Peringatan Sumpah Pemuda: Jaga Kedaulatan Bangsa di Era Algoritma dan Metaverse
Selasa, 28 Oktober 2025 - 21:06 WIB
loading...
A
A
A
“Algoritma itu akan cenderung mengisolasi kita dengan yang dekat (serupa), sehingga terisolasi secara ideologis,” kata Ketua Program Studi Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
Kondisi inilah yang menjadi celah subur bagi infiltrasi propaganda ekstrem dan narasi kekerasan. Ulum mengingatkan bahwa ruang virtual yang imersif, seperti game di metaverse, kini telah menjadi inkubator baru radikalisasi.
Ulum menjelaskan para ekstremis menyisipkan ideologi itu melalui percakapan, simbol permainan, dan ruang chat tertutup. “Ini lebih personal dan sulit dideteksi,” tegasnya.
Ulum membandingkan metode perekrutan. Jika dulu kelompok ekstremis membutuhkan proses profiling manual selama berbulan-bulan untuk mencari target yang rentan, kini algoritma melakukannya secara instan dan halus. “Kalau sekarang, jauh lebih mudah. Mereka tinggal mencari user yang sering bermain di game-game bertema kekerasan. Secara psikologis, individu ini cenderung lebih mudah (dipengaruhi),” sebutnya.
Menghadapi tantangan ini, Ulum menegaskan bahwa perlunya pemerintah responsif terhadap potensi resiko ini. Pengembangan kecerdasan imitasi dalam hal penguatan ideologi bangsa menjadi penting untuk membangun imunitas ideologi dalam menyongsong Indonesia Emas di tahun 2045.
“Ketahanan siber tidak hanya tentang bagaimana how to detect, mendeteksi, tetapi juga bagaimana mencegah,” tandasnya.
Kondisi inilah yang menjadi celah subur bagi infiltrasi propaganda ekstrem dan narasi kekerasan. Ulum mengingatkan bahwa ruang virtual yang imersif, seperti game di metaverse, kini telah menjadi inkubator baru radikalisasi.
Ulum menjelaskan para ekstremis menyisipkan ideologi itu melalui percakapan, simbol permainan, dan ruang chat tertutup. “Ini lebih personal dan sulit dideteksi,” tegasnya.
Ulum membandingkan metode perekrutan. Jika dulu kelompok ekstremis membutuhkan proses profiling manual selama berbulan-bulan untuk mencari target yang rentan, kini algoritma melakukannya secara instan dan halus. “Kalau sekarang, jauh lebih mudah. Mereka tinggal mencari user yang sering bermain di game-game bertema kekerasan. Secara psikologis, individu ini cenderung lebih mudah (dipengaruhi),” sebutnya.
Menghadapi tantangan ini, Ulum menegaskan bahwa perlunya pemerintah responsif terhadap potensi resiko ini. Pengembangan kecerdasan imitasi dalam hal penguatan ideologi bangsa menjadi penting untuk membangun imunitas ideologi dalam menyongsong Indonesia Emas di tahun 2045.
“Ketahanan siber tidak hanya tentang bagaimana how to detect, mendeteksi, tetapi juga bagaimana mencegah,” tandasnya.
(shf)
Lihat Juga :