Ulta Levenia Ungkap Gaya Kepemimpinan Presiden Prabowo
Jum'at, 24 Oktober 2025 - 20:46 WIB
loading...
Peneliti keamanan nasional, Ulta Levenia dalam Sindo Prime di Podcast 8 Jam Nonstop SindoNews yang digelar untuk menandai setahun pemerintahan Prabowo-Gibran, pada Jumat (24/10/2025). Foto/YouTube SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Setahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sejumlah program prioritas mulai tercapai dan terus genjot. Gaya kepemimpinannya pun disorot. Seperti apa pandangan Ulta Levenia, peneliti keamanan nasional tentang Prabowo?
"Harusnya masyarakat Indonesia itu bersyukur, punya presiden (Prabowo Subianto) yang saat kita mengutarakan sesuatu didengarkan," ujar Ulta Levenia dalam Sindo Prime di Podcast 8 Jam Nonstop SindoNews yang digelar untuk menandai setahun pemerintahan Prabowo-Gibran, pada Jumat (24/10/2025).
Baca juga: Rapor Satu Tahun Asta Cita Prabowo-Gibran, Hensat: Hantu-hantu Harus Diselesaikan
Ulta menjelaskan bahwa dalam penilaiannya, gaya kepemimpinan Prabowo sejauh ini tidak tampak militeristik meskipun berasal dari militer.
"Misalnya program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG). Kan ada masalah keracunan. Tapi mengatasinya kan tidak dengan tangan besi. Masukan didengarkan dan kemudian dievaluasi," sebutnya.
Sementara itu, soal utang kereta cepat Whoosh sebesar Rp116 triliun peninggalan pemerintah sebelumnya, Ulta menyebut harus dilihat dulu awal perjanjiannya.
Baca juga: Setahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, SindoNews Gelar Podcast 8 Jam Nonstop
"Ini harus kita pelajari dulu, kenapa dulu memilih ini, kenapa harus memilih kereta itu dari China. Kita harus mengkaji dulu latar belakangnya (keputusan itu)," sebut Ulta.
"Menurut saya, Pak Prabowo melalui Kemlu dan Kemhan sangat terbuka peluangnya untuk membuka kembali negosiasi tentang Whoosh ini," tandasnya.
"Harusnya masyarakat Indonesia itu bersyukur, punya presiden (Prabowo Subianto) yang saat kita mengutarakan sesuatu didengarkan," ujar Ulta Levenia dalam Sindo Prime di Podcast 8 Jam Nonstop SindoNews yang digelar untuk menandai setahun pemerintahan Prabowo-Gibran, pada Jumat (24/10/2025).
Baca juga: Rapor Satu Tahun Asta Cita Prabowo-Gibran, Hensat: Hantu-hantu Harus Diselesaikan
Ulta menjelaskan bahwa dalam penilaiannya, gaya kepemimpinan Prabowo sejauh ini tidak tampak militeristik meskipun berasal dari militer.
"Misalnya program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG). Kan ada masalah keracunan. Tapi mengatasinya kan tidak dengan tangan besi. Masukan didengarkan dan kemudian dievaluasi," sebutnya.
Sementara itu, soal utang kereta cepat Whoosh sebesar Rp116 triliun peninggalan pemerintah sebelumnya, Ulta menyebut harus dilihat dulu awal perjanjiannya.
Baca juga: Setahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, SindoNews Gelar Podcast 8 Jam Nonstop
"Ini harus kita pelajari dulu, kenapa dulu memilih ini, kenapa harus memilih kereta itu dari China. Kita harus mengkaji dulu latar belakangnya (keputusan itu)," sebut Ulta.
"Menurut saya, Pak Prabowo melalui Kemlu dan Kemhan sangat terbuka peluangnya untuk membuka kembali negosiasi tentang Whoosh ini," tandasnya.
(shf)
Lihat Juga :