab lingkungan. “Energi bukan hanya tentang sumber daya alam, tetapi juga tentang sumber daya moral — bagaimana kemakmuran dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan,” ujar Denny JA.
Perjalanan hidupnya dimulai dari seorang aktivis sederhana di tahun 1980-an, hingga kini menjadi simbol bahwa integritas dan kerja keras dapat mengubah nasib seseorang, bahkan arah bangsanya.
Publikasi LHKPN oleh KPK dan keterbukaan Denny JA menegaskan bahwa transparansi dan integritas dapat berjalan seiring dengan prestasi dan tanggung jawab sosial.
“Transparansi ini bukan hanya memenuhi kewajiban hukum, tetapi juga membangun kepercayaan publik dan mendorong akuntabilitas di sektor publik, sehingga masyarakat dapat melihat langsung integritas para pemegang amanah negara,” tuturnya
Angka tersebut menempatkannya sebagai salah satu penyelenggara negara dengan harta kekayaan terbesar di Indonesia. Publikasi tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, serta Peraturan KPK Nomor 2 Tahun 2020 tentang Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).
KPK mewajibkan seluruh pejabat publik, termasuk komisaris dan direksi BUMN, untuk melaporkan serta membuka kekayaan mereka secara periodik. “Saya melaporkan kekayaan saya apa adanya, sesuai permintaan undang-undang,” ujar Denny JA menanggapi publikasi tersebut, Kamis (6/11/2025).
Denny JA menyatakan keterbukaan bukan hanya kewajiban hukum, melainkan bagian dari spiritualitas kepemimpinan. Denny JA menegaskan, kekayaan adalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan. “Sebagian dari harta saya sudah dan akan terus saya sumbangkan untuk Denny JA Foundation,” ujarnya.
Baca juga: Setahun Prabowo-Gibran, LSI Denny JA: 74,8% Publik Puas Kinerja Presiden
Yayasan nirlaba tersebut kembali diaktifkan sejak 2023 dan berfokus pada sastra, seni, hak asasi manusia, serta spiritualitas. Melalui yayasan ini, Denny JA berupaya menggabungkan intelektualitas dengan kepedulian sosial — menumbuhkan kembali semangat berbagi di tengah masyarakat yang semakin individualistis.
Denny JA menempuh pendidikan hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) pada 1989, meraih gelar Master of Public Administration dari University of Pittsburgh, Amerika Serikat pada 1994, dan gelar Ph.D. dalam bidang Comparative Politics and Business dari Ohio University, Amerika Serikat pada 2001.
Sepanjang karier intelektualnya, Denny JA dikenal sebagai pemikir lintas bidang yang menghubungkan logika ekonomi, etika sosial, dan filosofi kemanusiaan. Karier publik Denny JA mulai dikenal luas sejak ia mendirikan Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA) yang merevolusi dunia survei politik nasional.
Baca juga: Sederhana dan Religius, Jenderal Kopassus Ini Larang Istrinya Naik Mobil Dinas
Denny JA tercatat sebagai konsultan politik yang mendampingi kemenangan lima Presiden RI berturut-turut, prestasi yang jarang terjadi di dunia politik internasional. Di bidang budaya, Denny JA juga dikenal sebagai penggagas genre “puisi esai”, bentuk sastra yang memadukan fakta sosial dengan ekspresi batin manusia. Genre ini telah berkembang hingga tingkat regional, dengan Festival Puisi Esai ASEAN yang kini memasuki edisi ke-4 (2024) dan mendapat dukungan dari Pemerintah Sabah, Malaysia.
Sepanjang kariernya, Denny JA menerima berbagai penghargaan bergengsi, antara lain BRICS Literature Award 2025, nominasi 10 sastrawan dunia mewakili Indonesia; Nominasi Nobel Sastra 2024, individu kedua dari Indonesia yang dinominasikan secara resmi; Guinness World Record 2018 – Largest Political Lesson; TIME Magazine 2015 – 30 Most Influential People on the Internet (bersama Barack Obama dan Justin Bieber);
ASEAN Literature Award 2020 – inovasi puisi esai; Lifetime Achievement Award Satupena 2021 – dedikasi pada literasi dan kebebasan berekspresi; dan International Lifetime Achievement Award – White Page Leadership 2024. Bagi Denny JA, setiap penghargaan bukan semata pengakuan, tetapi pengingat bahwa karya dan integritas adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Sebagai Presiden Komisaris PHE, Denny JA kini menjadi motor penggerak Roadmap Menuju 1 Juta Barrel per Day 2029, sebuah visi nasional untuk mewujudkan kemandirian energi Indonesia.
Visi tersebut berlandaskan tiga fondasi utama: efisiensi bisnis, inovasi teknologi, dan tanggung jawab lingkungan. “Energi bukan hanya tentang sumber daya alam, tetapi juga tentang sumber daya moral — bagaimana kemakmuran dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan,” ujar Denny JA.
Perjalanan hidupnya dimulai dari seorang aktivis sederhana di tahun 1980-an, hingga kini menjadi simbol bahwa integritas dan kerja keras dapat mengubah nasib seseorang, bahkan arah bangsanya.
Publikasi LHKPN oleh KPK dan keterbukaan Denny JA menegaskan bahwa transparansi dan integritas dapat berjalan seiring dengan prestasi dan tanggung jawab sosial.
“Transparansi ini bukan hanya memenuhi kewajiban hukum, tetapi juga membangun kepercayaan publik dan mendorong akuntabilitas di sektor publik, sehingga masyarakat dapat melihat langsung integritas para pemegang amanah negara,” tuturnya
(cip)
Lihat Juga :